Dibangun di Bornai untuk Mengamankan Monopoli Rempah di Barat Lampung
Kehadiran awal VOC untuk berkuasa di Lampung daratan dimulai ketika survei mereka antara 22 Juni -16 Juli 1661 dengan dua buah kapalnya ke Teluk Semangka. Survei ini bertujuan untuk mencari tempat berlabuh yang baik sekaligus menyempurnakan peta yang dibuat oleh van de Cone. Sebelumnya VOC hanya menduduki pulau-pulau di sekitar Lampung seperti pulau Besi dan Sebesi. Secara de jure, VOC baru bisa menguasai perdagangan lada di Lampung sesudah 1682, ketika Kesultanan Banten di bawah Sultan Haji menyetujui konsesi penyerahan monopoli perdagangan lada seluruhnya kepada VOC. Sejak saat itu VOC berjaya di tanah lada. Permasalahan internal kesultanan hingga pemberontakan di daerah-daerah menjadi jalan VOC mendapatkan berbagai keuntungan dan semakin berkuasa, sebab Sultan Banten selalu meminta bantuan VOC dan konsekuensinya pertolongan itu harus dibayar sangat mahal.Sejak 1682, VOC mengontrol wilayah perdagangan lada (berikut perkebunannya) melalui perpanjangan tangan Sultan Banten yang bertahta. Tak terkecuali pembangunan benteng dan pos-pos pengawasan perdagangan lada, semua dibangun dan dibiayai oleh sultan dan diperuntukkan bagi VOC (Vlekke, 2016). Oleh karena itu, sering kali dijumpai dalam arsip VOC benteng-benteng dibangun dan menjadi milik pemerintahan sultan, tetapi hak penggunaannya penuh berada di tangan VOC serta dicatat dalam aset kekayaan VOC. Pengeluaran kongsi dagang ini menjadi semakin hemat tetapi keuntungan yang didapat makin menggunung.
Di Barat Lampung, untuk mengamankan monopoli atas rempahnya Belanda membangun paling tidak dua benteng pertahanan sekaligus sebagai gudang rempahnya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam vocsite.nl, benteng-benteng ini dibangun oleh Sultan Banten untuk mengamankan rempah di wilayahnya yang dalam urusan itu dikelola oleh VOC (tentu untuk keuntungan VOC sendiri). Benteng yang pertama dibangun adalah benteng Jonge Petrus Albertus van der Parra (dari nama Gubernur Jenderal VOC Petrus Albertus van der Parra yang berkuasa saat itu 1761-1775). Benteng ini dibangun pada tahun 1763 dan selesai tahun 1765 dengan sekitar 19 petugas VOC ditempatkan disini. Benteng berlokasi di muara sungai Way Bornai di tepi kiri Teluk Semangka yang juga merupakan pelabuhan terbesar di kawasan itu (pelabuhan Kota Agung saat itu belum ada). Benteng yang kedua adalah benteng Lampon Samanca yang dibangun antara tahun 1770-1775, berlokasi di sisi kanan Teluk Semangka dengan 15-20 pegawai VOC ditugaskan disini.
Di Timur Lampung, benteng VOC Valkenoog/Valkenburg (1738) di Menggala didirikan untuk mengamankan monopoli atas rempah, sebab kawasan pantai timur Lampung terbuka langsung menghadap Laut Jawa dan Selat Malaka yang menjadi jalur strategis perlintasan perdagangan dunia kala itu. Ditambah lagi, wilayah Tulang Bawang merupakan wilayah persengketaan antara Kesultanan Banten dengan Kesultanan Palembang yang juga sama-sama berkepentingan atas komoditi lada di daerah ini. Sedangkan di Barat Lampung, dua benteng didirikan (1763 dan 1770) sebab ancaman terhadap monopoli rempah lebih besar datang dari Kongsi Dagang Inggris EIC yang telah bercokol di sepanjang pesisir barat Bukit Barisan Selatan. Jika pesaing dagang lainnya yaitu Portugis dan Spanyol akhirnya dapat didesak Belanda, lain halnya dengan Inggris yang merupakan pesaing keras Belanda dan sulit disingkirkan. Paling tidak selama abad 17-18 terjadi lima (5) kali peperangan antara Inggris dengan Belanda yaitu 1) Antara tahun 1652-1654; 2) Antara tahun 1665-1667; 3) Antara tahun 1672-1674; 4) Antara tahun 1780-1784; dan tahun 1795. Peperangan itu semua terjadi setelah terbentuknya kongsi dagang, baik VOC maupun EIC dan tak lain dan tak bukan persaingan sengit perdagangan adalah penyebabnya. Persaingan keras yang selalu berujung peperangan antara keduanya baru dapat diselesaikan setelah disepakatinya Traktat London pada tahun 1824, yang membagi wilayah perdagangan Inggris dan Belanda di Semenanjung Malaka dan Hindia Timur.
Di Timur Lampung, benteng VOC Valkenoog/Valkenburg (1738) di Menggala didirikan untuk mengamankan monopoli atas rempah, sebab kawasan pantai timur Lampung terbuka langsung menghadap Laut Jawa dan Selat Malaka yang menjadi jalur strategis perlintasan perdagangan dunia kala itu. Ditambah lagi, wilayah Tulang Bawang merupakan wilayah persengketaan antara Kesultanan Banten dengan Kesultanan Palembang yang juga sama-sama berkepentingan atas komoditi lada di daerah ini. Sedangkan di Barat Lampung, dua benteng didirikan (1763 dan 1770) sebab ancaman terhadap monopoli rempah lebih besar datang dari Kongsi Dagang Inggris EIC yang telah bercokol di sepanjang pesisir barat Bukit Barisan Selatan. Jika pesaing dagang lainnya yaitu Portugis dan Spanyol akhirnya dapat didesak Belanda, lain halnya dengan Inggris yang merupakan pesaing keras Belanda dan sulit disingkirkan. Paling tidak selama abad 17-18 terjadi lima (5) kali peperangan antara Inggris dengan Belanda yaitu 1) Antara tahun 1652-1654; 2) Antara tahun 1665-1667; 3) Antara tahun 1672-1674; 4) Antara tahun 1780-1784; dan tahun 1795. Peperangan itu semua terjadi setelah terbentuknya kongsi dagang, baik VOC maupun EIC dan tak lain dan tak bukan persaingan sengit perdagangan adalah penyebabnya. Persaingan keras yang selalu berujung peperangan antara keduanya baru dapat diselesaikan setelah disepakatinya Traktat London pada tahun 1824, yang membagi wilayah perdagangan Inggris dan Belanda di Semenanjung Malaka dan Hindia Timur.
Diambil dari Nama Gubernur Jenderal VOC yang Dikenal Korup
Nama Petrus Albertus bukanlah nama sembarangan. Ia adalah nama seorang Gubernur Jenderal VOC ke-29 dan bernama lengkap Petrus Albertus van der Parra. Hidupnya penuh dengan kontroversi dan dikenal sebagai gubernur jenderal sangat korup dengan gaya hidup bermewah-mewahan. Banyak pihak tak menyukainya, jikalaupun ada, maka di sekelilingnya adalah para hipokrit yang senantiasa mencari perhatiannya untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. Maka kuat kemungkinan nama yang merujuk kapada putra lelakinya yaitu Jonge Petrus Albertus van der Parra disematkan menjadi nama benteng VOC di Teluk Semangka adalah dalam konteks hipokritasi bawahannya (istilah Jonge seperti Junior atau Jr. dalam bahasa Inggris). Van der Parra berulang kali dapat lolos dalam upaya percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Ia pada akhirnya meninggal karena sakit, meski hal tersebut masih sangat kontroversial, apakah ia memang benar-benar sakit secara alamiah atau sakit karena diracun. Petrus Albertus van der Parra merupakan anak dari Sekretaris Gubernur Srilanka, lahir pada tanggal 29 September 1714 dengan darah campuran (bukan murni Eropa). Perjalanan karirnya terbilang sangat cepat. Diawali ketika menginjak usianya 14 tahun sebagai juru tulis pada tahun 1728. Kemudian menjadi asisten tahun 1731 dan menjadi pemegang buku administrasi tahun 1732. Pada tahun 1736 ia dipindah-tugaskan ke Batavia dan mendapatkan posisi sebagai pemegang buku Sekretaris Jenderal. Pada tahun 1739 ia kembali naik jabatan, dan tahun 1741 ia menjadi Sekretaris Kedua Hoge Regering, berlanjut tahun 1747 ia naik menduduki jabatan Sekretaris Pertama Hoge Regering. Tak berhenti disitu, pada November 1747 ia menjadi anggota luar biasa Raad van Indie dan tahun 1751 berhasil menjadi anggota tetap Raad van Indie. Tahun 1752 ia menjadi Presiden College of Heemraden, dan pada 1755 ia menjadi Dewan Pertama dan Direktur Jenderal.
Puncak karirnya dimulai ketika pada tanggal 15 Mei 1761 van der Parra menggantikan Jacob Mossel sebagai Gubernur Jenderal VOC yang berkedudukan di Batavia. Pengukuhan jabatannya ditunda selama setahun, sebab ia ingin pengukuhannya dilaksanakan pada hari ulang tahunnya pada 29 September 1762 secara mahal dan mewah. Sejak saat itu hari ulang tahunnya dijadikan hari libur nasional untuk berpesta. Ia banyak tak disukai para pejabat tinggi, sebab van der Parra bukanlah seorang berdarah murni. Dimana ketika itu terdapat aturan bahwa seorang keturunan campuran tidak diperkenankan menduduki jabatan tinggi, apalagi posisi gubernur jenderal. Kemudahan perjalanan karir van der Parra dinilai karena posisi ayah dan kakeknya, ditambah setelah berpindah tugas ke Batavia ia banyak berteman dan berada di lingkungan para birokrat hipokrit “penjual” jabatan. Sehingga van der Parra dengan modal kekayaan dan koneksinya mudah untuk membuat Dewan XVII VOC menyetujui pengangkatan dirinya sebagai gubernur jenderal. Menjelang dekade terakhir keruntuhan VOC (1799) fenomena korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam tubuh VOC memang telah sangat marak. Meski dikenal kejam, namun pemerintahan van der Parra sangat lemah karena tata kelola birokrasi VOC sudah sangat rusak ditambah sikapnya yang hanya gemar bermewah-mewahan.
Tidak hanya semasa hidup van der Parra saja yang penuh kontroversi, beberapa tahun yang lalu (2017/2018) sebuah bangunan tua yang juga masih berkaitan dengan gubernur jenderal ini sempat membuat ramai dan kontroversi. Bangunan tua di Depok (Rumah Cimanggis atau Tjimanggis Landhuizen) yang merupakan bekas kediaman istri kedua Gubernur Jenderal van der Parra, yaitu Johanna van der Parra bakal diratakan dengan tanah karena berada di kawasan pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Hal ini semakin menjadi kontroversial ketika Jusuf Kalla mengeluarkan statement yang mempertanyakan untuk apa rumah istri kedua pembesar VOC yang korup masih dipertahankan. Sontak hal itu mengundang protes keras dari para pegiat sejarah di Kota Depok, yang menilai rencana penghancuran tersebut sebagai upaya menghilangkan bangunan bersejarah bernilai tinggi, yang memiliki nilai penting karena keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kota Depok.
Seperti seolah tertakdir diselimuti banyak kontroversi sejak hidup bahkan setelah meninggalnya, di Lampung informasi keberadaan benteng yang melekat nama Petrus Albertus van der Parra sekian lamanya simpang siur kebenaran hingga jejaknya. Sejak lama keberadaan benteng ini dianggap pernah berdiri di Menggala, di tepian sungai Way Tulang Bawang (baca tulisan sebelumnya “Mencari Jejak Benteng VOC Petrus Albertus Bag. 1”). Diduga miskonsepsi telah terjadi antara keberadaan benteng VOC Valkenoog/Valkenburg yang pernah berdiri di Menggala dengan benteng VOC Petrus Albertus yang dibangun di Tanggamus, Teluk Semangka. Meski pada akhirnya kedua benteng ini sama-sama telah hancur tak bersisa.
Setelah Dirangsek Inggris 1782, Tsunami Krakatau 1883 Meratakan Semuanya
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, Inggris merupakan pesaing terkuat bagi VOC di kawasan Nusantara. Kongsi Dagang Inggris (EIC) yang memiliki sebaran wilayah kekuasaan di sejumlah titik di tepi jalur pelayaran dari Barat ke Timur, kerap kali mengganggu dan menghadang kapal-kapal Belanda yang membawa muatan rempah dalam perjalanannya kembali dari Hindia Timur ke Eropa. Tidak hanya itu, di Hindia Timur persaingan fisik antara keduanya di wilayah perbatasan kekuasaan perdagangan mereka kerap kali terjadi. Wilayah Lampung yang kala itu menjadi dua wilayah penguasaan dua kongsi dagang ini, seperti menjadi panggung atas persaingan sengit antara keduanya. Ketiga benteng pertahanan VOC di Lampung pada akhirnya runtuh baik karena serangan Inggris langsung maupun karena sedikit banyak pengaruhnya.Secara internal rakyat Lampung mulai tertanam rasa kebencian terhadap kesewenang-wenangan VOC karena monopolinya sangat merugikan. Ditambah kekecewaan serta ketidaksukaan rakyat terhadap pihak Kesultanan Banten setelah jatuhnya Sultan Ageng Tirtayasa, dimana Sultan Haji dan para penguasa setelahnya lebih represif terhadap Lampung yang dijadikan lumbung lada melalui berbagai kewajiban disertai sanksi-sanksi yang sering ditulis dalam dalung-dalung dari Banten (tentu ini juga atas pengaruh VOC). Akibatnya, pada tahun 1738 pecah perlawanan Rakyat Abung dan pada tahun 1750-1752 juga terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Kyai Tapa, dimana menurut epos rakyat Menggala benteng Valkenburg akhirnya dapat dikuasai. Terdapat peran Inggris secara tidak langsung dalam berbagai perlawanan ini. Banyak rakyat yang secara diam-diam menjual hasil panen rempahnya tidak kepada VOC, melainkan kepada Inggris yang juga membaca situasi itu. Dengan demikian, rakyat dapat mengumpulkan biaya sebagai modal untuk melakukan perlawanannya terhadap VOC.
Di Teluk Semangka, benteng Petrus Albertus runtuh karena diserang dan dirangsek oleh Inggris pada tahun 1782. Tahun ini adalah bagian dari tahun-tahun sedang terjadinya Perang Inggris-Belanda Keempat (1780-1784) yang bertikai memperebutkan berbagai wilayah perdagangannya baik di Hindia Barat maupun di Hindia Timur. Frieda Amran dalam tulisannya yang berjudul “Benteng Belanda di Menggala” (dalam rubrik surat kabar Lampung Tumbai) juga menyinggung penyerangan Inggris terhadap Benteng VOC di Teluk Semangka ini. Disebutkan juga pemimpin Belanda di Teluk Semangka yakni Van der Ster pada akhirnya melarikan diri ke Banten dan benteng Petrus Albertus dihancurkan oleh Inggris. Lalu bagaimana dengan rakyat Lampung di Teluk Semangka, bukankah benteng itu didirikan oleh Sultan Banten yang merupakan penguasa mereka, dan serta ada juga pejabat perwakilan Kesultanan Banten berkedudukan di Teluk Semangka. Belum ditemukan sumber yang menjelaskan bahwa rakyat Lampung di Teluk Semangka membantu dalam mempertahankan benteng Petrus Albertus (yang dibangun oleh Sultan Banten, tetapi digunakan sepenuhnya oleh VOC) ketika diserang oleh Inggris pada waktu itu. Kemungkinan penyebabnya adalah rakyat Lampung telah lama tertekan atas monopoli rempah oleh VOC yang justru makin dilanggengkan oleh Kesultanan Banten melalui berbagai perjanjian politiknya.
Serangan tentara Kongsi Dagang Inggris ke Teluk Semangka pada tahun 1782 membuat benteng Petrus Albertus akhirnya runtuh, menyusul pemilik namanya yang telah meninggal sejak 1775. Reruntuhan benteng semakin tak bersisa ketika hempasan tsunami setinggi 36 meter menyapu habis seluruh kawasan pantai di sekitar Selat Sunda akibat letusan gunung Krakatau pada tahun 1883. Pelabuhan Bornai yang mulanya paling besar dan ramai di Teluk Semangka menjadi rusak porak poranda rata dengan tanah. Abu Sahlan dari Museum Kekhatuan Semaka menjelaskan bahwa setelah kejadian bencana alam mengerikan itu, penduduk Lampung yang masih selamat di kawasan pesisir di sekitar Bornai (termasuk leluhurnya), akhirnya memilih eksodus ke sisi barat Teluk Semangka. Sejak itu wilayah yang kini disebut Kota Agung dan sekitarnya semakin ramai dan bertumbuh. Sedangkan daerah sekitar Bornai telah sepi dan ditinggalkan, hingga beberapa abad kemudian para pendatang hadir dan mulai menempati wilayah Bornai itu kembali.
Bersambung ke bagian 3.....
Bersambung ke bagian 3.....
Penulis:
Kian Amboro – Pegiat Sejarah. Baca juga artikel Sejarah lainnya dari Kian Amboro
Kian Amboro – Pegiat Sejarah. Baca juga artikel Sejarah lainnya dari Kian Amboro
(Berandadesa.com - Sejarah)
