Rumah Kosong

Advertisement

Rumah Kosong

Beranda Desa
Monday, 23 March 2020

Sudah lama pandangan ini tidak tertuju kepada segala sesuatu yang ada di desa. Mulai dari pergaulan masyarakat, kebudayaan, tumbuhan, hewan, hingga soal cara para pejuang kehidupan mensyukuri segala yang Allah SWT anugerahkan di desanya. 

Di tengah gencarnya kampanye pembangunan daerah pedesaan, saya sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh besar di desa justru angkat kaki mencari peruntungan di kota. Lagi-lagi itu semua penulis insyafi sebagai ketidaksabaran dalam mengolah segala potensi yang ada di desa. Yang bila ditekuni, disyukuri tidak menutup kemungkinan akan memberi kecukupan pada penghuninya.

Dan dalam sebuah kesempatan Work From Home atau bekerja di rumah, sebagai anjuran pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Virus Corona yang tengah merajalela, dua hari sudah saya berada di tengah desa ini. 

Alhamdulillah situasinya kondusif,  interaksi masyarakat tampak normal tidak terjadi konflik dan sentimen sosial. Kesehatan masyarakat juga belum ada yang dikabarkan terpapar Virus Corona, untuk hal satu ini mudah-mudahan jangan sampai ada.

Hanya saja, kaum mudanya hilang dari peredaran. Pos-pos yang biasa diisi oleh kegiatan pemuda desa ini, seperti fasilitas olah raga nampak kosong tak berpenghuni, belum lagi sektor lainnya.

Hingga dalam dua hari ini, saya mulai terngiang oleh visi yang dulu sempat menjadi motto bersama "apa yang bisa kita perbuat untuk tanah kelahiran tercinta?" Ternyata alur pikiran itu berjalan menuju sebuah rumah yang dulu pernah aku dan rekan sebaya ku tinggali bersama.

Dengan kesadaran, 3 tahun lalu kami berserikat dalam sebuah naungan organisasi perberdayaan masyarakat (khususnya pemuda), bercita-cita berjuang bersama dengan muaranya ialah menuju kesejahteraan masyarakat desa, minimal kita generasi muda. 

Sejahtera yang kami bayangkan tempo hari adalah tercukupinya kebutuhan sandang, pangan dan papan generasi muda, mengentaskan pengangguran dan meminimalisir berbagai kenakalan yang kerap timbul di masa-masa remaja.

Even-even kepemudaan diselenggarakan, bergeser mengolah potensi desa, membangun kesadaran sosial, gotong royong, dan hidup bertenggang rasa mulai kembali ditumbuhkan. Itu semua kita lakukan sebagai hasil kesepakatan untuk menjaga identitas kebudayaan masyarakat desa serta mengembangkan segala potensi yang ada.

Ya....Desa dengan berbagai macam sebutannya pasti dihuni oleh lintas generasi. Sementara pemuda adalah sekelompok generasi yang diharapkan mampu meneruskan estafet pembangunan desa di masa mendatang.

Pemuda dirasa harus mengerti apa yang sedang terjadi di desanya, yang dibutuhkan desanya dan potensi apa yang bisa dikelola sebagai penghidupan menuju kesejahteraan bersama.

Sayang belum sampai kepada yang dicita-citakan, rumah yang kita bangun itu harus kosong ditinggal penghuninya. Halamannya mungkin sudah ditumbuhi semak belukar. Bila diibaratkan, kini hanya tinggal album kenangan yang masih menempel di dindingnya yang mulai memusam.

Sempat beberapa orang mengetuk pintu, membangunkan dan mengingatkan untuk segera kembali mengisi beranda dan ruang-ruang rumah itu. Katanya "Masyarakat rindu peran serta pemuda dalam pembangunan desa." Namun, berbulan-bulan waktu berlalu belum juga ada bergerak terjun mengambil peran. 

Memang, hidup dalam ruang pemberdayaan masyarakat rasanya berat. Harus orang-orang yang ikhlas dan memiliki kebesaran hati yang layak berada di sini. Karena terkadang kesenangan pribadi harus ditanggalkan, belum lagi terbentur oleh tuntutan ekonomi yang selalu mendesak, sementara loyalitas di ruang pemberdayaan tak seketika itu memberi imbalan untuk memenuhi kebutuhan.

Entahlah, apakah sejumlah masalah yang menghalangi untuk terus menghidupi rumah pemberdayaan itu hanya soal kebodohan yang tidak kita usahakan secara serius dalam mencari jalan penyelesaiannya.

Kita memang disadarkan, untuk berbuat sesuatu tidak cukup dengan kemauan tapi juga perlu ilmu sebagai acuan. Dan mungkin ilmu itu yang belum kita sama-sama miliki, hingga akhirnya kebersamaan kita terporak-porandakan di tengah jalan.

Kalau hanya perkara ilmu, mari kita ikhtiari bersama sembari mengingat bahwa sudah satu tahun kita vakum, belum juga kah kita berniat kembali berperan sebagai organ di garda terdepan? Jawabannya ada di hati kita masing-masing (Pemuda Karang Taruna Tunas Harapan).


Pekon Siliwangi, 23 Maret 2020.
Barnas Rasmana



Album Kenangan