Empat Mahasiswa Indonesia Bersuara Di Forum Internasional




Empat mahasiswa Indonesia di forum internasional yang dimaksud adalah Mohammad Hatta, Nazir St. Pamuntjak, Abdulhamid Djojoadhiningrat, dan Ali Sastroamidjojo, dimana ke empatnya tergabung dalam Perhimpunan Indonesia, yang bergerak di Den Haag, Belanda.

Ke empat mahasiswa tersebut aktif menyuarakan Indonesia Merdeka lewat penerbitan majalah, kemudian mereka juga aktif mengirimkan delegasi pada forum-forum internasional. 

Ali Sastroamidjojo pada ceramahnya di Gedung Kebangkitan Nasional tahun 1974 yang diprakarsai oleh yayasan Idayu menuturkan demikian seperti Beranda Desa himpun di bawah ini:

Perhimpunan Indonesia menerbitkan majalah berjudul Indonesia Merdeka. Sebab nama itu menggambarkan cita-cita bangsa kita,  dan tujuan pergerakan kemerdekaan nasional rakyat Indonesia.

Cita-cita yang terkandung didalam dua perkataan itulah pula yang pada waktu itu memberikan semangat dan ketekunan para mahasiswa di negeri Belanda untuk belajar, tetapi juga semangat perjuangan. Di dalam majalah “Indonesia Merdeka” itulah kami melontarkan kritik dan serangan terhadap politik kolonial Belanda di negeri kita.

Tulisan-tulisan kami keras, tajam dan berdasarkan ilmu pengetahuan telah menelanjangi pemerintah Belanda. Bahasa yang kami pakai adalah bahasa Belanda, agar suara kami didengar oleh penguasa-penguasa Belanda dan rakyat di Nederland mengetahui tentang kekejaman dan ketidakadilan yang dijalankan di Indonesia atas nama mereka.

Seperti itulah penuturan dari Ali Sastroamidjojo. Meski ia dan ketiga rekannya jauh dari tanah air namun semangat memerdekakan bangsanya terus ia perjuangkan. 

Tercatat berbagai forum internasional ia ikuti sebagai tempat mempropagandakan keinginan bangsa Indonesia Merdeka. Masih pada kesempatan yang sama, beberapa forum internasional itu ia jelaskan dengan terang benerang.

Forum Internasional Pertama

Forum Internasional pertama yang memberi kesempatan kepada Perhimpunan Indonesia untuk mempropagandakan Indonesia dan perjuangan bangsa kita untuk mencapai kemerdekaan ialah “Congres democratique international pour la paix” (Kongres internasional demokratis untuk perdamaian), yang diadakan di Bierville, dekat Paris pada bulan Agustus 1926.

Perhimpunan Indonesia diwakili oleh Bung Hatta. Didalam pidatonya Bung Hatta yang ketika itu kira-kira masih berusia 24 tahun, mengutarakan dengan jelas tentang perjuangan rakyat kita untuk mencapai kemerdekaannya. Nama Indonesia untuk pertama kalinya ditonjolkannya didalam kongres tersebut.

Sudah barang tentu pemerintah Belanda mengetahui tentang apa yang terjadi didalam kongres Bierville itu dan menjadi sangat marahnya. Apalagi karena nama negeri jajahannya, Hindia Belanda, disajikan kepada kongres tersebut sebagai “Indonesia”, disertai dengan keterangan tentang tujuan pergerakan nasional kita, yaitu Indonesia Merdeka.

Padahal pemerintah Belanda sudah bertahun-tahun mempropagandakan bahwa rakyat Indonesia dibawah jajahanya, hidup makmur, bahagia dan dalam ketentraman, sehingga orang-orang negeri diluar Nederland, percaya bahwa pemerintahan kolonial Belanda adalah yang terbaik di dunia (The Best Colonial Administration). Maka dimengertilah betapa besar kemarahan Belanda terhadap pidato Bung Hatta di Bierille itu.

Hal yang menarik dari penuturan Ali adalah usia yang masih tergolong muda yaitu 24 tahun, Bung Hatta dengan berani dan tegas menyatakan kalimat Indonesia Merdeka di forum internasional jauh lebih dulu dari kawan semasanya di Tanah Air. 

Bung Karno pun menyampaikan pembelaannya di depan pengadilan Hindia Belanda Landraad yang berjudul Indonesia Menggugat baru pada tahun 1930 empat tahun setelah Bung Hatta. 

Dan hal yang baru kita ketahui bahwa ternyata pemerintah Belanda membuat kebohongan kepada dunia bahwa kekuasaannya di Hindia Belanda telah membuat rakyat Hindia Belanda atau Indonesia hidup makmur, bahagia dan tentram, padahal sebaliknya.

Sehingga akibat pidato Bung Hatta yang membongkar kebohongannya pemerintah Belanda meradang dan dikemudian hari menyeret Bung Hatta ke dalam penjara.  

Forum Internasional Kedua 


Kedua, forum internasional yang dimanfaatkan oleh mahasiswa dalam sebuah organisasi bernama Perhimpunan Indonesia adalah Kongres Liga Anti Imperialisme dan Penindasan Kolonial yang diadakan di Brussel, ibukota Belgia yang diadakan pada tanggal 10 sampai 15 Pebruari 1927. 

Pada kongres internasional kedua ini menurut Ali Sastroamidjojo begitu sangat mengesankan sehingga mendapatkan sambutan yang baik sekali. Hal yang menjadi menarik menurut Ali Sastro karena kehadiran orang-orang yang mewakili bangsa yang sedang terjajah oleh bangsa lain. 


Mata Internasional seakan dibuat kagum dan berkembang rasa simpati mereka oleh sebab kehebatan para propagandis menyuarakan keadaan tanah Hindia Belanda yang sebenarnya selama berada di bawah kekuasaan pemerintah Belanda. 

Pada kongres ini delegasi Indonesia berhasil menyuguhkan suatu resolusi dan diterima juga diputuskan oleh kongres tersebut. Menurut Ali Sastro resolusi itu mencakup dua poin yaitu pertama, memberi simpati pada pergerakan kemerdekaan Indonesia dan senantiasa penyokongnya dengan apa pun juga.

Kedua, menuntut pemerintah Belanda supaya bangsa Indonesia mendapat kebebasan penuh untuk bergerak, menghapuskan pengasingan-pengasingan dan hukuman-hukuman mati, serta memberi amnesti umum.

Pernyataan Ali tersebut seakan memberi pesan kepada kita bahwa meski jauh berada dari tanah air, rasa kebangsaan dan nasionalisme harus terus dijaga. 

Selain itu hal yang tak kalah penting yang Ali sampaikan pada ceramahnya tersebut adalah untuk mencapai cita-cita diperlukan semagat dan ketekunan. 


Empat pemuda ini mencontohkan pentingnya pendidikan untuk mempertajam pengetahuan generasi muda supaya mampu bersaing di muka internasional
.

INDONESIA merupakan sebuah negara kepulauan dengan berbagai kekayaan alam yang melimpah. Negara ini indah, penuh keberagaman. Sehingga kekhasannya itu membuat namanya besar dikancah internasional. 

Di satu sisi hal ini menjadi anugerah dan di sisi lainnya menjadi petaka. Bagaimana tidak, negara dengan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya akan banyak menyedot perhatian dunia. 

Bukan tidak mungkin penjajah kembali hadir ke negeri ini, di beberapa seminar nasional para pemerhati keamanan dan pertahanan mensinyalir akan adanya perebutan energi di beberapa tahun ke depan. 

Negara-negara besar dunia akan sangat besar kemungkinannya menaruh kepentingan di Indonesia. Tentu kita tidak ingin, nasib ratusan tahun dimonopoli dan dijajah terulang kembali dikemudian hari.

Tulisan ini merupakan kumpulan dari pernyataan Ali Sastroamidjojo yang menceritakan perjuangannya selama di Nederland. Kisah ini perlu kita resapi sebagai sebuah upaya mengenal perjuangan meraih dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Kolom Komentar

Previous Post Next Post