PESAWARAN, Pertama kali melintas di jalan Desa Negara Saka Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran via Bandar Udara Internasional Radin Inten II cukup memberikan pengalaman yang mengesankan. Sejak awal memang sudah diniatkan, sembari berkendara menuju Pringsewu sesekali toleh kanan-kiri siapa tau menemukan bangunan antik, entah itu berupa gedung, jembatan atau apa pun itu, yang jelas dalam kaca mata saya hal yang saya lihat itu seperti mengandung unsur sejarah.
Ternyata feeling saya benar, tidak lama setelah melewati jalan Pasar Branti dan mulai memasuki jalan Desa Negara Saka jembatan baja yang melintasi aliran Way Semah seolah sedang menyambut saya. Jembatan yang saya sebrangi ini memang seperti jembatan pada umumnya saat ini. Tetapi tepat di sebelah kiri jembatan Way Semah (dari arah pasar Branti) rupanya masih membentang sebuah jembatan tua yang kelihatannya sudah tidak digunakan untuk menyebrang.
Seketika saya hentikan laju kendaraan, melihatnya dengan seksama dan mendokumentasikannya dengan kamera ponsel yang saya bawa.
 |
| Gambar Jembatan Tua di Desa Negara Saka yang melintasi aliran Way Semah, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran | foto: dok. berandadesa.com |
Melihat jembatan tua ini, saya kembali diingatkan oleh jembatan lengkung, jembatan baja (stalenbrug) peninggalan kolonial Belanda yang ada di Desa Batanghari Ogan Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran. Bentuknya sama persis, dan bagian-bagiannya pun sama, seperti bentuk besi melengkung di bagian atas jembatan, rangka besi yang diposisikan berdiri tegak maupun besi penyangga yang diposisikan menyilang.
Kalo saya boleh menduga-duga, kedua jembatan tua ini seperti dibuat ketika era kolonial Belanda, tepatnya ketika berlangsungnya Kolonisasi Gedong Tataan (saat ini masuk daerah Pesawaran) dan juga Kolonisasi Sukadana.
 |
| Gambar Jembatan Batanghari Ogan, Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran | foto: dok. @kianamboro |
Coba kita perhatikan kedua gambar jembatan tersebut, dua-duanya hampir sama, dan secara kebetulan saat ini letak dari dua jembatan itu berada di wilayah Kabupaten Pesawaran, dimana daerah Pesawaran dahulunya tercatat sebagai daerah kolonisasi pemerintah Hindia Belanda yang pusatnya berada di Desa Bagelen, Gedong Tataan. Para peminat sejarah di Lampung menyebutnya Kolonisasi Gedong Tataan yang dimulai sejak tahun 1905.
Meski secara historis jembatan tua yang membentang di atas aliran Way Semah, Desa Negara Saka, Negeri Katon Pesawaran ini belum bisa dipastikan kapan pertama kali dibangun, apakah dibangun pada zaman kolonial Belanda atau sesudahnya? tapi saya cukup merasa puas bisa mendokumentasikan keberadaan jembatan tua ini. Barangkali dikemudian hari ada para ahli (peneliti sejarah) yang bisa membuktikan kalau jembatan tua ini memang sudah dibangun sejak zaman kolonial Belanda.
Dan mudah-mudahan jembatan tua ini tetap kokoh membentang sampai suatu saat nanti ada pihak yang memiliki atau menemukan arsip/dokumen yang menguatkan bahwa jembatan ini sudah dibangun sejak kolonisasi Belanda.
penulis: Barnas Rasmana-Pegiat Sejarah