Gambar: Peta kawasan Teluk Semangka yang dibuat oleh Isaac de Graaf pada abad ke-17, sisi kanan denah Benteng Lampon Samanca di Teluk Semangka (Kota Agung) | Sumber: Atlas of Mutual Heritage
Satu dari Beberapa Benteng VOC di Lampung
Sejak dimulainya era Penjelajahan Samudera oleh bangsa-bangsa Barat untuk mencari rempah-rempah, Lampung yang wilayahnya berada di jalur Selat Malaka dan Selat Sunda tak luput dari tujuan mereka. Hal ini karena Lampung menjadi salah satu daerah penghasil rempah kala itu. Lampung menjadi makin termashyur ketika berhasil menjadi gudang lada terbesar bagi Kesultanan Banten setelah adanya kewajiban penanaman lada, ini sebagaimana tercantum dalam Prasasti Dalung Bojong (Swantoro, 2019; Wijayati, 2011). Belanda akhirnya menjadi bangsa Barat yang mendominasi penguasaan rempah di Lampung setelah Portugis sebelumnya mengalami kegagalan. Penguasaan Belanda terhadap rempah-rempah di Lampung melalui kongsi dagangnya yaitu VOC, tidak dilakukan secara langsung melainkan melalui perpanjangan tangan Kesultanan Banten dan birokrasinya hingga di tingkat bawah (indirect rule) (Soemartini, 2003).Sebagai kongsi dagang, sejak kelahirannya VOC diberi hak-hak istimewa (octrooi) oleh Kerajaan Belanda demi mengamankan tujuan memperoleh keuntungan sebesar-besarnya atas perdagangan rempah. Beberapa hak istimewa itu diantaranya adalah mengadakan perjanjian, memiliki angkatan perang/tentara sendiri, mengadakan pemerintahan, menjalankan kekuasaan kehakiman, hingga mengumumkan perang dengan pihak lain. Hak-hak yang berkenaan dengan pertahanan militer ini tentu bertujuan untuk mengamankan hak-hak istimewa VOC lainnya seperti hak memonopoli perdagangan dan menjalankan pemerintahan sendiri untuk meraup keuntungan atas perniagaan rempah (Knaap, 2003; Leirissa, 2003; Soemartini, 2003; Suroyo, 2003). Keberadaan benteng-benteng yang dibangun VOC pada akhirnya tidak hanya sekedar menjalankan fungsi pertahanan saja, tetapi juga menjalankan fungsi pusat strategi politik dan pusat kebijakan ekonomi/keuangan di wilayah benteng VOC itu dibangun (Purwanto, 2003). Kesultanan Banten setelah kedaulatannya jatuh ke tangan VOC, sedikitnya telah membangun delapan benteng sebagai pos pertahanan sekaligus pos perdagangan (juga gudang rempah) untuk VOC (atlasofmutualheritage.nl, n.d.; nationaalarchief.nl, n.d.; Overbeek, 2018). Hasil dari inventarisasi aset VOC di wilayah Banten, didirikan lima buah benteng yaitu Benteng Carganto, Benteng Diamant, Benteng Speelwijk, benteng di Anjer, dan benteng di Tjarita. Sedangkan di Lampung didirikan tiga buah benteng yaitu Benteng Valkenoog atau Valkenburg (1738) di Toulang Bawang, Benteng Jonge Petrus Albertus (1763) di Bornai (Teluk Semangka), dan Benteng Lampon Samanca (?-1795) (kini di sekitar Kota Agung) yang berseberangan dengan Bornai.Bukan di Menggala, melainkan di Teluk Semangka
Hingga beberapa lamanya nama Benteng Petrus Albertus dipahami pernah berdiri di Menggala. Banyak sumber tertulis yang mencantumkan keberadaan benteng ini berada di tepi aliran/muara Way Tulang Bawang. Diantara sumber yang penulis berhasil telusuri adalah buku Sejarah Daerah Lampung terbitan Depdikbud tahun 1977 yang menyebutkan bahwa benteng ini berhasil direbut oleh rakyat Menggala (Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1977). Kemudian pada karya fiksi wiracarita yang ditulis oleh Andy Wasis tahun 1980. Meskipun ini merupakan karya fiksi, penulisnya dengan tegas mengambil latar peristiwa sejarah berikut periodesasi tahun yang menjadi pengantar dalam prolognya (Wasis, 1980). Setelahnya, banyak tulisan-tulisan secara berantai menyebutkan hal yang sama, baik dalam makalah hingga jurnal-jurnal ilmiah. Publikasi penelitian dari salah satu peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Jawa Barat juga sangat tegas dan detail menyebutkan Benteng Petrus Albertus dibangun di Menggala untuk memperkokoh kedudukan VOC, setelah sebelumnya benteng VOC Valkenburg diserang pemberontak yang dipimpin oleh Kyai Tapa (Ariwibowo, 2017).![]() |
| Gambar: Sampul bagian dalam novel “Runtuhnya Benteng Petrus Albertus” | Sumber: Koleksi pribadi penulis |
Penulis sendiri secara pribadi lebih meyakini versi kedua. Dalam buku Sejarah Daerah Lampung terbitan Depdikbud 1977, sangat dimungkinkan terjadi kesalahan atau miskonsepsi penyebutan benteng antara Valkenburg dengan Albertus. Sebab konteks, tahun peristiwa, dan latar peristiwa di Menggala dapat disimpulkan telah berkesuaian, hanya penyebutan nama benteng saja yang kurang tepat. Untuk karya fiksi novel jika ingin diberlakukan kritik ilmiah sumber, maka tahun yang dijadikan latar cerita yaitu tahun 1686 sangat jauh dari tepat, sedangkan pemberontakan besar rakyat Menggala terhadap VOC dicatat terjadi antara tahun 1750-1752, selain itu Petrus Albertus sebagai pemilik nama yang disematkan untuk nama benteng juga belum dilahirkan (1714-1775), dan juga benteng di Menggala tercatat baru dibangun pada tahun 1738. Meskipun mengukur karya fiksi dengan tolok ukur karya ilmiah/non-fiksi dirasa kurang tepat, seyogianya karya fiksi yang berlatar peristiwa sejarah atau jika ingin menyebutkan angka-angka tahun dapat disesuaikan. Sebab epos kepahlawanan memiliki pengaruh kuat dalam membentuk sikap patriotik individu, dan jangan sampai jiwa patriotik itu dibangun di atas fondasi fakta yang keliru.
Mengkritisi versi pertama selanjutnya, sejauh ini penulis sendiri belum menemukan sumber yang menyebutkan bahwa VOC pernah membangun benteng keduanya (Petrus Albertus) setelah benteng Valkenburg/Valkenoog di Menggala. Dalam publikasi penelitian Ariwibowo sesungguhnya juga disebutkan bahwa VOC juga membangun benteng di kawasan Teluk Semangka untuk membendung pengaruh Inggris yang bercokol di Pesisir Barat, akan tetapi benteng ini tidak disebutkan sebagai benteng Albertus. Benteng Petrus Albertus justru dijelaskan sebagai benteng kedua yang dibangun VOC di Menggala setelah tahun 1755 dimana pemberontakan Kyai Tapa berhasil dilumpuhkan. Hal ini sulit diyakini oleh penulis, sebab VOC sendiri tidak mencatat pembangunan benteng atau pos perdagangan keduanya di Menggala.
Bersambung ke bagian 2.....
Baca artikel Sejarah lainnya atau artikel lainnya dari Kian Amboro
Penulis
Kian Amboro – Pegiat Sejarah
Kian Amboro – Pegiat Sejarah
(berandadesa.com-sejarah)


