![]() |
Tradisi menulis lahir bersamaan dengan manusia mulai menyadari pentingnya menunjukan identitas diri. Dengan mengenal tulisan, menandakan bahwa manusia memasuki zaman sejarah. Dalam ilmu sejarah sendiri, tradisi penulisan sejarah Indonesia tergolong ke dalam tiga bagian periodisasi. Pertama Historiografi Tradisional, Historiografi Kolonial dan Historiografi modern.
Secara periodik kajian Historiografi Tradisional berlangsung sejak masa kerajaan Hindhu-Budha atau sejak bangsa Indonesia mengenal tulisan sampai dengan masuknya kolonialisme Barat, di abad ke-16 masehi.
Sebagian besar historiografi tradisional memuat tindakan-tindakan tidak
dari manusia, tetapi dari dewa-dewa. Didominasi oleh aspek magis religious,
berpusat pada masalah-masalah pemerintahan dari raja-raja yang berkuasa,
bersifat istana sentris yang mengutamakan keinginan dan kepentingan raja,
ditulis oleh para pujangga kraton, yang karya-karya mereka bertujuan untuk
melegitimasi kedudukan raja, dan oknum pengkisahnya tidak selalu diketahui
secara pasti.
Bukan bermaksud mengoreng atau menggodok ingatan kolektif masa lalu,
tapi hal ini memang masih terasa hingga kini meski masanya telah berlalu 5 abad
silam. Bila dihitung menurut akhir masa periodesasi Historiografi Tradisional, yaitu abad ke-16 (1501-1600).
Perlu kiranya kita garis bawahi dan tidak berlebihan bila kita berhipotesa, bahwa cikal bakal profesi
public relations itu sudah ada sejak negara ini masih dihuni oleh berbagai kerajaan. Lihat saja para
pujangga keraton, disamping tugasnya menulis hal magis religius, mereka juga
menulis karangan tentang raja-raja yang berkuasa. Tulisannya mengutamakan
dan sesuai dengan keinginan dan kepentingan raja. Tujuannya tidak ada hal lain
selain untuk melegitimasi kedudukan raja. Bedanya sekarang para pujangga itu
mudah dikenal publik.
Semakin jauh lagi membayangkan, terlintas di kepala apakah pujangga-pujangga yang dimaksud pada saat itu, posisinya kini
digantikan oleh para awak media pro pemerintah, humas pemerintah, atau profesi
lainnya yang tugas dan kewajibannya memberitakan kegiatan para pejabat, keluarga pejabat, kepala
daerah, hingga sosok presiden yang dipuja-puji?
Sedemikian pentingkah seorang pemangku kekuasaan membuat citra diri? Rasa-rasanya benar apa yang sering kita dengar, "kalo ingin berkuasa, integritas tak begitu penting, yang penting punya popularitas dan segudang uang dalam bankir".
Dan bila sedikit mengenang kembali jenis karya-karya dalam historiografi tradisional ketika itu biasanya berupa Prasasti, Babad dan Hikayat. Namun kini karya para penulis atau pujangga itu dituangkan dalam media modern. Bisa karya jurnalis, karya penelitian akademis atau sekedar tulisan yang dipublis lewat media sosial yang sedang berkembang.
Dan bila sedikit mengenang kembali jenis karya-karya dalam historiografi tradisional ketika itu biasanya berupa Prasasti, Babad dan Hikayat. Namun kini karya para penulis atau pujangga itu dituangkan dalam media modern. Bisa karya jurnalis, karya penelitian akademis atau sekedar tulisan yang dipublis lewat media sosial yang sedang berkembang.
