Ekspedisi Sejarah Pulau Pisang Lampung: Ada Kompleks Makam Serdadu Belanda yang Terbengkalai

PULAU PISANG. Masih dalam rangkaian kegiatan Ekspedisi Sejarah di Pulau Pisang, Kab. Pesisir Barat – Lampung, dan masih bersama Arman AZ beserta kawan-kawan komunitas pegiat sejarah, mengeksplorasi salah satu lokasi yang menurut kami penting, yakni Makam Belanda atau kerkhof di Pulau Pisang. 

Ekspedisi Sejarah di Pulau Pisang, Kab. Pesisir Barat – Lampung, dan masih bersama Arman AZ beserta kawan-kawan komunitas pegiat sejarah, mengeksplorasi salah satu lokasi Makam Belanda atau kerkhof di Pulau Pisang. 

Mulanya sedikit kesulitan ketika mencari keberadaan lokasi dari kerkhof ini, ternyata tidak semua warga di Pulau Pisang tahu adanya kerkhof ini, meskipun hampir setiap hari mereka melihat atau bahkan beraktivitas di sekitar kerkhof ini. 

Hal itu dikarenakan sedikitnya informasi tentang kerkhof. Sebagian besar warga hanya tahu bahwa makam-makam itu adalah makam tua tak beridentitas dan telah lama ada. Tak terurus dan tertutup semak belukar.

Kerkhof di Pulau Pisang sendiri kini telah bercampur dengan makam-makam penduduk asli. Lokasi ini pun akhirnya kami temukan setelah Arman AZ menggali informasi tentang keberadaan “keramat” kepada penduduk setempat, informasi yang digali justru bukan keberadaan makam Belanda, karena setelah dicoba banyak warga tak tahu tentang makam Belanda.

Keramat sendiri ditujukan kepada makam dari tokoh ulama yang konon memiliki peran besar di pulau ini, dan lokasinya juga berada dalam kompleks kerkhof. Areal pemakaman cukup luas, di kelilingi oleh pemukiman penduduk dan pekarangan warga. Letaknya tak jauh dari tepi pantai. 

Tetapi cukup berjarak dengan lokasi sekolah Belanda yang letaknya sedikit ke tengah pulau. Kondisi pemakaman sendiri sangat tak terurus, banyak ditumbuhi belukar, pola pemakaman yang acak, bercampur dengan pemakaman warga lokal. 

Sedikit rasa “creepy” perlahan hadir ketika kami di lokasi, mungkin waktu yang kurang tepat karena kami tiba saat senja mulai turun dan matahari sudah jatuh di ufuk barat. Tetapi rasa “kepo” membuat kami tetap bersemangat untuk mengeksplorasi lokasi bersejarah yang masih minim informasi ini.

Sudah menjadi hukum alam bahwa setiap orang pasti akan meninggal, oleh karena itu pemakaman sebagai tempat mengebumikan jasad yang telah meninggal adalah suatu kebutuhan di setiap tempat.

Francaviglia mengemukakan, pemakaman adalah bentuk ekspresi visual dan spasial orang-orang yang masih hidup terhadap kematian. Sebagai lanskap budaya yang berkembang mengikuti dinamika manusia, pemakaman senantiasa mengalami perubahan spasial atau arsitektur makam yang ada di dalamnya. 

Pemakaman tak hanya melayani tujuan fungsional sebagai tempat pemakaman jenasah saja, namun juga sebagai jembatan penghubung antara orang yang masih hidup dengan orang yang sudah meninggal, bentuk ungkapan manusia pada keabadian, dan sarana pengingat kematian. 

Karakteristik pemakaman dapat dilihat secara individual dengan melihat batu nisan setiap individu atau secara kolektif dengan melihat pengaturan tata ruang dan penempatannya dalam lingkungan permukiman (Francaviglia, 1971). 

Dalam konteks lanskap, pemakaman merupakan salah satu lanskap budaya yang dihasilkan dari pengolahan bentang lahan oleh suatu kelompok manusia secara aktif dan berkembang mengikuti dinamika manusia (Anshchuetz, Wilshusen, Sheick, 2001).

Setelah beberapa waktu mengeksplorasi lokasi, menyibak semak belukar, mencari jejak-jejak yang masih tersisa, beberapa sedikit informasi tambahan kami dapat dari lokasi ini. Ya, tentu informasi itu kami dapat dari apa yang dapat dilihat dan dirasakan, dari keberadaan makam-makam itu. 

Secara keletakannya, hasil survei lokasi menunjukkan bahwa letak kompleks kerkhof berada tak jauh dari bibir pantai dan bersandingan langsung dengan pemukiman penduduk. Karena masih terbatasnya data, belum diketahui apakah pada masa lalu kerkhof ini sengaja dibangun berdekatan dengan rumah penduduk atau pada perkembangannya kemudian rumah-rumah penduduk dibangun mendekati bibir pantai dan mendekati kompleks kerkhof ini.

Terkait dengan perdapat pertama, ada hal yang menarik juga dari letak keberadaan kerkhof ini, karena masih belum diketahui angka tahun pasti sejak kapan kerkhof ini ada. Apabila kerkhof ini telah ada sebelum abad ke-XVIII, maka tak jauh dari lokasi kerkhof diduga akan terdapat gereja dan tentu di sekitarnya pun pemukiman penduduk. 

Sesuai dengan arti dari kerkhof itu sendiri, berasal dari bahasa Belanda yang berarti halaman gereja. Hal ini mengikuti pola tata ruang yang berlaku di Eropa dimana hingga abad XVIII jenasah dimakamkan di halaman gereja, karena dianggap tempat yang suci. Kebiasaan ini juga dibawa bangsa Eropa dimanapun mereka tinggal, termasuk di tanah-tanah koloninya.

Akan tetapi, jika kerkhof ini ada setelah abad ke-XVIII, maka dapat dipastikan telah terjadi perubahan pola tata ruang di pulau ini. Karena setelah tahun 1793, di Eropa ada larangan dari pihak gereja untuk  memakamkan jenasah di halaman gereja untuk mencegah semakin meluasnya wabah penyakit yang disebabkan oleh pembusukan dari jenasah yang baru dikuburkan. 

Selain itu agar tanah di sekitarnya tidak dicemari oleh jasad yang terdekomposisi. Sehingga pemakaman tidak lagi di halaman gereja dan harus ditempatkan di lokasi yang terpisah dari pemukiman penduduk. Ketentuan ini juga berlaku di tanah-tanah koloni mereka di luar Eropa. 

Meski tak lagi berada di halaman gereja, istilah kerkhof tetap digunakan ketimbang begrafplaats yang merupakan sebutan resmi untuk pemakaman dalam bahasa Belanda. Dapat diduga pendapat kedua sangat kuat, mengingat letak dari sekolah Belanda di pulau ini terletak agak ke tengah, dan sangat dimungkinkan kala itu ruang hunian tumbuh di sekitar lokasi sekolah Belanda bukan di dekat makam. Artinya perubahan pola tata ruang terjadi pada waktu kemudian, karena pemukiman penduduk yang tumbuh di sekitar makam.

Sedangkan secara morfologi, dapat diamati bahwa terdapat dua bentuk yang dijumpai di kompleks kerkhof Pulau Pisang ini. Pertama bentuk nisan sederhana yang berbentuk persegi, dengan bentuk kemuncak berupa tanda salib timbul dan bagian atas datar.

Nisan ini berukuran kurang lebih 50x50 cm dengan tinggi kurang lebih 30-50 cm. Kedua, makam yang secara morfologi lebih monumental dan memiliki pagar langkan yang memiliki pola hias pelipit abstrak. 

Bentuk makam yang kedua ini tentu mengindikasikan bahwa orang yang dikuburkan tentu bukan orang biasa, tetapi memiliki kedudukan tertentu sewaktu hidupnya. Sayangnya, dari sampel makam yang diamati, tidak dijumpai adanya inskripsi berupa tulisan yang memuat informasi mengenai jenasah yang dimakamkan atau angka tahun kapan dimakamkan. 

Ketiadaan informasi ini juga menyulitkan untuk melakukan rekonstruksi sosial-historis mengenai aktivitas yang pernah terjadi di Pulau Pisang pada masa lalu.

Meski tak banyak informasi yang dapat digali (untuk sementara ini) dari kerkhof di Pulau Pisang, setidaknya dapat ditegaskan kembali bahwa pulau Pisang pada masa lalu bukanlah tempat yang biasa dan tak memiliki cerita. Tidak banyak lokasi yang ditemukan keberadaan kerkhof. Setidaknya keberadaan kerkhof ini mengindikasikan banyaknya aktivitas orang-orang Belanda di pulau ini, dan cukup menjadi tempat yang nyaman bagi mereka beristirahat untuk terakhir kalinya. 

Penggalian informasi tentang kerkhof ini dirasa semakin penting, pertama, untuk menghilangkan kesan “angker” dari lokasi ini, dan menunjukkan bahwa keberadaan kerkhof dapat dijelaskan secara ilmiah dari sudut pandang sejarah dan berdasarkan bukti arkeologis; 

kedua, keberadaan kerkhof ini memiliki daya tarik tersendiri dan dapat menjadi potensi wisata sejarah bagi pengunjung pulau Pisang, jika dikembangkan tentu ini dapat menjadi tambahan mata pencaharian bagi warga setempat; 

ketiga, sejarah yang ada di pulau ini telah menjadi identitas, pulau produksi rempah-rempah, tempat dimana lembaga pendidikan awal pernah ada, hingga ruang hunian era kolonial adalah fata yang tak dapat terbantahkan. Sehingga identitas ini tentu perlu menjadi warna dalam proses pembangunan di pulau ini.

Baca artikel Sejarah lainnya atau artikel lainnya dari Kian Amboro

Penulis:
Kian Amboro – Pegiat Sejarah
(berandadesa.com-sejarah)

Kolom Komentar

Previous Post Next Post