Pegangan Hidup Sang Proklamator "Dr. H. Mohammad Hatta"


PEGANGAN HIDUP SANG PROKLAMATOR



Di Desa atau Kampung Aur Tanjungkang lahirlah seorang anak laki-laki buah cinta sepasang suami istri yang kelak tumbuh dan berkembang sebagai sosok pemimpin rakyat yang berjuang mewujudkan kemerdekaan hingga menyandang sebutan sang proklamator.

Ia merupakan seorang yang dalam dirinya mengalir darah Sumatera. Bung Hatta atau Dr. H. Mohammad Hatta lahir di Bukitinggi, Sumatera Barat tanggal 12 Agustus 1902. 

Ketika lahir sebenarnya bernama Mohammad Athar, yang menurut bahasa Arab berarti “Harum”. Kakeknya berharap nama Athar membawa sang cucu menjadi seorang yang mashur dan harum namanya.

Athar atau Hatta kecil lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Selain itu ia juga besar dari keluarga pedagang. 

Keadaan ini membuat Hatta kecil banyak menerima ajaran-ajaran mengenai pandangan hidup yang berlandaskan Islam. Dan kelak kebiasaan berdagang yang diajarkan oleh keluarganya mendorong Hatta dewasa menekuni bidang ekonomi. 

Islam yang dikenalkan pada Hatta kecil dikemudian hari membentuk keteguhan ketika ia dewasa. Bagaimana tidak, sebagai pemimpin dari rakyat yang sedang terjajah tentunya ia akan menerima konsekuensi yang berat. Berbagai tindakan-tindakan diskriminatif dari pemerintah berkuasa ketika ia menuntut kemerdekaan bagi rakyat dan bangsanya sering kali ia terima.

Bung Hatta di Nederland

Peristiwa saat di Nederland contohnya, pertama kali Bung Hatta dipenjarakan oleh pemerintah Belanda. Ketika itu ia sedang menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi di Rotterdam. Hal yang menimpanya ini karena ia dianggap telah melakukan kegiatan politik di organisasi Perhimpunan Indonesia.

Kompas, 15 Maret 1980, mengabarkan "Selama belajar di Nederland, Hatta aktif sebagai anggota Perhimpoenan Indonesia dan dari tahun 1926 sampai 1930 menjadi ketua perhimpunan tersebut. 


Karena aktivitas politiknya, tahun 1927 dia ditahan dalam penjara selama lima setengah bulan di Den Haag oleh Pemerintah Belanda. Tanggal 22 Maret 1928 dia dibebaskan dari segala tuntutan atas pembelaannya yang terkenal “Indonesia Vrij” (Indonesia Merdeka).

Itulah salah satu konsekuensi berat yang harus diterima oleh seorang Hatta. Cita-cita mulianya selalu mendapat hadangan dari pemerintah kolonial. Namun Hatta berjiwa teguh, mentalnya telah membaja. Hukuman yang ia terima dianggap sebagai cambuk, bahwa tidak ada kata lain selain mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka.

Bung Hatta Kembali ke Indonesia

Tidak selesai sampai disitu. Setelah studinya selesai dan ia terbebas dari hukuman di Nederland, Bung Hatta pulang kampung. Sepulangnya dari Nederland tercatat beberapa kali ia diasingkan dan dipenjarakan. 

Mulanya ia mendirikan PNI (Pendidikan Nasional Indonesia). Karena pergerakannya di PNI ini dianggap berbahaya dan mengancam kedudukan pemerintah Belanda, maka pada tanggal 25 Februari 1934 Bung Hatta kembali dipenjarakan. 

Seperti yang diberitakan oleh surat kabar Pikiran Rakyat, p
ada tahun 1932, setelah lulus ujian Sarjana Ekonomi Bung Hatta kembali ke Indonesia. Begitu tiba di Indonesia ia langsung bergabung dengan rekan-rekannya dalam perjuangan merebut kemerdekaan.


Mula-mula ia mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) yang diharapkan akan bisa menjadi pengganti Partai Nasional Indonesia buatan Ir. Sukarno yang dibubarkan pada tahun 1930. Tanggal 25 Februari 1934 Bung Hatta ditangkap oleh Pemerintah Belanda dan dihukum satu tahun penjara. 

Setelah habis menjalani masa hukumannya, Bung Hatta pada bulan Februari 1935 dibuang ke Boven Digul (Irian) sampai tahun 1936, dan dari tahun 1936 hingga Januari 1942 dibuang lagi ke Banda Neira yang akhirnya kemudian pembuangannya dipindahkan ke Sukabumi.”

Bisa dibayangkan, betapa berat dan menderitanya hidup seorang Bung ketika itu. Aktivitasnya membela kepentingan bangsa selalu dihadapkan pada konsekuensi berat yang bermuara pada penghukaman atas dirinya. Boven Digul, Banda Neira merupakan daerah yang sangat ditakuti oleh para tahanan pemerintah Belanda. 

Namun Bung Hatta tak dapat mengelak, ia merupakan salah satu tokoh pejuang dari sekian banyak pejuang yang diasingkan ke daerah itu. Tentang perlakuan semena-mena, kelaparan, dinginnya alam, wabah penyakit dan lain-lain.


Hal ini tentu akan membuat  mental seseorang terjatuh serta kejiwaannya terganggu. Namun tidak dengan bung Hatta, ia bak seorang tokoh superhero di film-film Holliwood. Ia seolah-olah selalu memiliki strategi dalam hal perjuangan.

Usut punya usut Bung Hatta memang memiliki sebuah resep atau pegangan hidup. Beliau meyakini hal ini sepanjang hidupnya dan hampir tidak pernah terpisahkan dari setiap aktivitas perjuangan. 

Panji Masyarakat, April 1980 memuat memoar Bung Hatta yang menulis tentang pegangan hidupnya.

Kita manusia dan segala yang hidup di atas dunia ini adalah baru. Alam, Matahari bulan dan bintang, semuanya baru. Semuanya buatan Tuhan. Segala yang terjadi ada yang menjadikannya. Ada awal, ada akhirnya. Tuhan yang menjadikan tidak baru, ada selama-lamanya, tunggal, tidak dijadikan. Segala yang dijadikan sifatnya baru dan Tuhan tidak baru. 


Allah yang tunggal tidak dapat serupa atau sama dengan yang dijadikannya. Kalau serupa dan sama, itu tidak tunggal lagi. Oleh karena itu Allah adalah zat yang tidak serupa dengan yang baru. Tidak dapat digambarkan dengan rupa manusia, tidak dapat dikatakan dengan bentuk dan rupa yang ada di dunia ini. 


Yang kita tahu hanya Allah ada, sebab dibuktikan dengan yang dijadikanNya. Segala yang dijadikan Allah itu akan berakhir pada hari kiamat. Allah yang ada selama-lamanya itu, mengetahui semuanya dan mendengar semuanya. Allah Maha Besar dan Maha Kuasa. 


Dengan cinta dan tawakkal kepada Allah kita dapat merasakan adanya Tuhan. Tidak ada tempat takut, hanya Allah. Orang Islam yang berjalan di atas jalan Allah tidak perlu gentar, tidak perlu takut, sekalipun berada seorang diri. Ia tidak perlu merasa terpencil, tersendiri di tempat sunyi dan jauh sekalipun. Allah senantiasa di sisinya. Inilah pangkal kekuatan baginya...”



Baca Juga Bung Hatta Kritik Sukarno Lewat Artikel Demokrasi Kita
Terjawab rasanya, apa yang menjadi kekuatan dan keteguhan pada diri Bung Hatta, sehingga membuat ia gigih dan terus berjuang mewujudkan yang ia dan bangsanya cita-citakan. Penjara dan pengasingan seperti dilalui tanpa beban, tidak ada keluhan yang ia wariskan pada generasi setelahnya tentang penderitaan yang dialami.

Seolah-olah ia ingin berpesan kepada kita, bahwa dalam menjalani kehidupan terutama memperjuangkan cita-cita selain dengan kecerdasan akal juga harus disertai dengan keyakinan pada campur tangan Tuhan, pada "pertolongan Allah". 


Beliau berkata, dengan cara berserah diri dan mengingat Allah kita tidak akan pernah merasa sendiri dan sunyi, meski ditempat sesunyi Boven Digul dan Banda Naira. Bung Hatta sekali lagi mengajarkan pada kita tentang arti perjuangan.






Kolom Komentar

Previous Post Next Post