"DIRINTIS PORTUGIS, INGIN DIHANCURKAN TERORIS"
Kata
Sejarah. Bercerita berdasarkan fakta dan realita, menyuguhkan cerita lama
dengan kata yang tak biasa.
Cerita
ini aku persembahkan untuk kalian para peminat sejarah yang tidak punya waktu
untuk membaca buku secara lama. Dan terkhusus kepada pembaca sekalian yang sedang mengalami susah tidur, segeralah membaca ini sekarang juga, supaya ngantuk menghampiri kita.
Mengapa
demikian? Apa hubungannya sejarah dengan susah tidur? Ya inisih pengalaman
saja ya, sampai sekarang katanya pelajaran sejarah itu bisa untuk alat
menghipnotis para siswa, ketika seorang guru sejarah tidak lama menyampaikan
bahan ajarnya, sang siswa udah tertidur pulas dibawah alam sadarnya.
Jadi
para kaum insomnia, merapatlah saat ini juga, biar aku dongengkan cerita
nusantara kita.
KATA
SEJARAH, Gereja Katedral Makasar, dikenal juga dengan nama Gereja Hati Yesus
Yang Maha Kudus didirikan pada tahun 1898 silam, sehingga menjadikan Gereja
Ummat Katolik ini menjadi gereja yang tertua di kota Makassar, bahkan termasuk yang tertua di
seluruh wilayah Sulawesi Selatan.
Ini
kata sejarah ya gays, dan ngomong-ngomong dari kalian sudah ada yang pernah ke
Makasar belum nih? Kalau aku sih saat ini sedang menjelajah makasar, tetapi
lewat virtual.
Dan
baru-baru ini warga makasar digegerkan oleh adanya bom bunuh diri yang dilakukan
orang yang diduga teroris pada hari Minggu (28 Maret 2021) kemarin.
Targetnya
adalah Gereja Katedral yang memiliki kaitan sejarah dengan kedatangan bangsa
eropa di bumi Kualleanna Tallanga Na Toalia. Yang artinya ‘Sekali Layar
Terkembang, Pantang Biduk Surut Ke Pantai’
Atas
aksi teror tersebut, aku bisa menduga, orang yang rela mengorbankan nyawanya
untuk melancarkan aksi bom bunuh diri itu bukan dari kalangan para peminat
sejarah.
Sebab
begini, setelah aku perhatikan dan juga sedikit berkecimpung di lingkungannya
para peminat sejarah cenderung memiliki keinginan untuk melestarikan dan
merawat bangunan, benda yang bernilai sejarah.
Berbanding
terbalik dengan pelaku bom bunuh diri di gerbang depan Gereja Katedral Makasar.
Seolah-olah aksi terorisme itu mengisyaratkan keinginan si pelaku untuk merusak
bahkan kalau bisa menghancurkan bangunan gereja yang bersejarah itu.
Mengutip
kebudayaan.kemdikbud.go.id/ dengan judul artikel Bangsa Portugis Membawa Agama
Katolik Ke Makassar
Awal
keberadaan agama Katolik ke Makassar yaitu ketika pada tahun 1525 tiga orang
pastor dan misionaris dari Portugal, yaitu Pastor Antonio do Reis, Cosmas de
Annunciacio, Bernardinode Marvao, dan seorang bruder mengunjungi Makassar.
Lalu,
pada tahun 1548 Pastor Vincente Viegas datang dari Malaka dan ditugaskan di
Makassar. Di sana beliau melayani para saudara Portugis yang Katolik serta
beberapa raja dan bangsawan Sulawesi Selatan yang juga telah dibaptis menjadi
Katolik (Balai Arkeologi, 2013).
Raja
Gowa yang pertama kali menerapkan Islam, yaitu Sultan Alauddin (1591-1638)
serta beberapa raja penggantinya memberikan kebebasan kepada umat Katolik untuk
mendirikan Gereja pada 1633. Namun, gejolak politik antara VOC dan orang-orang
Portugis menyebabkan para rohaniwan Portugis tersingkir dari Makassar.
Jatuhnya
Malaka ke tangan VOC dan perjanjian Batavia (19 Agustus 1660) menyebabkan
Sultan Hasanuddin diharuskan mengusir semua orang Portugis dari Makassar
(1661). Bruder Antonio de Torres yang mengasuh sebuah sekolah kecil untuk
anak laki-laki meninggalkan Makassar pada 1668. Sejak itu selama 225 tahun,
tidak ada pendeta yang menetap di Makassar.
Orang-orang
Katolik yang masih ada hanya sekali-sekali dilayani dari Surabaya atau Larantuka.
Pada 1892, Pastor Aselbergs, SJ, dipindahkan dari Larantuka menjadi Pastor Stasi Makassar (7 September 1892) dan tinggal di suatu rumah mewah di Heerenweg (kini Jalan Hasanuddin). Pada 1895 dibelilah sebidang tanah dan rumah di Komedistraat (kini Jl. Kajaolalido), lokasi gedung gereja sekarang.
Jadi
seperti itu ya gays cerita sejarah dari keberadaan agama katolik di Kota
Makasar, yang mana bangsa portugis lah yang pertama kali menyebarkan agama
katolik di daerah tersebut. Selain itu, teman-teman tentu masih ingat kan kalau
Bangsa Portugis adalah bangsa eropa yang pertama kali menginjakan kakinya di
bumi nusantara.
Dan untuk peristiwa teror yang terjadi di Kota Makasar tentunya kita berharap jangan smpai terulang kembali, sebab Makasar sedari zaman kesultanan sudah terkenal dengat tingkat toleransinya yang tinggi, baik toleransi beragama, adat, suku dan budaya.