Kisah Ahmad Mattehek Sang Penjaga Silat Tjimande di Pringsewu

AHMAD M Mattehek salah seorang tokoh Kabupaten Pringsewu yang memilih jalan merawat budaya bangsa dengan cara melestarikan pencak silat Tjimande di Bumi Jama Secancanan.

Mattehek Ketua Kebudayaan Seni Tari (KESTI) Tjimande Tari Kolot Kebun Djeruk Hilir (TTKKDH) Kabupaten Pringsewu

Pasalnya pencak silat adalah produk budaya bangsa dan mengandung anasir yang baik. Karena itu, ia berusaha mengedukasi masyarakat mengenai pencak silat agar tak kalah tenar dengan olahraga bela diri dari luar negeri.Sebagai Ketua Kebudayaan Seni Tari (KESTI) Tjimande Tari Kolot Kebun Djeruk Hilir (TTKKDH) Kabupaten Pringsewu, Mattehek sapaan akrabnya merasa memiliki tanggung jawab mengenalkan seni bela diri itu ke masyarakat Indonesia, khususnya di Pringsewu. 

Sebagai warisan leluhur keberadaan pencak silat harus tetap hidup tidak hanya sampai generasi saat ini. Tapi generasi berikutnya diharapkan masih setia berperan dalam melestarikan olahraga bela diri tersebut.

Berkat kegigihan dan kesabarannya. Silat Tjimande yang dipimpinnya berhasil menyabet sejumlah prestasi hingga tingkat provinsi Lampung. Atas dasar itu, padepokan silat yang ia ketuai kini sudah dikenal khalayak ramai.

SEDERHANA

Mattehek merupakan anak dari pasangan H Saelan (alm) dan Hj Sutirah (alm) lahir di Pringsewu Timur 6 Agustus 1969 adalah anak ke 10 dari 11 bersaudara. Latarbelakang keluarga yang sederhana tak lantas membuatnya berkecil hati. 

Tahun 1990 saat usianya menginjak remaja. Ia memutuskan untuk merantau ke tanah Jawa. Di sana, ia berkelana ke sejumlah daerah hingga memutuskan menetap belasan tahun di Cilacap bekerja sebagai kontraktor Pertamina. Dengan bermodal semangat juang yang tinggi dalam mengubah nasib. Ia berhasil menjadi seorang tokoh yang diperhitungkan.

Sosok tokoh yang tidak saja diperhitungkan dari sisi harkat dan martabatnya, akan tetapi juga berhasil muncul ke permukaan dan mampu mengenyam kehidupan cukup layak dan wajar.

PULANG KAMPUNG

Setinggi-tinggi bangau terbang, surutnya ke kubangan. Begitupun Mattehek yang memilih kembali ke kampung halaman setelah 15 tahun berkarir di tanah Jawa. Di tanah kelahiran karirnya semakin baik. Meski lama di tanah rantau wibawa ketokohannya tidak luntur di mata masyarakat Pringsewu. Terbukti ia dipercaya untuk ikut mengelola sejumlah sumber pendapatan daerah. Diantaranya menjadi kordinator lahan parkir dan peron. Kemudian, ia juga dilibatkan menjadi ketua komite dibeberapa sekolah di Pringsewu dan Tanggamus.

Selain itu, alumni SMAN 1 Pringsewu ini juga menjadi salah satu tokoh yang ikut berjuang memekarkan Kabupaten Pringsewu dari Kabupaten Tanggamus. 

Tidak sampai disitu, sepak terjang pria berdarah Banten ini semakin cemerlang ketika memilih untuk menjadi politisi dari partai Golongan Karya (GOLKAR) tahun 2005 lalu. Jabatan pertamanya di partai berlambang pohon beringin adalah Ketua AMPG GOLKAR Kecamatan Pringsewu.

Baca juga: Menakar Rekomendasi Golkar Di Pilkada Pringsewu

Seiring berjalannya waktu, pria tiga anak ini dikenal sebagai kader partai yang memiliki totalitas dan loyalitas yang baik. Sehingga 1 Januari 2021 ia diangkat menjadi Sekertaris DPD II Golkar Kabupaten Pringsewu. Jabatan startegis partai yang identik dengan warna kuning itu otomatis membuat popularitasnya semakin menanjak.

Belum lagi, amanah sebagai Sekertaris Markas Daerah Laskar Merah Putih (LMP) Lampung menegaskan bahwa dirinya merupakan salah satu figur terbaik yang dimiliki Kabupaten Pringsewu.

Oleh: Fazri Nirwan

Artikel ini sebelumnya pernah tayang di berandadesa.com dengan judul MATTEHEK RAWAT BUDAYA BANGSA LEWAT SILAT TJIMANDE, karena mengalami masalah pencarian maka kami publish ulang. 

Kolom Komentar

Previous Post Next Post