| Foto: Gapura Perbatasan Kota, Ganjar Agung-Metro Barat |
Dari beberapa pengalaman berkunjung keberbagai kabupaten/kota di provinsi Lampung, saya selalu mendapati berbagai bangunan ikon dan taman yang menghias kota. Salah satunya gapura perbatasan kota yang berhasil saya rekam ini.
Ketika kita melaju dari arah Tegineneng (Pesawaran) menuju Kota Metro, maka kedatangan kita akan disambut olehnya, red. gapura. Bangunan ini terletak di Kelurahan Ganjar Agung, Kecamatan Metro Barat, Kota Metro. Selain itu, gapura ini juga menjadi batas administratif antara Kota Metro dengan Kabupaten Lampung Tengah.
Sesaat setelah melewati gapura ini, kita akan langsung disambut beberapa taman dan jalur hijau sepanjang jalan menuju pusat kota. Sedikitnya akan mendapati delapan taman atau ruang terbuka hijau.
Seperti Taman Perbatasan Kota yang terlihat di foto, Taman Gajah, Taman Universitas Muhammadiyah Metro, Taman Simpang 3 Makam Pahlawan, Taman Prestasi Kencana, Taman Depan Gedung Sesat, Taman Samping Irigasi Kelurahan Ganjar Agung.
Seperti Taman Perbatasan Kota yang terlihat di foto, Taman Gajah, Taman Universitas Muhammadiyah Metro, Taman Simpang 3 Makam Pahlawan, Taman Prestasi Kencana, Taman Depan Gedung Sesat, Taman Samping Irigasi Kelurahan Ganjar Agung.
Foto: Taman Perbatasan Kota-Ganjar Agung-Metro Barat
Setelah melewati taman perbatasan kota, tidak berselang lama kita akan menjumpai Taman Gajah dan Taman Universitas Muhammadiyah Metro. Seperti yang tergambar di bawah ini.
Foto: Taman Universitas Muhammadiyah Metro-Ganjar Agung-Metro Barat
Kehadiran karya arsitektur ini memang memberikan pesan keindahan. Kota terlihat indah dan rapih, apalagi bila kita
menjumpainya di malam hari. Hiasan warna-warni lampunya semakin menambah nilai estetika
tersendiri.
Tapi hal ini bukan lagi jadi keanehan,
hampir di setiap kota di Lampung. Bahkan bisa jadi kota-kota seluruh Indonesia sedang sibuk mempersolek wajah kotanya, dibandingkan memperindah kehidupan warga masyarakatnya.
Tidak salah memang, sebab bisa saja ornamen-ornamen itu sebagai pengejewantahan dari keadaan jati diri yang memuat berbagai macam unsur yang terdapat di wilayahnya. Namun berbagai kritik tentunya juga tidak sedikit, karena menilai bahwa sudah semestinya pembangun fisik ini diimbangi dengan nonfisik.
Melihat fenomena semacam ini, saya penasaran dan coba mencari tau tentang tata kota. Salah satu
referensi yang berhasil saya dapat menyebutkan bahwa seni memperindah kota ternyata
mengandung makna estetika dan filisofi manusia yang mewakili budaya setempat.
Seperti dilansir dari Bugiswara.com “Ikon kota adalah sebuah karya arsitektur (seni menata ruang
dan menemukan bentuk). Dan karya arsitektur adalah sebuah hasil dari kajian
estetika dan makna (filosofi) manusia dan budaya yang diwakili.”
Foto : Taman Samping Irigasi Ganjar Agung
Lagi-lagi, jika kita amati, ikon kota sama halnya sebagai bentuk yang dibangun menyerupai sesuatu yang dimaksudkan untuk menyampaikan beberapa pesan yang mencerminkan identitas karakter masyarakat, identitas budaya, tatanan sosial, identitas keagamaan, budaya masa lalu, Sejarah, simbol kekuasaan, kejayaan, kejayaan ekonomi, kejayaan teknologi, atau pengharapan ke masa yang akan datang.
Terlepas dari pengertian di atas, semoga pesan yang tersirat di dalam ornamen kota itu bisa dipahami warga masyarakatnya. Dan fungsinya tidak sebatas simbol kejayaan atau kekuasaan pemangku kepentingan.