PESAWARAN, Berandadesa.com - Monumen ini terletak di pertigaan jalan
Ahmad Yani, Kecamatan Gedong Tataan. Sebuah prasasti di bagian bawah
depan dari tugu menerangkan dua pasang
patung ini bernama Tugu Pengantin.
Demikian halnya ungkapan seorang pria yang berprofesi sebagai penarik ojek di sekitar Tugu Pengantin. Saat dihampiri dan ditanyakan nama tugu ini, ia
menyebutnya Tugu Pengantin, tanpa ragu.
"Pak, kalau boleh tau ini patung
apa?" "ini patung Tugu Pengantin," ucap bapak yang setelahnya
saya ketahui bernama Darman.
Sempat beberapa kali saya ajukan pertanyaan pada
beliau. Namun tampaknya meski sehari-hari berada di sekitar Tugu Pengantin,
pengetahuannya tentang tugu yang mengandung unsur kearifan lokal
masyarakat Lampung ini kurang begitu banyak.
Hal itu tergambar dari kebingungannya saat
mendapat beberapa pertanyaan.
“itu kan patungnya ada empat pak, maknanya
kira-kira apa”? Ia terlihat berfikir, entah mengumpulkan ingatannya tentang
tugu ini atau memang dari awal dirinya belum begitu paham.
Tapi Pak Darman
sempat memberikan keterangan kalau dua pasang pengantin itu menurut
perkiraannya menggambarkan adat pernikahan Lampung Saibatin dan Pepadun.
“Kalau gak salah itu dari adat Saibatin dan
Pepadun,” ucap Pak Darman sambil duduk di sepeda motor dengan mengenakan rompi orange khas penarik ojek pangkalan. Ketika ditanya perbedaan dari keduanya apa, ia mengatakan kurang
begitu paham.
Kedepan kiranya perlu pemerintah terkait
mencantumkan sebuah deskripsi singkat mengenai Tugu Pengantin ini. Bentuknya bisa berupa papan informasi serupa dengan prasasti peresmian bangunan tersebut.
Meski begitu, kita tetap perlu memberi apresiasi pada pihak terkait. Karena telah berupaya merevitalisasikan kearifan lokal masyarakat Pesawaran
dan Lampung pada umumnya, kedalam bentuk arsitektur Tugu Pengantin adat
Pepadun dan Saibatin. Namun yang lebih penting adalah makna yang tersirat di dalam ornamen itulah yang hakikatnya harus dipahami masyarakat.
Sudjarwo, Guru Besar dan Direktur Pasca Sarjana Universitas Lampung dalam 65 Tahun Sudjarwo Among Roso menyoroti hal serupa. Semangat membangun dengan berbasis pada budaya lokal memang penting. Sebab terobosan ini harus dilakukan agar kita tidak kehilangan roh. Namun ia juga menyampaikan saran kepada semua pimpinan daerah di Lampung supaya pembangun simbol berupa fisik harus diimbangi dengan pembangunan nonfisik.
"Upaya pimpinan daerah yang melestarikan simbol daerah kepada semua bangunan fisik, sudah seharusnya ditindaklanjuti dengan pembangunan nonfisik. Sebab, jika itu saja yang dilakukan, simbol itu akan berhenti pada tataran ornamen."
Substansi dari kearifan lokal yang
saat ini perlu dipahami masyarakat bukan hanya sebatas pesan estetika yang
tergambar. Lebih jauh, pentingnya masyarakat memahami
kearifan lokal yang terdapat di daerahnya supaya tumbuh rasa
cinta tanah air dan menghargai adat istiadat warisan dari para
pendahulunya. Adat istiadat ini menjadi sebuah identitas yang tidak boleh pudar diterkam zaman.
Tugu Pengantin Pepadun dan Saibatin
Untuk membayar rasa penasaran mengenai
perbedaan pengantin Pepadun dan Saibatin, saya teringat seorang teman yang
tempo hari pernah sama-sama menempuh pendidikan Sejarah di Universitas Muhammadiyah Metro. Ia bernama Liza Putri, yang kebetulan
silsilah keluarganya asli suku Lampung bermarga Selagai.
Menurut Liza Putri yang akrab disapa
Putri, saat dihubungi melalui akun instagramnya, perbedaan kontras antara
pengantin adat Pepadun dan Saibatin terletak di mahkota Siger yang dikenakan
oleh masing-masing pengantin perempuan.
“Kalau pengantin Pepadun itu lekukan
Sigernya ada sembilan, karena diambil dari marga yang jumlahnya sembilan atau Siwo Mego.” Lanjutnya “Kalau Saibatin itu jumlah
lekukan Sigernya berjumlah tujuh, karena berkaitan dengan tujuh adok atau gelar masyarakat pesisir
Lampung.”
Tidak hanya sebatas Siger yang membedakan
keduanya, menurutnya dari segi pakaian pengantin juga memiliki perbedaan. “Kalau
Pepadun itu putih warnanya tapi kalau Saibatin itu merah baju pengantinya,”
ucapnya disela-sela menjalankan tugas sebagai guru di sekolah tempat ia mengabdikan diri.
Serupa dengan yang diungkapkan M. Fadly
Putra, salah satu mahasiswa Pendidikan Sejarah UM Metro yang saat ini tengah
merampungkan tugas akhirnya di kampus tersebut.
“Kalau adat Pepadun,
pengantin perempuannya pakai Siger sembilan dan pengantin perempuan Saibatin
pakai Siger tujuh,” ungkapnya melalui sambungan telpon sore tadi.
Sedangkan Payung yang menyertai Tugu Pengantin
tersebut bernama Payung Agung. Dalam bukunya Hadikusuma, dkk yang berjudul Adat Istiadat Daerah Lampung.
Payung
Agung adalah tanda kebesaran raja adat, terbuat dari bahan kain berwarna untuk
payung dan bergagang kayu bulat yang berhias tatah. Di daerah pesisir
(peminggir) masing-masing Sebatin (kepala adat) mempunyai warna sendiri yang
bermacam-macam.
Di daerah adat Pepadun (Pedalaman) hanya tiga warna, yaitu
putih untuk punyimbang (kepaka adat) Marga atau Punyimbang Bumi. Kuning untuk
Punyimbang Tiyuh, dan merah untuk Punyimbang Suku. Payung ini hanya dipakai dan
dikembangkan pada upacara adat besar.
Itulah sedikit informasi yang berhasil digali, semoga bisa tersampaikan dan dipahami oleh kita semua. Mudah-mudahan kedepan -tidak hanya di Tugu Pengantin- di setiap ornamen yang sedikit banyaknya mengambil unsur kearifan lokal tercantum deskripsi singkat yang
menerangkan tentang keberadaanya.
Baca juga Makna Tersirat Di Tiga Ikon Kabupaten Pringsewu
Dengan berbagai upaya pembangun disegala sektor, menuju Lampung yang mampu berkompetisi di tengah modernisasi zaman adalah sebuah keniscayaan. Namun kota yang maju dengan memelihara identitas kelokalannya merupakan harapan kita semua.
Penulis: Barnas
