Filosofi Petani dalam Memilih Pemimpin


Kantor Pekon Siliwangi


Pemilihan kepala pekon di kabupaten Pringsewu dilaksanakan serentak di 9 kecamatan pada tanggal 10/10/2018, mendatang.  Pekon Siliwangi yang termasuk kedalam salah satu pekon atau desa di wilayah administrasi Kabupaten Pringsewu juga tengah bersiap menyambut pesta demokrasi tersebut.

Sebagai warga masyarakat, siapapun itu, tentu berharap pemimpin pekon (Desa) merupakan sosok yang berdedikasi tinggi, mencurahkan kemampuan yang ia miliki untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik serta mampu menunaikan harapan-harapan warga masyarakatnya.
Memilih dan menentukan sosok pemimpin seperti itu tidaklah mudah, apalagi terkadang masyarakat cenderung tergoda oleh janji-janji politik. Lebih parah lagi, bila masyarakat terpapar oleh budaya politik uang. Jadi memilih pemimpin tidak lagi berdasarkan penilaian objektif terhadap kandidat calon kepala pekon. 

Kadang ditengah-tengah masyarakat masih sering terdengar ungkapan-ungkapan “saya akan menentukan hak pilih kepada siapa yang lebih besar memberi barang dan uang”. Disitulah letak awal mulanya kita melakukan kesalahan, padahal kita bersama tahu bahwa politik uang akan menjurus kepada tindakan korupsi ketika si calon tersebut terpilih.

Menentukan sosok seorang pemimpin yang ideal memang tidaklah mudah. Namun, ada sebuah kebiasaan sederhana yang lazim dilakukan petani ketika mereka hendak bercocok tanam.

Seorang petani yang hendak bercocok tanam, contohnya Padi, biasa menentukan bibit terlebih dahulu. Dipilih bibit atau parietas unggul, dengan harapan pertumbuhan tanamannya baik, tahan terhadap serangan hama dan kelak hasil panennya memuaskan. 

Sebagaimana penuturan Odis, kakek berumur 90 tahun. Beliau seorang petani yang sejak 1966 berada di Pekon Siliwangi.

“Dalam memilih calon lurah sebetulnya tidaklah sulit, apalagi hanya sebatas ruang lingkup desa. Kita kan sebagai masyarakat sudah hidup dan saling mengenal sejak lama. Masyarakat tinggal menilai saja karakter calon lurahnya dan lihat juga latar belakang keluarganya. Kalau si calon dan silsilah keluarganya baik, misal jujur, rajin beribadah, rela berkorban untuk kepentingan masyarakat, kemungkinan besar ia akan mampu membawa kebaikan pada desa ini,” ucapnya yang juga seorang anggota Pejuang 45 (Veteran).
Hal itu tak ubahnya menentukan calon pemimpin, relevan rasanya bila salah satu kriteria menentukan calon pemimpin diawali dengan mengamati bibit-bebetnya. Karena secara tidak langsung, bila orang tua, kakek buyutnya baik, ada harapan besar bahwa sosok calon pemimpin yang berasal dari keluarga baik itu akan mewarisi kebiasaan-kebiasaan baik sebagai manivestasi dari pendidikan yang ia peroleh dari keluarganya.
Sosok pemimpin tentunya sangat berpengaruh terhadap daerah dan masyarakat yang dipimpinnya. Kebijakan-kebijakan seorang pemimpin yang jujur dan memiliki dedikasi tinggi terhadap desanya tentu akan berbeda dengan sosok pemimpin yang mencalonkan dirinya atas motiv ekonomi dan kekuasaan. Maju mundurnya suatu wilayah bergantung pada sosok kepemimpinan. Itulah perlunya kita cerdik dalam menentukan sosok seorang pemimpin.
Demikianlah pemikiran sederhana dari seorang petani, yang menitikberatkan sudut pandang keturunan dalam menentukan calon pemimpin. Karena bagaimana pun juga, sosok pemimpin yang memiliki karakter unggul, dalam arti unggul dalam berkepribadian, pengetahuan, keterampilan, dan lain-lainnya sebagai penunjang ia dalam menjalankan pemerintahan sangatlah penting.


Previous Post Next Post