![]() |
| Foto: Ani-Ani (Pisau Padi) yang digunakan untuk panen Padi di Kolonisasi Metro - Lampung | sumber: KITLV |
Hai Sobat Beranda Desa, kali ini aku ingin berbagi informasi tentang alat tradisional yang digunakan untuk memanen Padi oleh para petani zaman dahulu.
Selain menggunakan Arit atau Sabit dan sekarang di era modern sebagaian petani sudah manggunakan mesin Combine, alat untuk memanen Padi itu ternyata ada juga yang namanya Ani-Ani.
Ani-Ani sendiri adalah Pisau Padi yang cara memegangnya diselipkan di sela-sela ruas jari, seperti yang terlihat pada gambar di atas. Dengan menggunakan Ani-Ani, petani terpaksa harus meluangkan waktu lebih lama karena proses memanen Padinya harus dipotong satu persatu. Tapi disisi waktu panen yang lebih lama, dengan menggunakan Ani-Ani, petani biasanya lebih mudah menyeleksi bulir Padi yang sudah masak dan siap dipanen.Konon, dalam sebuah tradisi masyarakat Sunda dan Jawa, memanen Padi dengan Ani-Ani menyimpan makna tersendiri. Masyarakat tradisional Sunda dan Jawa percaya bahwa leluhur mereka akan tidak senang bila memanen Padi menggunakan Arit ataupun Golok.
Dilansir wikipedia masyarakat Sunda percaya bahwa dewi padi Nyai Pohaci Sanghyang Sri yang berjiwa halus dan lemah lembut, akan ketakutan melihat senjata tajam besar seperti arit atau golok. Selain itu ada kepercayaan bahwa padi yang akan dipanen, yang juga perwujudan sang dewi, harus diperlakukan dengan hormat dan lembut dipotong satu persatu, tidak boleh dibabat secara kasar begitu saja. Hingga kini tradisi kepercayaan itu masih banyak diamalkan, misalnya upacara tradisional panen padi masyarakat Sunda yang disebut Seren Taun.
Melihat kisah ini mimin takjub Sob, mungkin nenek moyang kita dahulu berfikir keras dengan alat apa mereka bisa memotong tangkai Padi, dan berkat olah pikirnya terbesitlah dibenaknya untuk membuat alat seperti Ani-Ani ini. Selain itu, mereka (nenek moyang) seolah menyampaikan pesan kepada kita untuk selalu menghormati alam (tanaman) yang memang hidup bersanding dengan manusia.
Semoga kita juga saat ini bisa meneladani para nenek moyang kita ya sob, yang mana hasil buah fikirnya memberi manfaat dan kemudahan bagi orang lain.
Melihat kisah ini mimin takjub Sob, mungkin nenek moyang kita dahulu berfikir keras dengan alat apa mereka bisa memotong tangkai Padi, dan berkat olah pikirnya terbesitlah dibenaknya untuk membuat alat seperti Ani-Ani ini. Selain itu, mereka (nenek moyang) seolah menyampaikan pesan kepada kita untuk selalu menghormati alam (tanaman) yang memang hidup bersanding dengan manusia.
Semoga kita juga saat ini bisa meneladani para nenek moyang kita ya sob, yang mana hasil buah fikirnya memberi manfaat dan kemudahan bagi orang lain.
Oya, kabarnya foto di atas adalah gambar aktivitas seorang petani saat memanen Padi di wilayah Kolonisasi Metro, Lampung, sekitar tahun 1935.
Penulis: Barnas Rasmana
Sumber foto: KITLV
