Mencari Jejak Benteng VOC Albertus #Bagian 1

Gambar: Peta kawasan Teluk Semangka yang dibuat oleh Isaac de Graaf pada abad ke-17, sisi kanan denah Benteng Lampon Samanca di Teluk Semangka (Kota Agung) | Sumber: Atlas of Mutual Heritage

Nama Benteng Petrus Albertus bagi sebagian besar warga Lampung tentu sangat tidak familiar, terlebih untuk para generasi milenial sekarang ini. Terkecuali untuk para sejarawan, para pegiat dan peminat sejarah lokal Lampung, bagi mereka nama ini tentu tidak asing lagi. Mencoba merunut kehadiran nama benteng ini dalam historiografi lokal Lampung, Benteng Petrus Albertus muncul pertama kali dalam buku Sejarah Daerah Lampung yang terbit sebagai hasil dari Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depdikbud tahun 1977/1978. Nama benteng ini muncul dalam konteks perlawanan heroik rakyat Menggala terhadap VOC yang atas izin Sultan Banten mendirikan benteng pos pengawasan monopoli perniagaan lada di Tulang Bawang. Kompeni VOC kemudian dapat dilawan, dan benteng akhirnya dapat direbut (Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1977). Episode heroik perlawanan rakyat Menggala ini kemudian dikisahkan dengan sangat dramatik dalam sebuah novel bertema sejarah berjudul “Runtuhnya Benteng Petrus Albertus; Sebuah Epos Kepahlawanan Rakyat Menggala” oleh seorang penulis bernama Andy Wasis dan diterbitkan oleh pemerintah tahun 1980 yang kemudian diedarkan secara nasional sebagai bahan bacaan siswa di sekolah untuk memupuk jiwa patriotisme. Sejak saat itu hingga waktu-waktu kemudian nama Petrus Albertus seperti hadir dan menjadi bagian dari ingatan sejarah Lampung terutama dalam periode imperialisme dan kolonialisme Barat.

Satu dari Beberapa Benteng VOC di Lampung

Sejak dimulainya era Penjelajahan Samudera oleh bangsa-bangsa Barat untuk mencari rempah-rempah, Lampung yang wilayahnya berada di jalur Selat Malaka dan Selat Sunda tak luput dari tujuan mereka. Hal ini karena Lampung menjadi salah satu daerah penghasil rempah kala itu. Lampung menjadi makin termashyur ketika berhasil menjadi gudang lada terbesar bagi Kesultanan Banten setelah adanya kewajiban penanaman lada, ini sebagaimana tercantum dalam Prasasti Dalung Bojong (Swantoro, 2019; Wijayati, 2011). Belanda akhirnya menjadi bangsa Barat yang mendominasi penguasaan rempah di Lampung setelah Portugis sebelumnya mengalami kegagalan. Penguasaan Belanda terhadap rempah-rempah di Lampung melalui kongsi dagangnya yaitu VOC, tidak dilakukan secara langsung melainkan melalui perpanjangan tangan Kesultanan Banten dan birokrasinya hingga di tingkat bawah (indirect rule) (Soemartini, 2003).
Gambar: Peta kawasan Perdagangan Rempah di Selat Sunda sekitar 1661-1668 yang dibuat oleh Johannes Vingboons, nampak Teluk Lampung dan Teluk Semangka menjadi bagian pentingnya. | Sumber: Atlas of Mutual Heritage

Sebagai kongsi dagang, sejak kelahirannya VOC diberi hak-hak istimewa (octrooi) oleh Kerajaan Belanda demi mengamankan tujuan memperoleh keuntungan sebesar-besarnya atas perdagangan rempah. Beberapa hak istimewa itu diantaranya adalah mengadakan perjanjian, memiliki angkatan perang/tentara sendiri, mengadakan pemerintahan, menjalankan kekuasaan kehakiman, hingga mengumumkan perang dengan pihak lain. Hak-hak yang berkenaan dengan pertahanan militer ini tentu bertujuan untuk mengamankan hak-hak istimewa VOC lainnya seperti hak memonopoli perdagangan dan menjalankan pemerintahan sendiri untuk meraup keuntungan atas perniagaan rempah (Knaap, 2003; Leirissa, 2003; Soemartini, 2003; Suroyo, 2003). Keberadaan benteng-benteng yang dibangun VOC pada akhirnya tidak hanya sekedar menjalankan fungsi pertahanan saja, tetapi juga menjalankan fungsi pusat strategi politik dan pusat kebijakan ekonomi/keuangan di wilayah benteng VOC itu dibangun (Purwanto, 2003). Kesultanan Banten setelah kedaulatannya jatuh ke tangan VOC, sedikitnya telah membangun delapan benteng sebagai pos pertahanan sekaligus pos perdagangan (juga gudang rempah) untuk VOC (atlasofmutualheritage.nl, n.d.; nationaalarchief.nl, n.d.; Overbeek, 2018). Hasil dari inventarisasi aset VOC di wilayah Banten, didirikan lima buah benteng yaitu Benteng Carganto, Benteng Diamant, Benteng Speelwijk, benteng di Anjer, dan benteng di Tjarita. Sedangkan di Lampung didirikan tiga buah benteng yaitu Benteng Valkenoog atau Valkenburg (1738) di Toulang Bawang, Benteng Jonge Petrus Albertus (1763) di Bornai (Teluk Semangka), dan Benteng Lampon Samanca (?-1795) (kini di sekitar Kota Agung) yang berseberangan dengan Bornai.

Bukan di Menggala, melainkan di Teluk Semangka

Hingga beberapa lamanya nama Benteng Petrus Albertus dipahami pernah berdiri di Menggala. Banyak sumber tertulis yang mencantumkan keberadaan benteng ini berada di tepi aliran/muara Way Tulang Bawang. Diantara sumber yang penulis berhasil telusuri adalah buku Sejarah Daerah Lampung terbitan Depdikbud tahun 1977 yang menyebutkan bahwa benteng ini berhasil direbut oleh rakyat Menggala (Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1977). Kemudian pada karya fiksi wiracarita yang ditulis oleh Andy Wasis tahun 1980. Meskipun ini merupakan karya fiksi, penulisnya dengan tegas mengambil latar peristiwa sejarah berikut periodesasi tahun yang menjadi pengantar dalam prolognya (Wasis, 1980). Setelahnya, banyak tulisan-tulisan secara berantai menyebutkan hal yang sama, baik dalam makalah hingga jurnal-jurnal ilmiah. Publikasi penelitian dari salah satu peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Jawa Barat juga sangat tegas dan detail menyebutkan Benteng Petrus Albertus dibangun di Menggala untuk memperkokoh kedudukan VOC, setelah sebelumnya benteng VOC Valkenburg diserang pemberontak yang dipimpin oleh Kyai Tapa (Ariwibowo, 2017).
Gambar: Sampul bagian dalam novel “Runtuhnya Benteng Petrus Albertus” | Sumber: Koleksi pribadi penulis
Selain daripada itu, didapati sumber-sumber lain yang menginformasikan bahwa keberadaan Benteng Petrus Albertus bukanlah di Menggala, melainkan di Teluk Semangka. Versi ini termuat jelas dalam publikasi tentang VOC yang dihimpun dari berbagai arsip-arsipnya dan dipublikasikan dalam situs vocsite.nl sejak tahun 2018, tidak hanya itu situs lain yang menyajikan arsip peta-peta kolonial seperti atlasofmutualheritage.nl, dan arsip-arsip yang dapat diunduh dari nationaalalchief.nl menunjukkan adanya inventarisasi benteng-benteng dan pos perdagangan yang pernah dibangun oleh VOC di seluruh dunia. Dan keberadaan Benteng Petrus Albertus ditandai berada di pelabuhan kuno Bornai di tepi Teluk Semangka Nusantara. Versi senada juga ada dalam Beknopte beschryving der Oostindische etablissementen yang juga pernah diulas oleh Frieda Amran dalam rubrik Lampung Tumbai tahun 2014, bahwa benteng Petrus Albertus dibangun di Lampung Semangka, bahkan disebutkan pendiriannya lebih awal dari benteng Valkenburg/Valkenoog di Menggala.

Penulis sendiri secara pribadi lebih meyakini versi kedua. Dalam buku Sejarah Daerah Lampung terbitan Depdikbud 1977, sangat dimungkinkan terjadi kesalahan atau miskonsepsi penyebutan benteng antara Valkenburg dengan Albertus. Sebab konteks, tahun peristiwa, dan latar peristiwa di Menggala dapat disimpulkan telah berkesuaian, hanya penyebutan nama benteng saja yang kurang tepat. Untuk karya fiksi novel jika ingin diberlakukan kritik ilmiah sumber, maka tahun yang dijadikan latar cerita yaitu tahun 1686 sangat jauh dari tepat, sedangkan pemberontakan besar rakyat Menggala terhadap VOC dicatat terjadi antara tahun 1750-1752, selain itu Petrus Albertus sebagai pemilik nama yang disematkan untuk nama benteng juga belum dilahirkan (1714-1775), dan juga benteng di Menggala tercatat baru dibangun pada tahun 1738. Meskipun mengukur karya fiksi dengan tolok ukur karya ilmiah/non-fiksi dirasa kurang tepat, seyogianya karya fiksi yang berlatar peristiwa sejarah atau jika ingin menyebutkan angka-angka tahun dapat disesuaikan. Sebab epos kepahlawanan memiliki pengaruh kuat dalam membentuk sikap patriotik individu, dan jangan sampai jiwa patriotik itu dibangun di atas fondasi fakta yang keliru.

Mengkritisi versi pertama selanjutnya, sejauh ini penulis sendiri belum menemukan sumber yang menyebutkan bahwa VOC pernah membangun benteng keduanya (Petrus Albertus) setelah benteng Valkenburg/Valkenoog di Menggala. Dalam publikasi penelitian Ariwibowo sesungguhnya juga disebutkan bahwa VOC juga membangun benteng di kawasan Teluk Semangka untuk membendung pengaruh Inggris yang bercokol di Pesisir Barat, akan tetapi benteng ini tidak disebutkan sebagai benteng Albertus. Benteng Petrus Albertus justru dijelaskan sebagai benteng kedua yang dibangun VOC di Menggala setelah tahun 1755 dimana pemberontakan Kyai Tapa berhasil dilumpuhkan. Hal ini sulit diyakini oleh penulis, sebab VOC sendiri tidak mencatat pembangunan benteng atau pos perdagangan keduanya di Menggala.

Bersambung ke bagian 2.....

Baca artikel Sejarah lainnya atau artikel lainnya dari Kian Amboro

Penulis
Kian Amboro – Pegiat Sejarah
(berandadesa.com-sejarah)

Kolom Komentar

Previous Post Next Post