A.
Latar
Belakang
Diterimanya
perjanjian Renville dan adanya agresi militer Belanda I menimbulkan perpecahan
di dalam negeri. Sikap yang diambil kabinet Amir Syarifudin dianggap terlalu
menguntungkan Belanda. Sehingga pada tanggal 23 Januari 1948 kabinet Amir
Syarifudin yang merupakan kabinet “sayap kiri” harus mengundurkan diri.
Penyebab mundurnya Amir Syarifudin karena partai Masyumi dan PNI protes dengan menarik para menteri-menteri akibat diterimanya persetujuan Renville. Sebab, persetujuan Renville dianggap terlalu menguntungkan pihak Belanda. Hasil persetujuan Renville membuat wilayah Indonesia semakin berkurang, selain itu Belanda juga melakukan Blokade ekonomi terhadap Indonesia.
Penyebab mundurnya Amir Syarifudin karena partai Masyumi dan PNI protes dengan menarik para menteri-menteri akibat diterimanya persetujuan Renville. Sebab, persetujuan Renville dianggap terlalu menguntungkan pihak Belanda. Hasil persetujuan Renville membuat wilayah Indonesia semakin berkurang, selain itu Belanda juga melakukan Blokade ekonomi terhadap Indonesia.
Atas
pengunduran diri Amir Syarifudin, Presiden Soekarno menunjuk Muhammad Hatta untuk
memimpin sebuah “kabinet presidensil” darurat. Kabinet ini tidak bertanggung
jawab kepada KNIP, melainkan langsung kepada presiden Soekarno.
Hatta yang memegang kendali atas kabinet ini segera menyusun anggota kabinetnya. Namun ternyata yang bersedia menjadi anggota dalam kabinetnya hanya berasal dari golongan tengah, terutama terdiri dari partai Masyumi, PNI, dan tokoh-tokoh yang tidak berpartai (independen).
Hatta yang memegang kendali atas kabinet ini segera menyusun anggota kabinetnya. Namun ternyata yang bersedia menjadi anggota dalam kabinetnya hanya berasal dari golongan tengah, terutama terdiri dari partai Masyumi, PNI, dan tokoh-tokoh yang tidak berpartai (independen).
Pada
tanggal 29 Januari 1948 Kabinet Presidensial Hatta diumumkan tanpa
mengikutsertakan Sayap kiri. Kabinet ini akhirnya dilantik oleh Presiden
Soekarno pada tanggal 3 Februari 1948. Program kabinet ini antara lain:
1. Mengadakan
persetujuan Renville
2. Mempercepat
terbentuknya Negara Indonesia Serikat
3. Rasionalisasi
4. Pembangunan
Amir
Syarifuddin dan sayap kiri mengkonsolidasikan dirinya di dalam Front Demokrasi
Rakyat dan melakukan oposisi terhadap pemerintahan Hatta. Setelah Amir membentuk
FDR dan berada di pihak oposisi, ia mulai mengajukan tuntutan kepada
pemerintah, antara lain supaya kabinet presidensil Hatta dibubarkan. Mereka menganggap
kabinet Hatta merupakan kabinet Masyumi dan harus diganti dengan kabinet
parlementer supaya memberikan peran besar terhadap anggota FDR.
Tuntutan-tututannya
diajukan dengan berbagai cara, mulai dari berdemontrasi, menyebarkan pamflet,
mengisi siaran radio, bahkan melakukan pemogokan kerja. Dalam tuntutannya,
mereka menginginkan agar terjadi perubahan di bidang politik, hubungan luar
negeri, sosial, dan lain-lain. Tetapi tuntutan ini tidak direalisasikan
pemerintah, oleh karena itu, Front Demokrasi Rakyat mulai berfikir secara
revolusioner untuk merebut kekuasaan pemerintah.
Pada
saat FDR melakukan provokasi, datanglah Muso seorang tokoh PKI yang selama 20 tahun
sebelumnya tinggal di Moskow. Kepulangan
Muso ke Indonesia membawa missi gerakan Komunis Internasional, dengan tujuan
merebut pimpinan negara Republik Indonesia dari kaum nasionalis.
Muso juga berencana menjalankan strategi politik barunya, yang dinamakan “Jalan Baru menuju Republik Indonesia”. Sesuai dengan doktrin itu, ia melakukan fusi antara Partai Sosialis, Partai Buruh, menjadi PKI.
Muso juga berencana menjalankan strategi politik barunya, yang dinamakan “Jalan Baru menuju Republik Indonesia”. Sesuai dengan doktrin itu, ia melakukan fusi antara Partai Sosialis, Partai Buruh, menjadi PKI.
B.
Rekonstruksi
dan Rasionalisasi Angkatan Perang
Mengenai
Rasionalisasi Angkatan Perang, Perdana Menteri Hatta menegaskan dihadapan
peserta sidang BP KNIP:
“Terutama
di kalangan Angkatan Perang terjadi penggunaan Tenaga Kerja Manusia yang tidak
dapat dipertanggungjawabkan. Jika tidak dimulai dengan mengadakan
Rasionalisasi, maka Negara akan mengalami inflasi yang begitu parah. Untuk
setiap orang yang terkena Rasionalisasi, harus mendapat lapangan kerja baru
untuk mendapat hidup yang layak. Dalam tahap pertama akan didemobilisasikan
sebanyak 160.000 orang dari kalangan anggota Angkatan Perang. Diharapkan dalam
Angkatan Perang akan terdapat jumlah 57.000 orang pasukan tetap.”
Berdasarkan
penetapan presiden no.9 tanggal 27 Februari tahun 1948, pemerintah mengadakan
Reorganisasi dan Rasionalisasi (RERA). Para tentara dari eselon terbawah,
hingga Kementerian Pertahanan dan Markas Besar Tertinggi Angkatan Perang
terkena program ini.
Di dalam Rasionalisasi, beberapa pejabat kementerian Pertahanan kabinet Amir Syarifuddin dinonaktifkan dari tugas. Inilah yang menjadikan Front Demokrasi Rakyat semakin geram dengan pemerintahan Indonesia di bawah Hatta.
Di dalam Rasionalisasi, beberapa pejabat kementerian Pertahanan kabinet Amir Syarifuddin dinonaktifkan dari tugas. Inilah yang menjadikan Front Demokrasi Rakyat semakin geram dengan pemerintahan Indonesia di bawah Hatta.
Sebagai
sebuah partai yang berafiliasi ke-kirian, FDR menjadi pihak yang paling merasa
dirugikan. FDR menganggap bahwa RERA merupakan sebuah program yang sengaja
diciptakan untuk mencukur habis mereka.
Sebagaimana diketahui, sejak tahun 1945 FDR telah bersusah payah membina dan memasukkan perwira-perwira komunis ke kubu Angkatan Perang. Ketika program ini diselenggarakan, upaya komunis yang telah lama tersebut akan menjadi sebuah kesia-siaan.
Sebagaimana diketahui, sejak tahun 1945 FDR telah bersusah payah membina dan memasukkan perwira-perwira komunis ke kubu Angkatan Perang. Ketika program ini diselenggarakan, upaya komunis yang telah lama tersebut akan menjadi sebuah kesia-siaan.
C.
Pemberontakan
PKI 1948
Pemberontakan PKI 1948 telah
menghimpun kekuatan dalam rangka pemberontakan sejak proklamasi. Dalam menyusun
kekuatan bersenjata, PKI membentuk organisasi kelaskaran yang terdiri dari
Pesindo, Laskar Merah, Laskar Buruh, Laskar Rakyat, Laskar Minyak, Tentara Laut
Republik Indonesia, sampai ke TNI masyarakat.
Mereka sangat berambisi
menguasai Angkatan Perang. Dengan berbagai cara, menyusupkan kader-kader
ataupun pengaruhnya ke kubu Angkatan Perang. Sampai tahun 1947, kekuatan PKI
ditaksir berjumlah 25 batalyon dengan penguasaan terhadap TNI sebesar 35 %.
Puncaknya, pada tanggal
18 September 1948 PKI melakukan pemberontakan. Sasaran
pertamanya adalah rumah kediaman Residen Madiun, Samadikun. Karesidenan
dikepung, namun pada saat itu residen sedang ke luar kota. Selanjutnya wakil
residen Sidarto tidak diperolehkan ke luar rumah. Markas Sub teritorial Comando
(STC) dikepung. Para pejabatya, seperti Letkol Sumantri, Mayor Rukmito Hendraningrat
ditahan.
Markas staf pertahanan
Jawa Timur (SPTD) diduduki. Kepala staf SPDT, Letkol Marhadi, Letkol Wijono,
Mayor Bismo, Kapten Sidik Purwoko, dan Mayor Istiklah, Letnan Tjoek Harsono
ditangkap. Tidak luput pula Markas Corps Polisi Militer dan Markas Kompi Mobile
Brigade Polisi disergap. Selain itu, para pengawal kantor pemerintah dilarang
meninggalkan tempat.
Bersamaan dengan
peristiwa itu, Soemarsono, Supardi, dan kawan-kawannya memproklamasikan berdirinya
“Soviet Republik Indonesia” dan pembentukan pemerintahan Front Nasional.
Proklamasi diucapkan oleh Supardi, tokoh Pesindo, di halaman karesidenan Madiun
dan dilanjutkan dengan pengibaran bendera merah. Madiun dinyatakan sebagai
daerah yang dibebaskan.
Pimpinan pemerintahan
daerah yang telah dipersiapkan mulai diaktifkan. Abdul Mutholib diangkat
sebagai residen Madiun mulai berkantor di kantor Karesidenan. Sementara itu,
tokoh PKI yang lain silih berganti berpidato di depan corong radio, baik di RRI
maupun di Gelora Pemuda milik BKPRI.
Isi pidato antara lain mendiskreditkan pemerintah RI dibawah pimpinan Soekarno-Hatta. Dengan adanya berbagai pidato itu, rakyat mulai mengerti bahwa kota Madiun telah menjadi pusat pemerintahan yang menamakan dirinya “Pemerintahan Front Nasional”.
Isi pidato antara lain mendiskreditkan pemerintah RI dibawah pimpinan Soekarno-Hatta. Dengan adanya berbagai pidato itu, rakyat mulai mengerti bahwa kota Madiun telah menjadi pusat pemerintahan yang menamakan dirinya “Pemerintahan Front Nasional”.
Melihat ulah PKI di
Madiun, Presiden Soekarno mengecam tindakan para pemberontak. Bung Karno tidak
habis pikir, di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda,
ternyata malah hadir pemberontakan dari kubu orang Indonesia sendiri.
Soekarno menyebut pengacau-pengacau itu hanya meracuni masyarakat supaya kepercayaan terhadap pemerintah menjadi hilang. Hal inilah yang akhirnya menghilangkan rasa persatuan untuk mengusir Belanda menjadi berkurang. Sebab itu, Soekarno juga mengajak rakyat Indonesia memilih mengikuti pemerintahannya daripada mengikuti seruan Muso.
Soekarno menyebut pengacau-pengacau itu hanya meracuni masyarakat supaya kepercayaan terhadap pemerintah menjadi hilang. Hal inilah yang akhirnya menghilangkan rasa persatuan untuk mengusir Belanda menjadi berkurang. Sebab itu, Soekarno juga mengajak rakyat Indonesia memilih mengikuti pemerintahannya daripada mengikuti seruan Muso.
“Atas
nama perjuangan untuk Indonesia merdeka, aku berseru padamu: Pada saat yang
begini genting, dimana engkau dan kita sekalian mengalami percobaan yang
sebesar-besarnya dalam menentukan nasib kita sendiri, dan kita adalah memilih
antara 2: ikut Muso dengan PKI-nya, yang akan membawa bangkrutnya cita-cita
Indonesia merdeka, atau mengikuti Soekarno-Hatta, yang, insya Allah dengan
bantuan Tuhan, akan memimpin Negara RI yang merdeka, tidak dijajah oleh Negara
apapun jua.”
D.
Penumpasan
PKI Madiun
Kronologi upaya penumpasan
pemberontakan PKI di Madiun sebetulnya terjadi sejak tanggal 16 September 1948.
Ketika itu Panglima Besar Jenderal Soedirman mengadakan rapat dengan wakil
Panglima Besar Kastraf operasi, Kolonel A.H nasution dan Komandan CPM Kolonel
Gatot Soebroto di Yogyakarta. Rapat itu memutuskan adanya penyelesaian
pertikaian.
Malam itu mereka menemui presiden
dan mengusulkan supaya Kolonel Gatot Soebroto diangkat menjadi Gubernur Militer
Solo yang memiliki wewenang atas semua alat negara dan berhak menjalankan
tugas-tugas Dewan Pertahanan Negara. Kolonel Gatot Soebroto kemudian diangkat
menjadi Gubernur Militer II untuk daerah Madiun, Solo, Semarang, Pati, dan
mendapat perintah melaksanakan operasi menumpas pemberontakan di Madiun.
Setelah berbagai operasi di akhir
bulan September 1948, berkat bantuan dari kekuatan Kolonel Sungkono (Panglima
Divisi Jawa Timur) yang mengerahkan kekuatan TNI serta Polisi. Pada tanggal 30
September 1948, Madiun berhasil dikuasai kembali oleh pasukan TNI.
Ketika itu pimpinan PKI, Muso dan Amir Syarifudin melarikan diri. Dalam pelariannya, Muso dan Amir Syarifudin tertembak. Selanjutnya, untuk menumpas orang-orang PKI, dilakukan pembersihan di daerah-daerah lain. Pada awal Desember 1948, operasi itu dinyatakan selesai.
Ketika itu pimpinan PKI, Muso dan Amir Syarifudin melarikan diri. Dalam pelariannya, Muso dan Amir Syarifudin tertembak. Selanjutnya, untuk menumpas orang-orang PKI, dilakukan pembersihan di daerah-daerah lain. Pada awal Desember 1948, operasi itu dinyatakan selesai.
Sumber:
Anita Putri. PKI Madiun. www.academia.edu
I Wayan Badrika. 2006. Sejarah SMA Kelas XII. Erlangga. Jakarta
