KOMPETENSI DASAR
3.10 Perjuangan
bangsa Indonesia dalam upaya Menganalisis strategi dan bentuk perjuamempertahankan
kemerdekaan dari ancaman Sekutu dan Belanda
MATERI
PEMBELAJARAN
Bentuk
dan strategi perjuangan menghadapi ancaman Sekutu dan strategi perjuangan
menghadapi ancaman Belanda
Sub
Materi : Bentuk
dan strategi perjuangan menghadapi ancaman Sekutu
Kelas/Semester : X.SMK/Semester
Genap
Agresi Militer Belanda II
Belanda memang tak rela begitu saja mengakui kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945. Hal itu ditandai dengan kedatangannya kembali ke Indonesia dengan cara menumpangi tentara sekutu, berdalih ingin mengurus para tawanan perang. Dibalik itu semua, Belanda menaruh siasat lain supaya kembali menguasai Indonesia.
Tujuan Belanda tersebut tentu mendapatkan perlawan dari bangsa Indonesia yang tak rela negaranya kembali dijajah. Berbagai pertempuran tercatat banyak terjadi diberbagai daerah Republik Indonesia sebagai upaya untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kedatangan Belanda. Meski sebelumnya telah diambil jalan damai oleh pihak Indonesia dan Belanda, namun pada kenyataannya Belanda banyak melanggarnya.
Salah satunya perjanjian Renville. Tanda-tanda bahwa Belanda akan melanggar perjanjian Renville sudah tercium oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh karena itu pemerintah dan TNI sudah memperhitungkan bahwa sewaktu-waktu Belanda akan malakukan aksi militernya untuk menghancurkan RI dengan kekuatan senjata. Untuk menghadapi kekuatan Belanda, maka dibentuk Markas Besar Komando Djawa (MBKD) yang dipimpin oleh A.H. Nasution dan Hidayat.
Tujuan Belanda tersebut tentu mendapatkan perlawan dari bangsa Indonesia yang tak rela negaranya kembali dijajah. Berbagai pertempuran tercatat banyak terjadi diberbagai daerah Republik Indonesia sebagai upaya untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kedatangan Belanda. Meski sebelumnya telah diambil jalan damai oleh pihak Indonesia dan Belanda, namun pada kenyataannya Belanda banyak melanggarnya.
Salah satunya perjanjian Renville. Tanda-tanda bahwa Belanda akan melanggar perjanjian Renville sudah tercium oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh karena itu pemerintah dan TNI sudah memperhitungkan bahwa sewaktu-waktu Belanda akan malakukan aksi militernya untuk menghancurkan RI dengan kekuatan senjata. Untuk menghadapi kekuatan Belanda, maka dibentuk Markas Besar Komando Djawa (MBKD) yang dipimpin oleh A.H. Nasution dan Hidayat.
Didugaan itu nyatalah terjadi, pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melancarkan
agresinya yang kedua. Sebelum pasukan Belanda begerak lebih jauh, Van Langen
(wakil jenderal Spoor) berbisik kepada Van Beek (komandan lapangan agresi II):
“overste tangkap Sukarno, Hatta, dan Sudirman, mereka bertiga masih ada di
istana”, demikian perintah pimpinan Belanda terhadap ketiga pimpinan nasional
kita.
Agresi militer II itu telah menimbulkan bencana militer maupun politik bagi mereka walaupun mereka tampak memperoleh kemenangan dengan mudah. Dengan taktik perang kilat, Belanda melancarkan serangan di semua front RI. Serangan diawali dengan penerjunan pasukan-pasukan payung di Pangkalan Udara Maguwo dan dengan cepat berhasil menduduki ibu kota Yogyakarta.
Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta memutuskan untuk tetap tinggal di Ibukota, meskipun mereka tahu akan ditawan musuh. Alasannya, agar mereka dengan mudah ditemui oleh TNI, sehingga kegiatan diplomasi dapat berjalan terus. Disamping itu, Belanda tidak mungkin melancarkan serangan secara terus-menerus, karena Presiden dan wakil Presiden sudah ada di tangan musuh.
Agresi militer II itu telah menimbulkan bencana militer maupun politik bagi mereka walaupun mereka tampak memperoleh kemenangan dengan mudah. Dengan taktik perang kilat, Belanda melancarkan serangan di semua front RI. Serangan diawali dengan penerjunan pasukan-pasukan payung di Pangkalan Udara Maguwo dan dengan cepat berhasil menduduki ibu kota Yogyakarta.
Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta memutuskan untuk tetap tinggal di Ibukota, meskipun mereka tahu akan ditawan musuh. Alasannya, agar mereka dengan mudah ditemui oleh TNI, sehingga kegiatan diplomasi dapat berjalan terus. Disamping itu, Belanda tidak mungkin melancarkan serangan secara terus-menerus, karena Presiden dan wakil Presiden sudah ada di tangan musuh.
Sebagai
akibat dari keputusan itu, Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta beserta
sejumlah Menteri, Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Suryadarma dan lainnya juga
ikut ditawan tentara Belanda. Namun kelangsungan pemerintahan RI dapat
dilanjutkan dengan baik, karena sebelum pihak Belanda sampai di Istana,
Presiden Sukarno telah berhasil mengirimkan radiogram yang berisi mandat kepada
Menteri Kemakmuran Syafruddin Prawiranegara yang sedang melakukan kunjungan ke
Sumatera untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Perintah sejenis juga diberikan kepada Mr. A.A. Maramis yang sedang di India. Apabila Syafruddin Prawiranegara ternyata gagal melaksanakan kewajiban pemerintah pusat, maka Maramis diberi wewenang untuk membentuk pemerintah pelarian (Exile Goverment) di luar negeri.
Perintah sejenis juga diberikan kepada Mr. A.A. Maramis yang sedang di India. Apabila Syafruddin Prawiranegara ternyata gagal melaksanakan kewajiban pemerintah pusat, maka Maramis diberi wewenang untuk membentuk pemerintah pelarian (Exile Goverment) di luar negeri.
Sementara
itu, Panglima Besar Jenderal Sudirman yang sedang sakit harus dirawat oleh dr.
Suwondo selaku dokter pribadinya di rumah di kampung Bintaran. Setelah
mendengar Belanda melancarkan serangan, Jenderal Sudirman segera menuju istana
Presiden di Gedung Agung. Ketika mengetahui Presiden, Wakil Presiden, dan
beberapa pemimpin lainnya ingin tetap bertahan di ibu kota, maka Jenderal
Sudirman, dengan para pengawalnya pergi ke luar kota untuk mengadakan perang
gerilya.
Para ajudan yang menyertai Jenderal Sudirman, antara lain Suparjo Rustam dan Cokropranolo. Sedangkan pasukan di bawah pimpinan Letkol Soeharto terus berusaha menghambat gerak maju pasukan Belanda. Kemudian beberapa tokoh militer vang mengikuti jejak Jenderal Sudirman, antara lain Kolonel Gatot Subroto, dan Kolonel TB. Simatupang.
Para ajudan yang menyertai Jenderal Sudirman, antara lain Suparjo Rustam dan Cokropranolo. Sedangkan pasukan di bawah pimpinan Letkol Soeharto terus berusaha menghambat gerak maju pasukan Belanda. Kemudian beberapa tokoh militer vang mengikuti jejak Jenderal Sudirman, antara lain Kolonel Gatot Subroto, dan Kolonel TB. Simatupang.
Aksi militer
Belanda yang kedua ini ternyata menarik perhatian PBB, karena Belanda secara
terang-terangan tidak mengikuti lagi Persetujuan Renville di depan Komisi Tiga
Negara yang ditugaskan oleh PBB. Pada tanggal 24 Januari 1949, Dewan Keamanan
PBB membuat resolusi, agar Republik Indonesia dan Belanda segera menghentikan
permusuhan dan membebaskan Presiden RI dan para pemimpin politik yang ditawan
Belanda. Kegagalan Belanda di medan pertempuran serta tekanan dari AS yang
mengancam akan memutuskan bantuan ekonomi dan keuangan, memaksa Belanda untuk
kembali ke meja perundingan
Sumber:
Buku Cetak Sejarah Indonesia. 2014. SMA/MA
SMK/MAK Kelas XI/2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.
