"Jika kita cari kehadiran anak-anak dan wanita dalam narasi sejarah Metro era kolonisasi, kita akan sulit menemukan redaksi tentang keberadaan mereka. Saat ini pun kita akan kesulitan menjawab, jika diberi pertanyaan bagaimana peran anak-anak dan wanita dalam sejarah Metro"
Oleh: Kian Amboro (Dosen di Program Studi Pendidikan Sejarah UM Metro)
Opini Sejarah - Tulisan ini merupakan refreshing penulis di tengah beberapa deadline revisi manuskrip jurnal yang cukup memusingkan dan menjemukan. Karena tulisan ini muncul untuk menyegarkan sejenak pikiran penulis, maka pembaca juga dapat menganggapnya sebagai tulisan hiburan dan penyegaran, jangan dibaca terlalu serius, tetapi boleh dipertimbangkan sebagai bahan pemikiran. Dan sekali lagi, tulisan ini tidak dimaksudkan juga sebagai bagian dari studi gender dan anak, karena penulis tidak memiliki keahlian dalam bidang itu. Meski demikian, tulisan ini tetap digarap dengan sungguh-sungguh dan penuh perhatian.
![]() |
| Sumber foto: KITLV |
Dalam tulisan ini penulis tertarik mencermati keberadaan wanita dan anak-anak dalam arsip-arsip Kolonisasi Sukadana. Tema anak dan wanita cukup menarik perhatian bagi penulis saat ini, terutama dalam narasi sejarah Metro era kolonisasi. Tak disebut tentang wanita (dan anak) dalam narasi sejarah Metro yang telah populer itu. Semua adalah tentang pria. Penulis teringat sebuah adagium lama, yaitu (His)story, penekanan pada “his” dan “story”, cerita kejayaan laki-laki/pria. Sejarah diceritakan, ditulis, ditafsirkan dari sudut pandang pria dewasa. Wanita (juga anak-anak) seperti tersembunyi (disembunyikan?) dalam sejarah.
Pria seperti dominan menjadi penentu gerak jalannya sejarah dan peradaban. Bahkan Kuntowijoyo mengungkapkan, penelitian dan penulisan sejarah kita masih dominan tentang politik, kekuasaan, kekerasan dan itu merupakan hal yang selalu identik milik pria.
Bisa kita cermati dari buku-buku sejarah yang beredar, atau buku-buku teks pelajaran sejarah siswa-siswa kita, narasi-narasi politik, kerajaan, kekuasaan, kekerasan, peperangan masih mendominasi. Rekonstruksi sejarah masih bersifat androsentris, karena berpusat di sekitar aktivitas dan pengalaman pria sebagai norma yang berlaku untuk manusia.
Sejarah direkonstruksi berdasarkan sumber-sumber sejarah, dan sampai dengan hari ini rekonstruksi sejarah yang ada sebagian besar didasarkan pada naskah sumber dan arsip-arsip. Jika demikian, maka pertanyaannya apakah berarti corak androsentris juga menjadi warna dalam arsip-arsip kita? Sehingga sejarah yang direkonstruksi juga menjadi demikian warnanya? mari kita ulas. Tulisan ini juga lahir dalam rangka mendeskripsikan apa yang penulis lakukan untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu.
Arsip yang penulis cermati secara spesifik adalah berupa foto-foto yang dapat diakses bebas oleh publik melalui katalog daring Leiden University Libraries – Digital Collections, koleksi Southeast Asian & Caribbean Images (KITLV). Penulis melakukan pembatasan pencarian hanya dengan menggunakan kata kunci “Soekadana” saja, dengan maksud data yang muncul hanya yang berkaitan dengan wilayah Metro dan sekitarnya yang di masa lalu merupakan bagian dari wilayah Kolonisasi Sukadana.
Berdasarkan hasil pencarian, muncul 154 image yang termuat dalam delapan page (halaman). Dari sejumlah pencarian itu, penulis hanya membatasi arsip foto yang creator atau pembuatnya (fotografer) adalah Jan van der Kolk, dan berdasar kriteria ini hanya 153 image yang fotografernya adalah Kolk.
Sosok Kolk tentunya cukup familiar bagi para pegiat arsip, sejarah, dan budaya di Lampung, karena dari “jepretan” kameranya banyak terabadikan sudut Lampung di masa lalu dalam berbagai situasi. Ia juga turut tergabung sebagai fotografer dan juru kamera dalam proyek pembuatan film propaganda kolonisasi yang digarap oleh Algemeen Nederlandsch Indisch Filmsyndicaat (ANIF) yang berjudul “Tanah Sabrang”.
Film ini bertujuan mempromosikan emigrasi atau pemindahan penduduk dari Jawa ke wilayah Sumatera bagian Selatan, sebagai bagian dari pelaksanaan politik etis. Dan Kolonisasi Sukadana adalah salah satu tempat pengambilan gambar film ini, sebagai representasi keberhasilan kolonisasi. Film propaganda kolonisasi ini memiliki judul asli “Tanah sabrang, het land aan de overkant” (Tanah sabrang, tanah di seberang).
Dibuat pada tahun 1938, dan tayang perdana di publik pada tanggal 19 September 1940, dengan panjang durasi tayangan 67 menit (eyefilm.nl). Fakta menarik lainnya, film ini tayang perdana ketika perusahaan pembuatnya telah tutup pada Februari-Maret 1940. Film ini dipimpin oleh sineas Mannus Franken, sosok yang dicatat oleh Wikipedia sebagai Bapak Film Dokumenter Belanda saat ini.
![]() |
| Sumber foto: KITLV |
Berdasarkan 153 temuan arsip foto itu, sistem katalog arsip telah otomatis membuat penyaringan berdasarkan daftar subjek yang telah mereka buat, dan ditemukan 21 arsip foto tentang anak-anak, dan 14 arsip foto tentang wanita. Penulis kemudian turut mencoba untuk mengobservasi dan menganalisis sendiri citra dan isi dari arsip-arsip foto tersebut.
Hasilnya cukup mengejutkan bahwa sebanyak 67 foto (21 foto tentang anak-anak, dan 46 foto tentang wanita) atau 48% keseluruhan foto dari Kolk meng-capture wanita dan anak-anak. Identifikasi ini tidak sulit dilakukan, karena kualitas arsip foto yang disajikan sangat baik, sehingga dalam kondisi perbesaran (zoom) tertentu, citra tidak pecah tetapi justru terlihat jelas.
Dari setiap foto yang telah diamati, didapati fakta bahwa terdapat citra anak-anak baik secara berkelompok maupun perorangan, ada anak-anak dengan wanita dengan jumlah paling banyak (26), ada juga anak-anak dengan wanita dan pria dalam satu foto. Sedangkan arsip foto wanita juga didapati paling banyak bersama dengan anak-anak (26), wanita beraktivitas dengan berbagai macam latar, dan tak banyak citra wanita bersama pria dalam satu foto.
Berdasarkan latar tempatnya, ditemukan sejumlah arsip foto anak-anak dengan latar tempat: di jembatan (2), di sekitaran rumah (11), di kapal (4), di sekolah (4), di dekat irigasi (2), di pasar dan BPM (6), di rumah sakit (2), di pelabuhan (9), di dekat alun-alun (1), di kali atau sungai (1), di kereta api dan sekitar stasiun kereta api (4). Sedangkan sejumlah arsip foto wanita dengan berbagai latar tempat seperti: di sekitar rumah (11), di pelabuhan (9), di dekat pasar dan di pasar (8), di rumah sakit (3), di depan toko atau warung (3), di sekitar alun-alun (1), di dekat irigasi (3), di kereta dan stasiun kereta (2), di sawah (1), di kali atau sungai (1), di kapal (3), di dalam bus (1).
Data-data ini tidak
dimaksudkan sebagai sajian statistika sejarah, yang akan dikaji dengan
pendekatan analisis konteks-simbolik yang akan banyak memakan tempat dan
penjelasan kualitatif mendalam. Penulis hanya ingin menunjukkan, bahwa jika
dicermati arsip-arsip foto ini banyak memuat citra anak-anak dan wanita di
berbagai latar atau tempat dan aktivitas, mereka ada dimana-mana.
Namun jika kita cari kehadiran anak-anak dan wanita dalam narasi sejarah Metro era kolonisasi, kita akan sulit menemukan redaksi tentang keberadaan mereka. Saat ini pun kita akan kesulitan menjawab, jika diberi pertanyaan bagaimana peran anak-anak dan wanita dalam sejarah Metro?. Patriarki nampaknya cukup mengakar dalam alam bawah sadar kita. Dalam pengetahuan sejarah umum pun kita pasti akan selalu merujuk keterwakilan Tribuwana Tunggadewi, Cut Nyak Dien, Rohana Kudus, R.A. Kartini, Walanda Maramis, dan beberapa nama wanita populer lainnya. Seolah di luar itu tak ada lagi, selebihnya seolah peristiwa berlalu tak banyak mencatatkan keberadaan wanita.
![]() |
| Sumber foto: KITLV |
Nasib anak-anak apalagi, nampaknya sejarah masih dikuasai dan menjadi milik orang-orang dewasa. Anak-anak selalu diposisikan marginal, sebagai pihak lebih lemah dari wanita dan paling tak berdaya, sehingga tak punya banyak peran, narasi sejarah tentangnya pun minim. Nampak sekali disini sejarah adalah milik yang terkuat, tidak hanya raja, tetapi juga pria yang dianggap sosok terkuat dan pemilik banyak peran.
Disamping itu, sejarah untuk anak-anak yang diberikan hanyalah mitos-mitos, cerita rakyat, legenda yang irrasional (juga isinya kebanyakan kisah tentang orang dewasa, bukan tentang anak-anak) dan itu harus diterima sebagai kebenaran apa adanya, tanpa protes, dan tanpa diimbangi juga dengan membelajarkan sejarah yang ilmiah. Maka tak heran hingga dewasa mereka menganggap sejarah tak lebih hanya sekedar cerita saja, selebihnya tak penting.
Sejarah lokal pun demikian, dalam historiografi tradisional Lampung dalam bentuk tradisi lisan dikenal sosok Ratu Sekerumong, wanita penguasa terakhir Kerajaan Skala Brak bercorak Hindu. Narasi sejarahnya tak banyak, bahkan hanya berhenti sampai disitu, selebihnya narasi sejarah dilanjutkan dengan pria-pria sebagai pemeran utama, masa sebelumnya yang dianggap penuh kejahiliyahan tak banyak dibahas. Di Sukadana ada sosok wanita Itten Miyani yang narasi sejarahnya pun sangat terbatas, tak lebih dari salah seorang dari empat saudara pembuka wilayah Sukadana pada abad-XVII.
Sosok Putri Nuban pun demikian, festivalnya yang tiap tahun dirayakan oleh warga Kota Metro, akar sejarahnya belum banyak diketahui publik, bahkan tak populer di kalangan anak-anak sekolah. Sosok-sosok wanita ini yang diyakini pernah ada, mengguratkan sejarah, dan menjadi memori kolektif masyarakat tentunya harus terus dihidupkan. Sambil tetap menjaga tradisi lisanl itu tetap hidup, sebagai masyarakat berperadaban maju tentu ruang historiografi ilmiah pun harus diisi juga.
Jika kita kembali kepada pertanyaan di atas tadi, apakah berarti corak androsentris juga menjadi warna dalam arsip-arsip kita? ternyata jawabnya “Tidak selalu demikian”. Sejarah sangat bergantung kepada penulis sejarah yang membuat tulisan sejarah atau historiografi. Penulis sejarah itu adalah sejarawan itu sendiri, baik itu sejarawan akademik, sejarawan pendidik, maupun sejarawan publik.
Nampaknya kini kita harus mulai belajar untuk melihat dan berpikir secara komprehensif, bahwa setiap hal dan unsur terkecil sekalipun dalam kehidupan tetap mempengaruhi jalannya gerak sejarah. Termasuk anak-anak dan wanita yang masih termarginalkan dalam sejarah kita. Kembali mengutip satu pertanyaan dari Kuntowijoyo, “Tuhan menciptakan manusia dari seorang pria dan wanita, lalu mengapa sejarah masih banyak diciptakan dan ditulis oleh pria?”. Nampaknya pertanyaan ini akan memotivasi para wanita untuk turut bersemangat menuliskan sejarahnya, dan turut meramaikan warna historiografi kita.


