Historiografi Metro Masih Banyak Kosong, Kemana Sejarawan?

dok. gurupendidikan.com


Oleh: Kian Amboro (Dosen Pendidikan Sejarah UM Metro)


Pada usia ke-84 tahun ini, historiografi Metro masih banyak kosong. Narasi-narasi sejarah yang ada masih didominasi Era Hindia Belanda, ini tentu menjadi ancaman munculnya pemahaman sejarah yang sepotong-sepotong dan tidak menyeluruh (baca tulisan sebelumnya: Historiografi Metro Masih Banyak Kosong:Sebuah Ulasan).  


Maka sebuah pertanyaan layak diajukan, kemanakah para sejarawan?, aktor yang paling bertanggung jawab atas kekosongan-kekosongan historiografi Metro ini. Untuk menjawab pertanyaan itu, mari sejenak kita dalami dan cari tahu siapa sebenarnya sosok sejarawan itu?


Wikipedia mengutip dari beberapa sumber dan menjelaskan bahwa sejarawan adalah orang yang menekuni dan menulis tentang masa lalu, dan dianggap memiliki wewenang atas kajian dan tulisan masa lalu tersebut. Sebagian besar sejarawan diakui karena kompetensi, pengalaman, dan publikasi tulisan-tulisan sejarahnya. 


Sedangkan Norwich University mendefinisikan bahwa sejarawan adalah sebutan bagi profesi yang menggeluti dan mengkaji peristiwa masa lalu, dan melahirkan tulisan-tulisan yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan. I Gde Widja mengklasifikasikan dua sebutan sejarawan, yaitu sejarawan profesional atau sejarawan akademik, dan sejarawan pendidik (Widja: 1989, 2002, 2018). Selain itu kini berkembang pula terminologi baru, yaitu sejarawan publik.


Definisi Sejarawan

Sejarawan akademik adalah sebutan profesi atau sebutan bagi seseorang yang dianggap ahli dalam bidang sejarah. Khususnya bagi mereka yang telah menerima pendidikan dalam bidang keilmuan sejarah dan kompeten dalam bidang itu. Pendidikan formal bagi sejarawan profesional atau sejarawan akademik ditempuh di lembaga pendidikan tinggi pada jurusan Ilmu Sejarah atau Sejarah Peradaban Islam.


Lulusan dari program pendidikan formal ini secara umum diproyeksikan menjadi seorang peneliti sejarah profesional yang bekerja di bidang kesejarahan atau yang relevan (museum, jurnalistik, dan lain sebagainya). Karena diproyeksikan menjadi peneliti sejarah yang akan melahirkan tulisan-tulisan sejarah (historiografi analitis-kritis), maka dalam proses pendidikannya ditempa dengan pengetahuan metodologi sejarah yang kuat, termasuk ilmu-ilmu bantu untuk menganalisis peristiwa sejarah, serta bahasa-bahasa bantu untuk mempermudah pembacaan sumber-sumber data sejarah (bahasa Belanda, bahasa Jawa Kuno, bahasa Arab, bahasa Sanskerta, dan lain sebagainya).


Sejarawan pendidik, adalah sebutan yang ditujukan kepada mereka yang telah menerima pendidikan juga memiliki kompetensi mengenai kesejarahan dan kependidikan. Keilmuan dan kompetensi yang dimiliki pada umumnya ditempuh di lembaga pendidikan tinggi pada jurusan Pendidikan Sejarah di LPTK. 


Lulusan dari institusi ini secara umum diproyeksikan menjadi pendidik sejarah secara formal (Guru Sejarah, Dosen Pendidikan Sejarah), tetapi tak menutup kemungkinan lulusannya dapat meluaskan ke bidang pekerjaan lain yang relevan ataupun berbeda sama sekali. Karena diproyeksikan sebagai pendidik sejarah, maka dalam proses pendidikannya diberikan pengetahuan dan kompetensi pedagogi serta diberikan juga pengetahuan dasar dan kompetensi tentang ilmu sejarah berikut metodologinya. 


Dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik/guru, maka kompetensi yang dimiliki adalah serangkaian kemampuan merencanakan hingga mengevaluasi pembelajaran. Dan sebagai sejarawan pendidik, produk yang dihasilkannya adalah historiografi pendidikan sejarah (dalam bentuk bahan ajar, atau buku teks pembelajaran sejarah) dengan karakteristik yang lebih edukatif-inspiratif, yang bahannya dikembangkan dari hasil kajian para sejarawan akademik. 


Selain itu, karena dibekali juga dengan pengetahuan dasar ilmu sejarah dan metodologi sejarah, sejarawan pendidik juga dapat melakukan penelitian sejarah secara mandiri (layaknya sejarawan akademik) dalam rangka pengembangan produk historiografi pendidikan sejarah (bahan ajar, buku teks), seperti riset sejarah lokal misalnya. 


Sedangkan definisi sejarawan publik dapat berangkat dari definisi sejarah publik, yaitu aktivitas komunikasi sejarah ke khalayak (publik) atau pelibatan publik dalam praktik dan produksi sejarah (Sayer, 2017). Siapapun dan dari berbagai macam latar belakang apapun dapat terlibat dalam aktivitas ini, dan umumnya mereka tidak berlatar belakang keilmuan sejarah. Mereka yang beraktivitas dalam bidang inilah yang kemudian disebut sebagai sejarawan publik. Di luar aktivitas formalnya (pekerjaan dan profesinya) umumnya mereka mendedikasikan sebagian dan atau seluruh waktunya untuk menekuni sejarah dan bidang garapan yang relevan dengan itu, seperti kearsipan, warisan budaya, media komunikasi sejarah, dan sebagainya secara non-formal. 


Mereka mengkomunikasikan sejarah melalui berbagai cara dengan bertujuan mempopulerkan sejarah dan memahamkannya ke masyarakat di luar kebiasaan akademis. Meski demikian, dalam penelusuran dan penggalian pengetahuan sejarah, pendekatan, teori, dan metodologi sejarah publik tetap berada di jalur keilmuan, dengan tetap memegang validitas dan sahihnya sumber-sumber data yang dapat dipertanggung jawabkan. 


Ada Dimana Mereka?

Keberadaan sejarawan akademik atau profesional di Kota Metro sangat sulit diidentifikasi. Hal ini mengingat belum ada lembaga-lembaga formal tempat para sejarawan ini bernaung, seperti Lembaga Riset, atau Institusi-institusi yang secara formal membutuhkan atau mempekerjakan profesi sejarawan profesional, termasuk lembaga Pendidikan Tinggi. Jikalau pun ada sarjana sejarah di Kota Metro, kemungkinan besar tidak menjalani profesi yang berkenaan dengan kesejarahan.


Untuk sejarawan pendidik lebih mudah diidentifikasi keberadaannya di Kota Metro. Sangat jelas secara formal mereka pada umumnya berprofesi sebagai pendidik sejarah di lembaga pendidikan seperti sekolah. Guru-guru sejarah ini ada di setiap sekolah SMP/MTs dan SMA/SMK/MA, dan secara profesi bidang keilmuan mereka tergabung dalam organisasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), baik itu IPS maupun Sejarah. 


Bahkan di Kota Metro berdiri LPTK dengan jurusan Pendidikan Sejarah tertua kedua di Lampung,  yang telah ada sejak dekade 1980-an, bersamaan dengan jurusan Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Tanjungkarang (keduanya berdiri setelah jurusan Sejarah Fakultas Keguruan/FKg UNILA ada, yang berdiri sejak 1 Januari 1968). Jurusan Pendidikan Sejarah di Kota Metro ini berada dalam naungan Universitas Muhammadiyah Metro, yang setiap tahunnya menghasilkan puluhan sarjana pendidikan sejarah. Hal ini cukup istimewa, mengingat tidak setiap wilayah berdiri sebuah perguruan tinggi yang menyelenggarakan jurusan kesejarahan.


Sedangkan untuk sejarawan publik di Kota Metro “agak susah-susah gampang” mengidentifikasi keberadaannya. Pada umumnya mereka yang berminat dan bergiat dalam bidang kesejarahan tidak secara tegas mentasbihkan dirinya sebagai seorang sejarawan publik. Ketidaksesuaian latar belakang pendidikan masih menjadi alasan utama bagi mereka belum totalitas dalam menekuni bidang kesejarahan ini. Masyarakat pun masih beranggapan bahwa sebutan sejarawan layak diidentikkan dan dilekatkan hanya kepada mereka yang lahir secara “biologis” dari bidang keilmuan sejarah. 


Terlebih bagi mereka yang belum memahami terminologi baru ini (sejarah publik:sejarawan publik). Memang tidak dapat dipungkiri, masih terdapat perdebatan-perdebatan internal di kalangan sejarawan mengenai “sejarawan publik”. Tentu ini tentang validitas dan otoritas yang mau tidak mau harus dibagi kepada publik, karena nantinya tidak lagi eksklusif. 


Akan tetapi jika dilihat dari aktivitasnya, kita dapat melihat sejarawan-sejarawan publik itu ada dan bergerak dalam aktivitas seperti: kampanye pentingnya sejarah, perlindungan warisan budaya, penggalian arsip-arsip dan dokumen sejarah. Mereka umumnya bergerak secara komunal, seperti misal Komunitas Metro Heritage, Komunitas ARSENIK, Komunitas TrimurjoHeritage, Komunitas Pensil Bersejarah, tetapi ada juga yang bergerak secara individual dengan publikasi-publikasi pengetahuan kesejarahan (dan budaya) melalui akun media sosial, seperti akun instagram fotoantix dan budayometro, meski demikian mereka juga tetap menjadi bagian dari jejaring komunitas.


Kemana Para Sejarawan?

Setelah kita mengetahui siapa sebenarnya sosok sejarawan, mari kita coba untuk mengajukan kembali pertanyaan di awal, “Kemana Sejarawan?” sosok yang paling bertanggung jawab atas masih banyak kosongnya historiografi Metro. Terang sudah jawabnya, bahwa “para sejarawan itu tidak kemana-mana”, mereka ada di sekitar kita, dekat dengan kita, bisa jadi mereka adalah teman kita, sahabat kita, rekan kita, orang tua kita, saudara kita, atau bahkan diri kita sendiri. Sejarawan tidak pergi meninggalkan kita, hanya kesadaran untuk menghidupkan sejarah yang dominan mengendap. Lalu selama ini apa yang telah dilakukan mereka?


Seperti yang telah diulas di atas, dapat dipastikan jika ada sosok sarjana sejarah di Kota Metro, dimungkinkan tidak berprofesi sesuai dengan bidang keilmuannya. Dan sudah barang tentu ia akan disibukkan dengan aktivitas yang kurang berkesesuaian dengan sejarah. Meski demikian ia akan tetap terikat pada tanggung jawab keilmuannya, tinggal bagaimana dirinya secara pribadi mengambil keputusan terhadap tanggung jawab itu. Karena gelar kesarjanaan yang disandangnya melekat seumur hidup bersamaan dengan pengetahuan serta kompetensi sejarawan yang telah dimilikinya.


Sejarawan pendidik pun turut bertanggung jawab terhadap situasi kekosongan historiografi Metro ini. LPTK Jurusan Pendidikan Sejarah yang ada di kota ini layak diberi pertanyaan sudah sampai sejauh mana kontribusinya terhadap perkembangan narasi sejarah daerah. Meski demikian, satu-satunya jurusan terakreditasi A/Unggul (di Lampung) ini mengklaim telah banyak menelurkan riset-riset tentang sejarah Metro dan sejarah lokal. Tetapi kenyataannya “telur-telur” itu tak menetas, tak terhilirisasi dengan baik ke masyarakat, masih “eksklusif” menjadi pengetahuan di dalam laporan-laporan penelitian baik mahasiswa maupun dosen.


Semangat mendidik sejarah ke masyarakat belum tumbuh. Belum lagi historiografi pendidikan sejarah pun masih kosong, belum ada buku ajar atau buku teks sejarah lokal (Metro) sebagai bahan pembelajaran sejarah lokal peserta didik di sekolah-sekolah. Apalagi pemikiran tentang kurikulum sejarah lokal, masih jauh panggang dari api. Dari aspek perkembangan sejarah lokal, maupun tingkat kesadaran sejarah masyarakatnya, nampaknya Kota Metro tak banyak berbeda dengan daerah lain yang tak memiliki perguruan tinggi penyelenggara jurusan kesejarahan.


Sejarawan pendidik di tingkat satuan pendidikan pun layak diajukan pertanyaan mengenai hal ini. Organisasi MGMP Sejarah (tingkat SMA) di kota ini nyaris tak pernah terdengar aktivitasnya untuk berkontribusi terhadap perkembangan sejarah lokal di Kota Metro, atau jangan-jangan memang tak pernah membelajarkan sejarah lokal Metro kepada peserta didiknya (karena guru sejarahnya pun tak tahu sejarah lokal Metro, dan tak pernah penelitian sejarah lokal).


Lemahnya pengawasan dan koordinasi guru-guru SMA yang jauh di tingkat provinsi seharusnya bukan alasan, untuk tidak mengembangkan bahan ajar dan mengkontekstualisasikannya dengan sejarah lokal, karena pembelajaran di kelas adalah hak prerogatif guru. Tidak relevannya soal-soal evaluasi sejarah yang muncul (pada umumnya Sejarah Nasional) juga bukan sebuah alasan untuk tak membelajarkan sejarah lokal Metro, karena tetap ada peran guru, peran MGMP, peran MKKS dalam menyusun soal evaluasi, sehingga pengatahuan sejarah lokal bisa turut dievaluasi, karena mata pelajaran sejarah tidak dievaluasi secara nasional (UN).


Kurikulum mapel sejarah pun memberi ruang yang sangat longgar bagi guru sejarah untuk mengembangkan bahan ajar sejarah lokal, terlebih Kurikulum 2013, salah satu contoh: pada Kompetensi Dasar Kelas X SMA aspek Keterampilan sangat jelas tercantum kompetensi “4.7 Menerapkan langkah-langkah penelitian sejarah (heuristik, kritik/verifikasi, interpretasi/eksplanasi dan penulisan sejarah) dalam mempelajari sumber sejarah yang ada di sekitarnya”. 


Kompetensi Dasar itu menuntut guru sejarah melatih peserta didiknya membuat sebuah penelitian sejarah, dan itu merupakan syarat kelulusan untuk kompetensi dasar tersebut. Menjadi ironi jika guru menuntut peserta didiknya untuk melakukan penelitian sejarah di sekitarnya, tetapi sang guru tak pernah melakukan penelitian sejarah sepanjang menjalankan tugasnya, atau bisa jadi skripsi sarjananya adalah penelitian terakhir yang pernah dibuatnya.


Akan semakin tidak rasional lagi jika guru sejarah masih beralasan karena faktor ketidakmampuan, sebab pengetahuan metodologi sejarah, dan pengembangan bahan ajar sejarah (lokal) menjadi syarat kelulusan seorang sarjana pendidikan sejarah. Bahkan hal itu menjadi prasyarat kelulusan dalam kurikulum PPG (Pendidikan Profesi Guru), maka pertanyaan akan semakin besar dan semakin tidak ada alasan bagi guru-guru yang telah dinyatakan profesional (Sertifikasi) untuk tak melakukan penelitian dan mengembangkan bahan ajarnya, karena itu adalah bagian dari profesionalnya profesi keguruan. Organisasi guru sejarah lain seperti AGSI (Asosiasi Guru Sejarah Indonesia) di Lampung pun nampaknya tak banyak berdampak terhadap penyelesaian masalah ini.


Kaitannya dengan masalah ini, sejarawan publik pun dapat turut berkontribusi untuk mengisi ruang-ruang historiografi Metro yang masih banyak kosong. Ketidaksesuaian latar belakang pendidikan sesungguhnya tak perlu menjadi hambatan dalam menulis sejarah. Sejarah sebagai sebuah bidang ilmu terbuka untuk ditekuni oleh siapa saja.


Meski tak terlahir secara “biologis” dari institusi pendidikan kesejarahan, apabila ditekuni dengan sungguh-sungguh maka seorang sejarawan publik akan mampu menghasilkan tulisan, melakukan riset yang baik layaknya seorang sarjana sejarah. Tulisan-tulisan sejarah dan aktivitas kesejarahan yang dilakukan oleh mereka yang tak berlatar belakang keilmuan sejarah justru akan memberi peluang berkembangnya ilmu sejarah secara lebih luas. Akan memungkinkan tumbuhnya ranting-ranting keilmuan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.


Masalah masih banyak kosongnya historiografi Metro dapat diselesaikan asalkan ada keinginan, kesadaran penuh, dan tanggung jawab keilmuan dari para sejarawan-sejarawan itu. Pepatah klasik bahwa “dimana ada kemauan, di situ ada jalan” benar adanya. Kita bisa melihat bahwa di Kota Metro ada salah seorang guru IPS SMP yang telah menulis “Sejarah Transmigrasi dan Kolonisasi”, ada pegiat literasi yang mampu menulis sejarah populer dengan sangat menarik, ada kolaborasi harmonis antara akademisi dan arsiparis. Kesemuanya melahirkan historiografi Metro yang beraneka warna. 


Kegiatan-kegiatan itu sudah ada yang memulai, itu menunjukkan bahwa siapapun dapat turut berkontribusi, dan harus semakin ditingkatkan intensitasnya. Kesadaran dan tanggung jawab keilmuan dari para sejarawan, ditambah peran dan tanggung jawab pemerintah daerah akan menjadi sinergi baik untuk melengkapi halaman-halaman kosong dari lembaran Sejarah Metro. Semoga saja itu lekas terwujud, karena sejatinya kita semua adalah sejarawan.

 

Kolom Komentar

Previous Post Next Post