Menakar Rekomendasi Golkar Di Pilkada Pringsewu

OpiniDi era demokrasi ini sah dan bebas saja bila masyarakat memunculkan sosok calon kepala daerah yang dikehendakinya. Kendati ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) untuk memilih bupati dan wakil bupati masih berselang cukup lama, tetapi sejumlah nama bakal calon (balon) Bupati/Wakil Bupati Kabupaten Pringsewu mulai dibicarakan dalam diskusi masyarakat Bumi Jejama Secancanan.


Beberapa nama kandidat sangat santer menjadi pembicaran di tengah masyarakat saat ini meliputi Fauzi Semkomakt (Wakil Bupati petahana), Suherman (Ketua DPRD), Ririn Kuswantari (Wakil Ketua II DPRD Prov Lampung), Maulana Muhammad Lahudin (Anggota DPRD), Jihan Nurlela (DPD RI), dan tidak menutup kemungkinan calon kontestan yang pernah bertarung kembali mencalonkan diri.

Dengan banyaknya sosok yang digadang-gadang maju menjadi cabup dan cawabup, menandakan banyak juga yang ingin membawa kabupaten ini lebih sejahtera.

Namun yang menarik di sini, tiga nama yakni Fauzi Semkomakt, Suherman, dan Ririn Kuswantari sama-sama berasal dari partai Golkar. Mereka semua memiliki potensi bagus untuk berjuang di pilkada.

Mulai dari Fauzi Semkomakt, tentu masyarakat Pringsewu tidak asing dengan figur tersebut. Tidak mengherankan, sebagai Wakil Bupati petahana, ia memiliki kekuatan popularitas yang tinggi dibandingkan dengan kandidat-kandidat yang lainnya. Meskipun dalam kenyataannya akseptabilitas dan elektabilitas dapat berbicara lain.

Tetapi ada hal yang perlu menjadi perhatian serius bagi kandidat ini. Ajang Pilkada menjadi dua pilihan bagi masyarakat, sebagai ajang pelanggengan atau penghakiman.

Jika masyarakat merasa bahwa kinerjanya selama lima tahun memimpin daerah tidak ada kemajuan yang berarti, masyarakat sesungguhnya dapat memanfaatkan momentum Pilkada sebagai ajang penghakiman untuk tidak memilih kembali petahana.

Namun, jika masyarakat merasa disejahterakan, tentu ajang Pilkada akan menjadi ajang pelanggengan untuk melanjutkan kepemimpinannya.

Kemudian Suherman, figur satu ini berhasil mengantarkan DPD Golkar Pringsewu memperoleh 7 kursi pada pemilu periode 2019-2024. Catatan tersebut menempatkan Golkar sebagai partai peraih kursi terbanyak, sekaligus menjadikannya Ketua DPRD.

Pencapaian yang diraih,  indikator bahwa ia cukup memiliki integritas dan kompentensi untuk tampil sebagai pemimpin yang mempunyai tanggungjawab menyejahterakan masyarakat.

Apalagi, Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto menegaskan bahwa ketua DPD tingkat I dan II partai itu menjadi prioritas untuk maju dalam Pilkada.

Walau demikian, soal popularitas di luar dapil ia kurang begitu dikenal oleh kalangan masyarkat biasa.

Selanjutnya Ririn Kuswantari, figur wanita satu ini mungkin tidak asing lagi di telinga masyarkat Pringsewu. Istri mantan Bupati Lampung Selatan (Lamsel), Wendy Melfa pernah ikut bertarung pada Pilkada Pringsewu 2011 lalu. Kala itu pasangan Ririn Kuswantari-Subhan mampu mengumulkan 70.379 suara. Perolehan suara itu menempatkan pasangan tersebut duduk di posisi kedua. Setelah pasangan Sujadi Saddat-Handitya yang berhasil mendulang 75.581 suara.

Selain itu, ia bisa dikatakan sebagai simbol keterwakilan perempuan sebagai agen perubahan. Dalam hal ini, perempuan akan menguatkan negara dan bangsa apabila ada keseimbangan dalam kedudukan dan kesetaraan.

Meski begitu, selalu ada pihak pro dan kontra yang menghiasi perdebatan soal pemimpin wanita. Lantaran wanita dianggap memiliki keterbatasan fisik dan ruang lingkup gerak.

Melihat sepak terjang ketiganya, semua memiliki chance yang bagus untuk bisa ikut bertarung dalam perebutan kursi orang nomor satu dan dua di Kabupaten Pringsewu. Jika ketiganya benar punya ambisi maju, maka sangat menarik untuk dinantikan ke mana rekomendasi Golkar bakal diberikan?

Penulis: Fazri Nirwan

Kolom Komentar

Previous Post Next Post