[Update] Banjir Kota Metro, diduga ini Penyebabnya

Advertisement

[Update] Banjir Kota Metro, diduga ini Penyebabnya

Beranda Desa
Monday, 27 January 2020

Kota Metro - Hujan yang mengguyur Kota Metro pada 26 Januari 2019 kurang lebih berlangsung selama dua jam.

Pemukiman Warga Kampung Sawah Kota Metro. Foto  Fb @Alslintangsumatera

Namun hal itu sudah bisa membuat beberapa kelurahan di Kota Metro terendam banjir.

Hal ini tentu menyisakan pertanyaan, terutama lokasi yang pada tahun-tahun sebelumnya tidak pernah terkena banjir, pada musim hujan kali ini harus turut merasakan terjangan air bah tersebut.

Seperti di perumahan Golden Village, menurut pengakuan warga sekitar baru hujan kali ini lokasi di sekitar kediamannya ikut terendam.

"Baru ini, kemarin-kemarin hujannya lebih deras dan lama dibanding ini tapi tidak apa-apa. Dan baru kali ini hujan tidak deras dan selama hujan sebelumnya tapi airnya sudah ke mana-mana," jelas Novita, warga Perum Golden Village, Ganjar Asri, Metro Barat-Kota Metro, dikutip dari Radarmetro.com, Minggu (26/1/2020).

Masih dilansir Radarmetro.com, dugaan sementara penyebab terjadinya genangan air setinggi 20 sentimeter di Perum tersebut ialah akibat saluran irigasi yang ada tidak lagi mampu menampung curah hujan yang terbilang cukup tinggi.

Tama, salah seorang warga sekitar turut memperkuat dugaan "Ya ini dicari dulu penyebabnya, karena baru kali ini. Sebelumnya selama saya di sini tidak pernah terjadi begini. Takutnya ada yang mampet atau gimana kan,"tukasnya.

Sebagai warga Kota Metro atau dikalangan pemerhati lingkungan tentunya ini menyisakan banyak pertanyaan, apa sebenarnya penyebab dari ini semua?

Kalau boleh meminjam kalimat seorang dosen pada perguruan tinggi swasta di Kota Metro, saat menyampaikan kultum ba'da Sholat Dzuhur.

Kurang lebih kalimatnya seperti ini "air sudah kehilangan tempatnya, maka jangan salahkan air. Kalau kita mau berandai-andai mungkin air itu bicara kepada kita (manusia) bahwa lokasi ini adalah tempat saya (kata air) bukan tempat kamu (manusia)."

Maksudnya adalah mungkin seperti ini, bila kita cermati, di Kota Metro, yang dulunya sebagai lokasi resapan air, kini telah berubah menjadi komplek pemukiman atau komplek pertokoan yang serba cor-coran beton. Yang itu mungkin salah satu dimaksud "air kehilangan tempatnya".

Untuk memperjelas ini penulis kembali menggali informasi terkait banjir di daerah perkotaan.

Hingga menemukan artikel berjudul Fenomena Banjir di Wilayah Perkotaan, oleh Tarsoen Waryono, dilansir staf.blog.ui.ac.id

Perkembangan suatu kota secara fisik, dicirikan oleh meningkatnya jumlah sarana dan prasarana dan infrastrukturnya yang secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan berubahnya penggunaan tanah.

Perubahan penggunaan tanah yang pada awalnya bersifat pedesaan, kini berubah menjadi wilayah urban (perkotaan).

Dalam kaitannya dengan siklus hidrologi, memperlihatkan bahwa karakteristik tanah pedesaan, mampu mengendalikan proses sirkulasi hujan secara alamiah, karena daya dukung kemampuan tanah terhadap resapannya.

Berbeda dengan penggunaan tanah di perkotaan, karena padatnya bangunan pancang dan beton, hingga menyebabkan pengaturan air secara alamiah relatif terganggu dan dicirikan oleh besaran laju limpasan air, bahka karena kurang mampunya daya tampung aliran (saluran drainase dan bandan sungai), sering menyebabkan genangan (banjir).

Beberapa paragraf di atas sedikitnya telah memberikan jawaban atas dugaan salah satu faktor, dari banyak faktor yang menyebabkan banjir di kota ini.

Tentu kenyataan ini menjadi PR kita bersama, memikirkan dan memberikan solusi, bagaimana supaya perkembangan kota yang diidentikan dengan serba beton tadi selaras dengan siklus alam.

"Bila musim penghujan tidak kebanjiran dan tiba musim kemarau tidak kekeringan" sesuai dengan sebutan yang melekat pada Kota Metro.

"Bumi Sai Wawai" dalam aksara Lampung mengandung arti sebuah upaya yang berkelanjutan menjadikan kota ini sebagai bumi yang bagus, indah dan asri.



Penulis: Barnas Rasmana (alumnus UM Metro).