Membicarakan alam dan suku bangsa yang ada di Indonesia memang tidak akan ada habis-habisnya. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam sensus tahun 2010 mencatat bahwa kelompok etnik atau suku bangsa yang tersebar di seluruh Indonesia berjumlah sekitar 1.340 suku bangsa.
Sedangkan Suku Boti yang akan kita perbincangkan adalah salah satu kelompok suku yang terdapat di Nusa Tenggara Timur. Keberadaannya menjadi penting kita ketahui karena memiliki kebiasaan dan kearifan lokal yang unik serta luar biasa dan tidak jarang membuatnya menjadi inspirasi banyak orang.
Perihal hubungannya dengan alam dan sesama, Suku Boti memiliki keunikan dan kekhasannya tersendiri, berbeda dengan kebiasaan suku lainnya di NTT maupun di Indonesia pada umumnya. Beberapa hal yang masih melekat dan telah menjadi kebiasaan di dalam Suku Boti diantaranya mengajarkan kearifan dan hubungan yang harmonis antara Suku Boti dengan alam.
Bagi mereka alam dianggap menjadi faktor yang sangat penting, hal itu didorong oleh kepercayaan Halaika yang sampai saat ini masih dianutnya. Halaika merupakan ajaran kepercayaan kepada dua penguasa alam yaitu Uis Pah dan Uis Neno.
Dalam hal ini Erna Suminar dalam jurnal Ensains menyebutkan bahwa "Bagi masyarakat Boti, alam tak terpisahkan dengan mereka. Tuhan bagi mereka hadir melalui alam itu sendiri. Karenanya, orang-orang Boti mengenal upacara Poi Pah. Ritual Poi Pah ini dimaksudkan sebagai pemujaan kepada Penguasa Alam Dunia (Uis Pah)."
Dalam hal ini Erna Suminar dalam jurnal Ensains menyebutkan bahwa "Bagi masyarakat Boti, alam tak terpisahkan dengan mereka. Tuhan bagi mereka hadir melalui alam itu sendiri. Karenanya, orang-orang Boti mengenal upacara Poi Pah. Ritual Poi Pah ini dimaksudkan sebagai pemujaan kepada Penguasa Alam Dunia (Uis Pah)."
Wanadri.or.id juga merilis hal demikian, bahwa Uis Pah sebagai mama atau ibu yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta beserta isinya termasuk manusia. Sedangkan Uis Neno sebagai papa atau bapak yang merupakan penguasa alam baka yang akan menentukan seseorang bisa masuk surga atau neraka berdasarkan perbuatannya di dunia.
Saking cintanya kepada alam, Suku Boti di Nusa Tenggara Timur menerapkan peraturan adat yang tidak boleh dilanggar oleh setiap warganya. Apabila ada warga Boti yang melanggar peraturan adat, maka ia akan dikucilkan dan bahkan bisa diusir dari boti. Beberapa aturan adat tersebut adalah sebagai berikut:
Saking cintanya kepada alam, Suku Boti di Nusa Tenggara Timur menerapkan peraturan adat yang tidak boleh dilanggar oleh setiap warganya. Apabila ada warga Boti yang melanggar peraturan adat, maka ia akan dikucilkan dan bahkan bisa diusir dari boti. Beberapa aturan adat tersebut adalah sebagai berikut:
- Suku Boti melarang warganya untuk menebang pohon, jika tidak ada kebutuhan yang mendesak. Sehingga tidak heran jika samapai saat ini apabila di perkampungan Boti terlihat sangat teduh dan rindang. Ini berbeda sekali dengan daerah nusa tenggara timur kebanyakan, yang kering dan gersang.
- Menjaga kebersihan lingkungan. Di dalam perkampungan boti, terutama di dalam area kerajaannya, tidak ada tercecer sampah di jalanan. Hampir setiap saat, para perempuan boti membersihkan tanah perkampungan dari sampah.
- Larangan memotong Rambut bagi kaum pria. Para pria Boti dewasa tidak memotong rambut. Mereka membiarkan rambut mereka panjang, dan biasanya dikuncir ke atas, layaknya prajurit pada masa lalu.
- Anak laki-laki tidak dilarang merantau. Jika keluarga Boti memiliki lebih dari satu anak laki-laki, maka salah satunya tidak boleh meninggalkan kampung Boti dan bersekolah tinggi. Si anak laki-laki itu diharuskan untuk tinggal di dalam desa Adat Boti, untuk menjaga keberlangsungan adat boti secara turun temurun.
- Dilarang berburu hewan di kawasan perkampungan boti, ini bertujuan untuk menjaga hewan-hewan agar lesatari hidup di tanah boti, dan tidak punah. Jika ingin berburu, maka itu dilakukan di luar perkampungan Boti.
Selain sangat menghargai alam, masyarakat Boti tercatat sangat peduli sesama. Hal itu tergambar dari aturan hukum yang berlaku disana. Bila terdapat salah satu warga yang mencuri di desa tersebut maka pencuri itu tidak akan dihakimi secara fisik. Justru kebalikannya, si pencuri tersebut akan dibantu warga dengan diberikan benda yang sama dengan yang ia curi. Si Pencuri oleh warga Boti dianggap sedang dalam keadan sulit dan sangat membutuhkan. Sehingga sebagai suku yang sama, sudah merupakan kewajibannya untuk membantu.
Kondisi Umum Suku Boti Di Nusa Tenggara Timur
Suku Boti merupakan keturunan dari suku asli pulau Timor, Atoni Metu. Wilayah Boti terletak sekitar 40 km dari kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, So’e. Secara administratif kini menjadi Desa Boti kecamatan Kie. Karena letaknya yang sulit dicapai, yaitu berada diantara pegunungan, Desa Boti seakan tertutup dari peradaban modern dan perkembangan zaman.
Bila kita lihat dari kaca modern tidak berlebihan bila ini dinilai sebuah ironi. Satu sisi kearifan lokal memang sudah seharusnya dijaga dan dipertahankan, disisi lain ketertutupannya terhadap peradaban modern dan perkembangan zaman terkesan mengorbankan sekian ratus warga di sana hidup dalam keterbatasan. Menjadi bijak kiranya antara kearifan lokal dan kemajuan daerah berjalan beriringan, supaya warga Suku Boti turut merasakan kemajuan zaman.
Apalagi melihat kenyataan yang berlangsung di sana, konon untuk menunjang kelangsungan hidupnya Suku Boti hanya berprofesi sebagai petani kendati tanah di Desa Boti berkontur tandus dan berkapur.
Dengan kontur alam yang sangat rumit dan jauh dari mata air, membuat mereka banyak menghabiskan waktu untuk memikul air dengan peralatan sekedarnya. Air menjadi hal yang sangat vital sekaligus tidak mudah untuk di dapat. Itu sebabnya, Suku Boti harus selalu survival menghadapi kondisi alam yang tidak ramah. Untuk menghadapi alam yang sangat keras, mereka berupaya untuk meminta bantuan-bantuan dari kekuatan yang berada di luar nalar, yakni kekuatan supranatural melalui upacara-upacara ritus religius.
Menurut Erna Suminar dalam jurnal Ensains menyebutkan musim hujan di sana hanya datang tiga bulan dalam setahun dan mereka akan menghadapi kemarau panjang yang lamanya sembilan bulan.
Untuk berkompromi dengan alam dan bercocok tanam Suku Boti terbilang sudah menjadi ahlinya. Mereka mengerti jenis tanaman dan bagaimana cara menanamnya, lebih canggihnya mereka juga mampu membaca kondisi alam yang cocok untuk mereka mulai menanam.
Jenis tanaman yang menjadi harapan warga Suku Boti sekaligus menjadi makanan pokok mereka adalah tanaman jagung. Jagung di tanam saat musim
hujan yang datang tiga bulan dalam setahun. Lalu mereka
menyimpannya sebagian besar untuk menghadapi kemarau panjang yang lamanya sembilan bulan. Di
samping bertani, Suku Boti juga beternak sapi, babi, ayam dan kambing. Usaha pertanian dan
peternakan mereka umumnya hanya cukup untuk menghidupi mereka sendiri.
Bila kita amati lebih jauh lagi, prinsip kehidupan Suku Boti di Nusa Tenggara Timur sedikit banyaknya menggambarkan persamaan dengan Suku Samin di Jawa Tengah dan Suku Baduy di Lebak, Banten. Ketiganya terbaca secara nyata oleh kita, bila sampai saat ini mereka masih menutup diri dari perkembangan modern.
Baca juga: Alasan Suku Baduy Tolak Bantuan Pemerintah
Dan menurut beberapa peneliti kebiasaan yang mereka pertahankan yang cenderung bersifat paganisme dalam aspek religinya akan selalu berkorelasi dengan bagaimana mereka
menjaga lingkungan hidup sebagai pusat kehidupan mereka. Akan sangat berbeda dengan
orang-orang yang modern dan berpendidikan tinggi serta mengkonsumsi teknologi dengan sangat
rakus yang sekaligus merusak lingkungan hidup yang mereka tinggali.
