Supaya tidak Korupsi, Naikan Gajinya

Advertisement

Supaya tidak Korupsi, Naikan Gajinya

Beranda Desa
Monday, 9 March 2020

Senja hari di sebuah desa berpenduduk mayoritas petani saya merasa tumben bisa menyempatkan membaca buku yang sudah dibeli sekitar 1 tahun lalu.

Foto: tidakuntukkorupsi.blogspot.com


Buku ini memuat 700 halaman, tebalnya sekitar 7 sentimeter. Wajar jadinya meski sudah satu tahun, saya belum sampai khatam membacanya. "sedikit membela diri"

Pembaca Beranda Desa mungkin penasaran dengan buku tersebut, atau malah bingung kemana sebenarnya alur cerita yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Baiklah, to the point saja, buku itu berjudul Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah 3, sedangkan sub bab yang saya baca bertalian dengan judul tulisan diatas, yaitu Strategi Pemberantasan Korupsi dalam Perspektif Islam, di halaman 118.

Sub Bab tersebut juga sedikitnya menguraikan 10 langkah dalam mengatasi permasalahan korupsi yang sudah mewabah di seantero negeri ini. "Menyinggung wabah, mari kita berdo'a sejenak, semoga wabah virus corona yang sudah sampai di negeri ini segera teratasi"

Kembali kepembahasan, dalam hal membasmi korupsi Islam ternyata menganjurkan pemerintah dan pimpinan perusahaan harus memperhatikan kesejahteraan pegawai/karyawan/para buruhnya.

"Untuk meningkatkan kualitas layanan publik dan produktivitas kerja, maka kesejahteraan pegawai/karyawan/buruh harus diperhatikan. Pemerintah dan pimpinan perusahaan untuk berupaya terus agar gaji karyawan dan upah buruh harus selalu disesuaikan dengan tingkat yang wajar. Karyawan tidak boleh hanya dijadikan faktor produksi yang upahnya dapat ditekan serendah mungkin," dikutip dari Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah 3. Hal. 123.

Masih dalam HPT, Hal 123, juga tercantum sebuah Hadis yang artinya "Bayarlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya," (HR Abu Yala).

Bagaimana pembaca? Apakah sepakat dengan saran yang tertulis di atas?

Saya pribadi sebenarnya menaruh keraguan dan kekhawatiran. Ragu kenapa? Ragu sebab banyak yang korupsi bukan orang yang berpenghasilan sedikit, dan khawatir apa? khawatir dituduh berfikiran seperti kaum materialistis.

Saking khawatirnya, kopi yang diseduh dengan air mendidih dikisaran hampir mencapai 100°celsius itu pun terasa dingin. "tidak ada hubungan kali ya khawatir dengan air panas yang cepat dingin"

Tapi, mau bagaimana pun, strategi memberantas korupsi dengan cara mensejahterakan pegawai/karyawan/buruh adalah sebuah rumusan yang dianjurkan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, selaku penyusun buku HPT Muhammadiyah Jilid 3, yang bagi warga Muhammadiyah buku tersebut dijadikan salah satu referensi dalam gerak langkah mengamalkan amanah persyarikatan.

Bahkan, di dalam buku tersebut juga tertulis perbandingan sistem upah di Cina dan di Indonesia.

Di Cina perbandingan sistem penggajian antara buruh paling rendah dengan majikan rata-rata 1:7. Sedangkan di Indonesia bisa mencapai 1:100. Demikian juga, standar UMR (Upah Minimum Regional) harus disesuaikan dengan KHM (Kebutuhan Hidup Minimum) hingga meningkat ke standar KHL (Kebutuhan Hidup Layak).

Pada paragraf terakhir atau poin 7 dari 10 strategi memberantas korupsi, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam buku tersebut menganjurkan supaya semua perusahaan, birokrasi pemerintah maupun lembaga swasta perlu menjamin aspek perlindungan hukum, kesehatan, pendidikan keluarga/karyawan serta jaminan hidup pasca pensiun. Dengan alasan agar pegawai, karyawan atau buruh bisa bekerja dengan sepenuh hati karena ia dapat menggantungkan hidupnya dari lembaga tempatnya bekerja.

Dan menurut hemat penulis, masalah korupsi yang sudah mewabah ini tidak melulu soal uang atau barang.

Pegawai yang bolos bekerja mungkin bisa juga disebut koruptor, karyawan yang pulang lebih awal atau datang terlambat mungkin juga telah menjadi koruptor.

Sehingga menjadi wajar jika pengentasan korupsi ini tidak bisa diselesaikan oleh satu atau dua macam strategi. Bahkan buku HPT ini sampai merumuskan 10 langkah strategis untuk mencegah praktik korupsi, itu pun belum menjamin sukses dalam menumpas kurupsi. Berikut ini diantaranya 10 strategi tersebut:

1. Pencegahan melalui jalur kultural
2. Pencegahan melalui jalur pendidikan
3. Pencegahan melalui jalur keagamaan
4. Pencegahan melalui hukum dan politik
5. Pencegahan melalui cara memilih pimpin
6. Pencegahan melalui Keteladanan pemimpin
7. Perbaikan sistem upah
8. Debirokratisasi
9. Partisipasi masyarakat untuk mengontrol kebijakan publik
10. Reward and Punishment (Imbalan dan Hukuman).

Sebenarnya disetiap poin-poin tersebut terdapat penjelasan yang lebih rinci berikut dinukilkan juga ayat Al Qur'an dan Hadis Nabi.

Namun mengingat daya tahan masyarakat +62 yang rata-rata hanya betah membaca tulisan kurang dari 10 menit, penulis tentu sadar tidak perlu berpanjang-panjang riya menulis di sini, apalagi harus segera menyeruput kopi yang sudah semakin dingin, tadi.