Kisah Pemetik Kopi di Lampung Barat


Kisah Pemetik Kopi Lampung Barat | foto: Ari Hidayat

Beranda Desa - Lampung Barat - Perkebunan kopi di Indonesia tercatat yang terluas di dunia, Indonesia menempati urutan pertama dengan total luas perkebunan sekitar 1,3 juta hektar, disusul oleh negara di bagian Amerika Latin (Brasil) dan Vietnam sebagai negara dalam satu regional (Asia Tenggara).

"Saat ini, area perkebunan kopi di Indonesia adalah sekitar 1,3 juta hektar, diikuti oleh Brasil dengan 600 hektar, dan Vietnam dengan 400 ribu hektar," dilansir Republika.com 

Menempati urutan perkebunan kopi terluas di dunia bagi Indonesia rasanya biasa-biasa saja mengingat luas wilayah Indonesia dirasa lebih luas dari negara-negara yang disebutkan di atas.

Dan serasa menjadi tidak ada artinya jika luas perkebunan kopi tidak sebanding dengan hasil produksinya, atau belum berhasil memberi penghidupan yang layak bagi masyarakat di sentra-sentra produksi kopi, terlebih seperti buruh petik biji kopi (Baca: Mutil dalam bahasa Jawa).

Tantangan industri kopi Indonesia memang terlihat kompleks, salah satu faktor yang mempengaruhinya ialah sektor pemasaran. Di pasar internasional, kopi Indonesia dituntut mampu melampaui kualitas produksi kopi dari negara-negara produsen internasional lainnya jika ingin memiliki nial jual yang tinggi.

"Adanya pesaing-pesaing terbesar Indonesia seperti Brazil, Colombia, Guatemala, Costa rika, Meksiko mendorong industri perkopian Indonesia untuk meningkatkan kualitas kopinya serta kemampuannya untuk bersaing di pasar Internaional," repository.ipb.ac.id

Keterkaitan pasar dan petani kopi saya rasa tidak bisa dipisahkan, analisa sederhananya semakin banyak permintaan barang akan semakin meningkatkan produksi dan income di tingkat bawah, ini seolah mata rantai yang saling bertalian. Namun kenyataan yang terjadi tidak sesederhana itu, proses produksi kopi rupaya juga memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Sehingga bila dikalkulasikan antara pengeluaran biaya perawatan dan segala macamnya berbanding tipis dengan penghasilan yang didapat oleh petani apabila tidak mau dibilang rugi.

Pemetik Kopi di Perkebunan Kopi Desa Mekarsari, Pagar Dewa, Lampung Barat | Foto: Ari Hidayat

Jamil Musanif perwakilan dari Koperasi Kopi Indonesia Sejahtera (Kopkis) dalam Republika.com pernah mengatakan selain masalah produktivitas, ada masalah lain yang membelit perkopian di Indonesia yakni ketidakadilan dari segi pendapatan antara petani yang bergerak di hulu dengan di hilir. Jamil berharap ke depannya jurang pendapatan tersebut dapat dipersempit.

Hal ini menjadi menarik diperhatikan, namun sebelumnya, petani yang disinggung Musanif perlu dipersempit pemaknaannya. Petani dalam kerangka pikir kita maknai sebagai pemilik lahan atau perkebunan kopi, sedangkan pada strata sosial ini masih ada yang lebih rendah yakni buruh yang bekerja kepada pemilik perkebunan kopi.

Ari Hidayat misalnya, pemuda asal Kabupaten Pringsewu sengaja datang untuk bekerja sebagai pemetik (Mutil) buah kopi di perkebunan kopi milik salah satu warga Desa Mekarsari, Pagar Dewa, Lampung Barat. Konon, setiap musim panen tiba, ia bersama beberapa temannya yang lain biasa menjadi buruh petik musiman.

Hidup jauh dari daerah asal dan keluarga, suka duka kerap ia rasakan, ditambah harus tinggal berbulan-bulan di tengah perkebunan selama memanen kopi. "Aktivitas sehari-hari ya memetik kopi dari pagi sampai sore, malam istirahat, esok harinya kembali ke kebun terus sampai selesai masa panen," ungkapnya.

Terkadang saat memetik buah kopi dengan kontur tanah berada dikemiringan 60-70 derajat ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyeimbangkan tubuh supaya tidak terpeleset. Tak jarang buah kopi hasil petikannya tumpah berserakan ketika mengalami insiden seperti itu.

Satu karung biji kopi yang dipetik dari beberapa batang pohon kopi Ari mendapat upah 25.000 sampai 35.000 rupiah tergantung ukuran besar dan kecilnya karung. Dari pukul 08.00 sampai 17.00 maksimal menghasilkan 8 (Delapan) karung biji kopi, itupun jika didukung oleh kondisi batang kopi lebat dan kontur tanah yang tidak terjal, terlebih bila di batang pohon kopi terdapat sarang semut atau lebah proses pemetikan menjadi terhambat dan berefek kepada pendapatan.

Buah kopi yang baru dipetik dikumpulkan dalam karung | Foto: Ari Hidayat


"Saya bekerja di sini diberi upah sesuai dengan hasil petik kopi, satu karung biji kopi yang saya kumpulkan upahnya 25.000-35.000 ribu, tergantung ukuran karungnya. Satu hari kalau buah kopinya lebat bisa dapat 8 (delapan) karung. Saya paling kesal jika sedang memetik kopi di pohonnya terdapat sarang semut dan kadang lebah, itu sangat menghambat karena buah kopi di pohon tersebut harus tetap di petik," jelas Ari.

Keberadaan Ari dengan empat orang rekannya di Desa Mekarsari, Pagar Dewa, Lampung Barat bisa sampai 1 (Satu) sampai 2 (dua) bulan. Setelah selesai masa panen ia akan kembali ke daerah asalnya di Pekon Siliwangi, Sukoharjo, Pringsewu. Meski pekerjaannya menjadi buruh petik kopi musiman serasa melelahkan, Ari tetap bersyukur. Upah yang ia dapatkan bisa untuk membantu perekonomian orang tua dan kebutuhan sehari-harinya sambil menunggu masa panen kopi selanjutnya.


Pemetik Kopi di Perkebunan Kopi Desa Mekarsari, Pagar Dewa, Lampung Barat | Foto: Ari Hidayat



Kolom Komentar

Previous Post Next Post