Belik dan Kisah Masa Kemarau Panjang di Purwosari

Beranda Desa - Desa atau Kelurahan Purwosari merupakan suatu daerah yang lokasinya masuk di kawasan pemerintahan Kecamatan Metro Utara - Kota Metro. Dahulu ketika zaman kolonisasi Hindia Belanda, daerah ini juga diberi nama bedeng 28, dan hingga kini warisan nama tersebut masih melekat dengan kelurahan Purwosari.

Gambar Belik (Sumber Air) yang terletak di Kelurahan Purwosari - Kota Metro | Sumber: @lensapurwosari

Konon, menurut cerita para aktivis setempat yang bergiat di media sosial instagram @lensapurwosari, hampir semua warga Purwosari, khususnya bagian RW 2 dan RW 3 memiliki kebiasaan unik dikala musim kemarau tiba.

Ketika musim kemarau panjang, kelangkaan air menjadi momok bagi masyarakat setempat, dan untuk mengatasinya warga mencari sumber mata air yang biasanya berada di sekitar rawa. Oleh warga, mata air itu dibuat kubangan menyerupai sumur yang fungsinya untuk menampung air yang keluar dalam tanah.

Kubangan tersebut oleh masyarakat, khususnya masyarakat suku Jawa disebut Belik (Mata Air). Belik ini menjadi ladang ngangsu (mengambil air) bagi warga.

Seperti yang Beranda Desa kutip dari @lensapurwosari, Belik ini berada di permukaan paling bawah, sebab tempatnya berada di antara rawa-rawa (masyarakat menyebutnya Rowo). Masyarakat di RW 2 disebut sebagai Wong Kidul Rowo (Orang Selatan Rawa), sedangkan masyarakat RW 3 disebut Wong Lor Rowo (Orang Utara Rawa). Kedua masyarakat inilah yang sering ngangsu di Belik.


Pada masa kemarau panjang, ketika sumur-sumur warga kering, berbondong-bondonglah warga bergantian mengisi dirigen air di Belik untuk memenuhi kebutuhan air. Tak hanya itu, warga juga langsung mandi di area Belik.

Satu hal yang menjadi keunikan dari Belik ini, meski setiap harinya di ambil airnya oleh banyak warga ketika kemarau, keesokan harinya Belik ini sudah penuh kembali, sebab banyak sekali lubang sumber air yang berada di dalam Belik.

Kini, belik ini sudah sepi, tak seperti dahulu, tapi masih ada beberapa warga yang memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari.

Belik ini buat sekitar tahun 1975-an oleh warga bernama Goib Ismanto. Menurut penuturannya, Belik tersebut dibuat awalnya sendiri karena kebutuhan air, lalu kemudian datang beberapa warga sambatan (gotong-royong) membenahi. Awalnya Belik tersebut memiliki kedalaman sekitar 7 meter, namun karena sering ambrol kini tinggal sekitar 3 meter.

Editor: Barnas

Sumber: @lensapurwosari

Kolom Komentar

Previous Post Next Post