Kumpulan Desa-Desa Kuno di Indonesia yang sampai saat ini tetap eksis
- Desa Trunyan di Bali
- Desa Kahuman di Klaten, Jawa Tengah
- Desa Sawai di Maluku
- Desa Banyuurip di Purworejo, Jawa Tengah
Seberapa jauhkah kita mengenal Indonesia? pertanyaan sederhana ini tentu akan sedikit sulit terjawab mengingat begitu luas cakupan wilayahnya, ditambah keberagaman yang terdapat di dalamnya.
Berbicara masalah luas wilayah dan keberagaman akan sangat erat kaitannya dengan keberadaan sebuah daerah. Sebagai awal perbincangan tidak ada salahnya bila kita tahu berapa sebenarnya jumlah desa yang ada di Indonesia?
Bila merujuk kepada data pemerintah yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 56 Tahun 2015 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, awalnya desa di seluruh Indonesia mencapai jumlah 74.754 desa. Jumlah tersebut ternyata terus bertambah seiring adanya beberapa pemekaran desa hingga menjadi 74.910 desa.
Sudah barang tentu ribuan desa yang ada di Indonesia itu memiliki catatan sejarahnya tersendiri. Khusus ditempat saya tinggal, kebanyakan desa merupakan hasil dari program transmigrasi baik di masa kolonial Belanda maupun masa pemerintahan setelah merdeka.
Dan sebagaimana yang akan kita bahas mengenai desa-desa kuno di Indonesia tentunya perbincangan kita akan berdekatan dengan soal sejarah. Karena sejarah memang identik dengan kajian atau peristiwa yang terjadi dimasa lampau.
Dari sejumlah referensi, dikatakan bahwa ada 4 desa yang dinyatakan sebagai desa tertua di Indonesia. Klaim ini didasarkan atas temuan benda-benda purbakala seperti prasasti, hingga cerita turun-temurun yang diwariskan ke anak cucu.
Berikut kita ulas bersama beberapa desa yang terbilang tua yang tersebar dibeberapa daerah di Indonesia.
Berikut kita ulas bersama beberapa desa yang terbilang tua yang tersebar dibeberapa daerah di Indonesia.
Bukti lain yang menguatkan adalah patung dewa raksasa atau dewa tertinggi yang disebut Ratu Sakti Pancering Jagat (Batara da Tonta) dan jalan tangga yang terbuat dari batu megalitik bernama Jalan Batu Gede.
Nama Trunyan sendiri ditemukan dalam beberapa prasasti tertua di Bali yang dikenal dengan turunan. Sejak tahun 882 masehi, penduduk Trunyan dinyatakan telah tinggal dan menetap di daerah itu.
Menurut cerita, orang-orang Bali adalah keturunan Majapahit yang lari ke Bali pada abad ke-14. Sedangkan orang-orang Bali asli yang telah ada di Bali sejak sebelum Majapahit, seperti penduduk Desa Terunyan ini disebut Bali Aga. Mereka hidup dengan menjalankan tradisi-tradisi kuno yang tetap terpelihara dengan baik hingga sekarang.
Desa Kahuman, Klaten, Jawa Tengah

Desa Kahuman merupakan desa yang terletak di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Desa Kahuman kabarnya penerus dari Kerajaan Mataram Kuno yang merupakan wilayah perdikan (daerah yang termasuk wilayah kerajaan, tetapi bebas dari pajak). Hal itu berdasarkan keterangan yang terdapat pada Prasasti Yupit (Upit) yang menerangkan bahwa desa Kahuman merupakan desa tertua di Kabupaten Klaten, berdiri pada abad ke-9 Masehi.
Prasasti Upit merupakan prasasti berbentuk tugu yang dipancangkan di permukaan tanah. Prasasti ini ditemukan oleh Mitrowiratmo, seorang petani di Dukuh Sorowaden, Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, yang selanjutnya dia pernah menjabat sebagai Kepala Desa Kahuman.
Prasasti Upit dikeluarkan oleh Rakai Kayuwangi, bertanggal 11 November 866 M. Berdasarkan prasasti tersebut, Desa Ngupit didirikan sebagai desa perdikan, sehingga 11 November dijadikan sebagai hari jadi Desa Ngupit. Berdasarkan catatan tersebut bisa diartikan bahwa saat ini Desa Kahuman usianya sudah mencapai sekitar 1.152 tahun.
Mengingat keberadaannya yang sarat dengan peristiwa sejarah, sudah sewajarnya penduduk Desa Kahuman dan Desa Ngawen yang merupakan daerah perdikan Ngupit memperingati Hari Jadi Ngupit setiap tahunnya. Ngupit yang merupakan daerah perdikan pada zaman Srī Maharaja Rakai Kayuwangi, saat ini secara administratif terletak di Desa Kahuman dan Desa Ngawen.
Hingga kini Desa Kahuman juga masih menjadi desa yang dikenal di Klaten. Letaknya pun sangat strategis yakni berada di Jalan Klaten Boyolali Km 4, yang merupakan bagian dari jalan provinsi. Penduduk di desa tersebut juga terus berkembang, beberapa di antaranya bekerja sebagai petani, buruh, bahkan PNS.
Hingga kini Desa Kahuman juga masih menjadi desa yang dikenal di Klaten. Letaknya pun sangat strategis yakni berada di Jalan Klaten Boyolali Km 4, yang merupakan bagian dari jalan provinsi. Penduduk di desa tersebut juga terus berkembang, beberapa di antaranya bekerja sebagai petani, buruh, bahkan PNS.
Desa Sawai, Maluku

Keterangan mengenai keberadaan Desa Sawai di Maluku sangat terbatas dan cenderung sulit ditemukan. Namun, berdasarkan cerita penduduk lokal, Desa Sawai pertama kali dibangun oleh para pedagang Arab yang datang ke Pulau Seram, jauh sebelum Spanyol, Portugis, maupun Belanda, datang ke Maluku.
Sehingga wajar saja bila kita berkunjung ke desa ini akan banyak sekali menemukan nuansa budaya Arab, seperti musik gambus dan baju gamis. Selain itu banyak juga terlihat warga desa yang berparas mirip seperti orang Arab yang identik dengan hidungnya yang mancung.
Sebagian besar warga Desa Sawai bermatapencarian sebagai nelayan, ada juga yang berkebun dengan hasil berupa palawija dan buah-buahan.
Desa Banyuurip, Purworejo, Jawa Tengah
Banyuurip adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Dalam bahasa Jawa Banyuurip berarti "air kehidupan".
Kecamatan Banyuurip beribukota di Desa Banyuurip, letaknya yang strategis di pinggir Jalan PUK Banyuurip, atau sekitar 7 kilometer dari Purworejo.
Desa ini digadang-gadang sebagai desa tertua di Kabupaten Purworejo. Bahkan, konon lebih tua dan sudah ada jauh sebelum Kota Purworejo berdiri, yakni pada zaman pemerintahan Kerajaan Majapahit.
Banyuurip sendiri memiliki kisah yang menarik. Secara turun temurun, cerita tentang asal muasal desa ini adalah ketika Nyi Putri Galuhwati dan Pangeran Joyokusumo (putra Brawijaya II) dalam perjalanannya diusir dari Majapahit, karena Pangeran Joyokusumo tidak mau menghadap ayahnya dalam pertemuan kerajaan dan hanya bermain adu burung puyuh sakti.
Selanjutnya dalam perjalanan ke arah Barat, Nyi Putri Galuhwati merasa haus dan minta minum. Pangeran Joyokusumo kemudian menancapkan Keris Panubiru miliknya, lalu muncullah air dari bekas tancapan keris tersebut, dan daerah tersebut dinamakan Banyuurip.
Kemudian, Raden Joyokusumo mendirikan sebuah bangunan yang digunakan untuk bertapa. Bangunan tersebut diberi nama Perigi yang artinya "mendatangi" (dalam bahasa Jawa), karena setelah muncul mata air atau sumur, datanglah orang-orang dari luar kota yang ingin menetap di sana.
Istilah Banyu Urip itu sendiri, seperti dikatakan di atas, diambil dari kata banyu dan urip, yang bermakna air kehidupan, karena saat Galuhwati hampir mati, air yang muncul dari tanah bekas tancapan keris adalah memberi kehidupan bagi Galuhwati.
Editor: Barnas | Sumber: Netralnews.com
Editor: Barnas | Sumber: Netralnews.com
