Suatu hari pernah membaca sebuah buku dengan judul Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi. Pengarangnya Arvan Pradiansyah, seorang pembicara publik, fasilitator, dan kolumnis di beberapa media massa nasional, salah satunya harian Republika. Tak hanya itu, ia pun senantiasa menjadi motivator dan narasumber diberbagai radio dan acara talkshow.
Sifat keingin tahuan saya seolah-olah terpacu ketika membaca judul buku tersebut. Mengapa demikian? Pertama, saya rasa semua tau bahwa menjalani kehidupan yang bahagia adalah harapan semua orang. Kedua, jangan menjadi politisi, kalimat itu seolah-olah berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini dimana justru orang berbondong-bondong masuk partai politik dan menjadi politisi.
Ketika membaca
beberapa lembar bab pertama, saya menemukan kalimat yang kemudian merangsang
saya untuk menulis, kalimat itu “Jadi Caleg, Buat Apa?
Sekali lagi,
saya seolah-olah terhipnotis dan hanyut dalam lembaran narasinya. Di beberapa lembar
halaman sub judul ini Arvan menceritakan tentang budget atau biaya yang dibutuhkan untuk mencalonkan diri jadi calon
legislatif “caleg”.
Ia pun mulai
menceritakan beberapa pengalamannya terutama sekali tentang sosok seorang
presenter Metro TV yang alih profesi sebagai caleg dari Partai Golkar.
Sosok yang dimaksud adalah Meutya Hafid yang sebelumnya pernah disandera selama 168 jam oleh
tentara Irak ketika bertugas.
Menurut Muetya
idealnya biaya yang dibutuhkan oleh seorang kandidat caleg adalah sekitar Rp. 1
miliar. Ia pun menegaskan bahwa biaya itu tidak berlebihan, artinya ini biaya
yang standar saja untuk seorang yang ingin mencalonkan diri sebagai anggota
legislatif.
Sejenak terlintas
pertanyaan di kepala saya, dengan biaya sebanyak itu apakah mungkin sebagai
masyarakat biasa yang berpenghasilan pas-pasan bisa melenggangkan dirinya duduk
di kursi gedung perwakilan rakyat? Jawabannya pun
bisa mungkin bisa saja tidak, karena kita pun tidak tahu jalan takdir
seseorang.
Rasa-rasanya memang logis ketika perkembangan demokrasi saat ini mengarah kepada kapitalisasi politik, dimana keterpilihan sangat ditentukan oleh popularitas dan dukungan finansial, prinsip kesamaan di dalam kesempatan menjadi semu. Menjadi wajar bila pemegang modal dan pemilik popularitas yang bebas hambatan melenggang menuju kursi kekuasaan.
Melihat besarnya biaya yang harus dikeluarkan, orang awam seperti saya tentu bertanya-tanya. Apa sebetulnya yang membuat para caleg itu berani mengeluarkan modal sebesar itu untuk sesuatu yang belum pasti? Bagaimana jika mereka kalah atau tidak terpilih jadi anggota legislatif? Sedangkan mereka sudah membuang uang ratusan juta rupiah untuk menjadi caleg.
Melihat besarnya biaya yang harus dikeluarkan, orang awam seperti saya tentu bertanya-tanya. Apa sebetulnya yang membuat para caleg itu berani mengeluarkan modal sebesar itu untuk sesuatu yang belum pasti? Bagaimana jika mereka kalah atau tidak terpilih jadi anggota legislatif? Sedangkan mereka sudah membuang uang ratusan juta rupiah untuk menjadi caleg.
Arvan pun
membuat skenario untuk menggambarkan pertaruhan politik ini. Menurutnya setiap
pertandingan itu ada dua kemungkinan, menang dan kalah.
Jika kalah
itu merupakan hal yang menyakitkan dan pengalaman pahit yang tak terlupakan. Kalaupun
berhasil dan terpilih jadi anggota legislatif, lantas apa yang ada dalam kepala
kita sekarang?
Apakah setelah
terpilih jadi anggota legislatif, kita akan langsung berjuang untuk rakyat? Saya
yakin orang tidak akan begitu saja percaya dan bisa saja mengatakan anda sedang
berbohong. Bukan tidak percaya bahwa ada orang yang mau berjuang untuk rakyat.
Tapi menurut
keyakinannya, Arvan mengatakan bahwa sebelum anggota legislatif itu memulai
perjuangan yang suci itu, ada sebuah “perjuangan” lain yang sedang berkecamuk
di dalam dirinya.
Perjuangan yang
dimaksud Arvan adalah berjuang untuk mendapatkan kembali uang yang digunakan
pada saat pencalonan.
Ia begitu
kritis mengomentari hal ini. Menurutnya tidak mungkin ada orang yang mau
mengorbankan uang dalam jumlah yang sangat besar bila ia tidak yakin akan mendapatkan
keuntungan yang sepadan. Ini memang sudah menjadi hukum alam. Sudah menjadi
fitrah manusia, ungkapnya.
Bila hal itu
nyata terjadi, lantas dari mana para anggota legislatif itu mendapatkan kembali
uangnya? Apakah dari gaji bulanannya? Apakah modal 1 miliar itu akan terganti
selama duduk di kursi parlemen?
Dalam bukunya
itu Arvan mengatakan bahwa kekuasaanlah yang akan mengembalikan itu semua. Kekuasaan
merupakan sebuah aset yang memiliki potensi yang luar biasa.
Mau tidak
mau, dengan mahalnya biaya demokrasi seperti ini sangat berpotensi melahirkan
para politisi yang berparadigma bisnis. Semua tindak-tanduknya hanya diukur
berdasarkan uang, segalanya harus jadi uang.
Di era
demokrasi seperti ini, peran legislatif menguat. Berbagai pengambilan keputusan
senantiasa melibatkan anggota dewan perwakilan rakyat. Atas kenyataan ini
anggota legislatif berpotensi membisniskan kekuasaan. Dan tak jarang segala keputusan yang diambil mengatasnamakan mandataris rakyat.
