Ada Bunker Peninggalan Jepang di Pekon Kagungan Kota Agung

Gambar Barnas Rasmana dan Kian Amboro pegiat sejarah bersama anak-anak setempat sedang berada di Bunker Jepang Pekon Kagungan, Kota AgungTimur | Foto: Utara Setia Nugraha

PEKON KAGUNGAN Kecamatan Kota Agung Timur tak disangka-sangka telah lama menyimpan jejak sejarah berupa Bunker peninggalan pendudukan Jepang. Paling tidak usia dari Bunker Jepang sudah mencapai 79 tahun jika dihitung menurut perkiraan kedatangan Jepang ke Indonesia pada tahun 1942.

Informasi awal mengenai Bunker Jepang ini dari seorang teman, penasaran dengan ini maka kami putuskan untuk berkunjung ke situs Bunker Jepang tersebut.

Minggu (05/12/2021) pagi, kami mulai perjalanan dari Kota Metro. Perkiraan memakan waktu 5-6 jam untuk bisa tiba di situs Bunker Jepang. Sebelumnya kami terlebih dahulu mengunjungi situs Batu Bedil 1 dan 2 serta Situs Batu Gajah dan Batu Kerbau di Desa Batu Bedil Kecamatan Pulau Panggung Tanggamus.

Kalau boleh bercerita, perjalanan kami kali ini memang sudah direncanakan untuk mengunjungi tiga situs bersejarah di Tanggamus, yakni Situs Batu Bedil, Situs Batu Gajah dan Situs Bunker Jepang.

Awalnya kami sempat kebingungan mencari di mana letak Bunker Jepang tersebut, sempat melacaknya melalui Google Maps namun tidak terdeteksi. Petunjuk awal yang kami kantongi mengenai Bunker Jepang hanya menunjukan berada di Pekon Kagungan, Kota Agung Timur.

Sepanjang jalan utama yang melintasi Pekon Kagungan hampir tidak ada petunjuk yang mengarah ke Bunker Jepang. Kami putuskan menepi dan mencari tahu dari warga sekitar. Mereka umumnya mengetahui keberadaan Bunker Jepang yang kami maksud. Bahkan beberapa anak yang sedang bermain berkenan mengantar kami menuju lokasi Bunker yang terletak di atas perbukitan.

Dari pemukiman warga ke lokasi Bunker kurang lebih berjarak 300 meter dan kita harus melewati jalan setapak yang menanjak. Disepanjang perjalanan menuju Bunker kita akan disuguhi hijaunya tumbuhan paku khas hutan tropis dan pepohonan yang menjulang tinggi.

Anak-anak terlihat semangat mengantar kami, mereka berjalan di depan bak pemandu wisata sejarah. Sepanjang perjalanan kami sambil mengobrol dengan mereka, satu nama yang saya ingat dari mereka adalah Afrizal yang mengaku masih duduk di sekolah SD (Sekolah Dasar).

Setelah dibuat ngos ngosan oleh keadaan, kami akhirnya tiba di Bunker Jepang. Bila kita perhatikan posisi Bungker tepat menghadap ke Teluk Semangka, diperkirakan ketika itu Bunker digunakan sebagai pos pantau oleh tentara Nippon (sebut Tentara Jepang) bila sewaktu-waktu ada kapal musuh masuk melalui Teluk Semangka. Peraiaran Teluk Semangka memang sangat jelas terlihat bila kita berdiri di depan mulut Bunker ini.

Kondisi Bunker (Goa) Jepang yang Pertama

Secara umum kondisi Bunker yang pertama ini masih terlihat kokoh. Bila kita lihat detailnya, dinding Bunker seperti dibuat dari batu cor (cor beton) setebal 40 centimeter, atapnya pun dibuat dari bahan yang sama. 

Kalau kita beranikan diri untuk memasukinya, lorong Bunker dibuat berkelok-kelok. Jarak dari mulut Bunker ke kelokan pertama kurang lebih 2 meter, dari kelokan pertama ke kelokan kedua 4 meter, lalu dari kelokan kedua ke kelokan ke 3 cukup panjang dan lebar, karena di kelokan ketiga ini diperkirakan sebagai ruangan utama Bunker.

Suasana di dalam Bunker sangat gelap, udara di dalam terasa pengap, mungkin karena tidak ada sirkulasi udara dan lumayan bikin hati gelisah, entah apa yang dirasakan, antara takut serangan hewan liar dan cerita mistis yang jadi bagian dari Bunker tersebut.

Lantai Bunker sewaktu kami masuki seluruhnya berupa tanah, dan di salah satu sudut ruang utama Bunker seperti bekas ada galian. 

Kondisi Bunker (Goa) Jepang Kedua

Menuju Goa Jepang kedua kita akan berjalan disela-sela pepohonan Cengkeh, Durian dan umumnya kayu alam sejauh 400 meter. Perjalanan dari Goa Jepang pertama ke yang kedua lumayan bikin napas Ngos Ngosan, traknya beda antara 400 meter di jalan datar dengan naik turun perbukitan. 

Secara bentuk dan kontruksi Bunker Jepang yang kedua ini hampir sama dengan Bunker sebelumnya. Hanya kondisinya lebih mengenaskan, dinding di ruang utama Bunker sudah ambruk. Bisa jadi lambat laun atap Bunker dan seluruh dindingnya ikut ambruk juga.

Pada mulut Bunker yang kedua ini kita masih bisa menemukan bekas engsel pintu. Diperkirakan dahulunya Bunker ini memiliki pintu, namun saat ini pintu tersebut sudah tidak ada lagi.

Harapan

Karena minimnya rambu-rambu atau petunjuk menuju situs Bunker Jepang ini kami awalnya sempat mengalami kebingungan. Kedepan mungkin bisa siapa saja yang peduli terhadap peninggalan sejarah ini memasang marka jalan, petunjuk arah, syukur-syukur melakukan pemeliharaan secara rutin terhadap Bunker Jepang tersebut.

Dengan begitu barangkali setiap orang yang tengah melintas di Jalan Lintas Barat Sumatra khususnya yang melintasi Pekon Kagungan dapat melihat dan membaca bahwa di lokasi yang ia lewati terdapat situs bersejarah peninggalan Jepang.

Saya melihat daerah ini potensial untuk dijadikan lokasi wisata, pertama di Pekon Kagungan saat kami berkunjung tengah musim durian, duriannya melimpah, ini menjadi daya tarik. Wisatawan yang berkunjng ke Pekon ini bisa membeli durian langsung dari kebunnya sekaligus berkunjung ke situs bersejarah Bunker Jepang.


Laporan Perjalanan Barnas Rasmana bersama Kian Amboro dan Utara Setia Nugraha, ketiganya aktif di Komunitas Pegiat Sejarah di Kota Metro.

Kolom Komentar

Previous Post Next Post