![]() |
| Gambar: Citra lokasi Situs Tambah Luhur Purbolinggo, Lampung Timur yang berada di meander sungai Way Batanghari. Sumber: Citra satelit via Google Earth, diambil pada 20/10/2022 |
Baru pada akhir 1943, dengan propagandanya pemerintah Pendudukan Jepang melanjutkan kembali rencana kolonisasi Batanghari Utara yang sempat terhenti itu. Sejumlah 1867 kepala keluarga atau 7399 jiwa kolonis dari Jawa dipindahkan ke 8 (delapan) desa di Batanghari Utara, yang kemudian dikenal sebagai Kolonisasi Tojosawa. Tentu ini dengan maksud untuk menarik hati rakyat Indonesia, serta dalam rangka kepentingan eksploitasi hasil pertanian yang ketika itu sudah sangat dikenal bahwa tanah-tanah kolonisasi merupakan daerah penghasil beras. Sampai dengan memasuki era kemerdekaan, wilayah Batanghari Utara masih menjadi tujuan pemindahan penduduk program transmigrasi pemerintah pada awal dekade 1950an. Wilayah ini kemudian lebih dikenal dengan nama Purbolinggo sampai dengan saat ini.
Namun Purbolinggo rupanya tidak hanya menyimpan narasi sejarah tentang kolonisasi dan transmigrasinya saja. Bahwa para kolonis dan transmigran yang membuka hutan belantara di wilayah Batanghari Utara ternyata bukanlah para pemukim awal. Nun jauh mundur ke belakang, pada periode Lampung ketika masa pra-aksara atau prasejarah ditemukan sejumlah bukti-bukti arkeologis yang mengindikasikan pernah ada aktivitas pemukiman di meander sungai Way Batanghari, yang kini termasuk dalam wilayah administrasi Desa Tambah Luhur, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur.
Situs Tambah Luhur, Temuan Arkeologis Seperempat Abad Lalu
Sebuah situs berlokasi di meander sungai Way Batanghari, ditemukan setelah kajian lapangan arkeologi antara tahun 1996/1997. Lokasi situs tepatnya berada di titik koordinat 5°4'36.28''LS, 105° 29.998362' 00''BT di Desa Tambah Luhur, Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur (saat baru ditemukan masih dalam Kabupaten Lampung Tengah). Situs diberi nama sesuai dengan nama desa dimana lokasinya berada, sebab tidak diperoleh informasi historis sezaman yang menyebutkan nama resmi situs tersebut. Hal ini sudah menjadi pedoman umum para arkeolog ketika memberikan nama untuk temuan arkeologis yang tak didapati namanya dari sumber yang memenuhi kriteria tertentu.Informasi tentang keberadaan situs ini ditemukan dalam dua publikasi hasil penelitian arkeologi, yaitu oleh Rr. Triwurjani dan Sudarti Prijono. Triwurjani adalah seorang arkeolog yang sekira antara tahun 1996-1998 banyak melakukan riset arkeologis di DAS Way Sekampung. Salah satu tulisannya yang berjudul “Sumberdaya Air Sebagai Salah Satu Pilihan Adaptasi Manusia; Suatu Kajian Keruangan” menyebutkan keberadaan Situs Tambah Luhur di Purbolinggo yang berlokasi di salah satu meander sungai Way Batanghari. Menurut Triwurjani, situs Tambah Luhur di Kecamatan Purbolinggo merupakan situs pemukiman yang bercirikan adanya benteng berupa parit tanah dan banyaknya sebaran temuan lepas berupa fragmen tembikar dan keramik. Situs Tambah Luhur topografinya berada di lembah perbukitan di Kampung Pasundan (karena sebagian besar penduduknya adalah transmigran bersuku Sunda) di meander Way Batanghari. Secara arkeologis dicirikan oleh adanya benteng parit yang terdiri dari ruang-ruang. Bagian utara situs merupakan daerah rawa-rawa, dan di bagian barat berbatasan langsung dengan sungai. Diantara rawa-rawa sampai dengan meander dihubungkan dengan parit sepanjang 50 meter. Kira-kira 60 meter sebelah tenggara dari mulut parit ditemukan jejak parit lainnya. Temuan artefak lepas di situs Tambah Luhur diantaranya berupa pecahan keramik, tembikar/gerabah, sisa kulit kerang, limbah penuangan besi, dan adanya makam keramat. Berdasarkan karakteristik tanahnya, didapati gambaran bahwa lahan situs terbentuk dari hasil sedimentasi aliran sungai yang memiliki kandungan tanah liat.
Informasi kedua tentang keberadaan situs Tambah Luhur, diperoleh dari publikasi hasil penelitian Sudarti Prijono, peneliti dari Balai Arkeologi Jawa Barat (sekarang ini berada dalam organisasi BRIN) yang berjudul “Kajian Komposisi Tembikar: Suatu Strategi Adaptasi Masyarakat di Walur dan Tambah Luhur” yang dipublikasikan pada tahun 2012. Penelitian Prijono yang berfokus pada analisis komposisi temuan tembikar atau gerabah yang ada di situs Tambah Luhur, menjelaskan bahwa lokasi situs merupakan pemukiman pada masa lampau yang memiliki lapisan tanah yang tebal, tingkat kesuburan tanah yang tinggi, kandungan tanah liat dari sedimentasi sungai, dan air tawar yang mudah diperoleh. Berdasarkan analisis kandungan kimiawi temuan fragmen tembikarnya menunjukkan adanya kesamaan kandungan komposisi unsur kimia dengan tanah di lokasi situs. Ini berarti bahwa pemukim situs Tambah Luhur mampu memenuhi kebutuhan prasarana hidupnya sendiri, salah satunya dengan membuat tembikar dari tanah liat yang ada di situs dan tidak mendatangkannya dari luar. Secara aspek ekonomi nampak pernah berkembang industri tembikar dalam skala tertentu untuk memenuhi kebutuhan subsiten pemukim situs, dan ini menarik pertanyaan pengembangan lebih lanjut apakah tembikar buatan pemukim situs Tambah Luhur juga digunakan oleh pemukim sezaman di situs lain.
Adapun keberadaan makam dan maqom (petilasan) di situs Tambah Luhur, belum diperoleh data yang dapat menjelaskan latar belakang keberadaannya secara ilmiah mengapa berada di satu lokasi dengan situs, kemudian apakah keberadaannya juga berasal dari satu periode dengan benteng parit menjadi pertanyaan yang masih perlu dicari jawabannya. Menurut cerita rakyat setempat petilasan yang ada di situs Tambah Luhur berasal dari periode Kesultanan Banten saat Lampung berada dalam penguasaannya. Namun ini masih perlu dicari bukti penguat dan pendukungnya lebih lanjut. Keberadaan makam dan atau maqom yang berada dalam situs bercorak megalitik seperti menjadi ciri khas tersendiri untuk berbagai sebaran situs yang ada di Lampung. Hal ini diungkapkan oleh Triwurjani dalam publikasinya yang berjudul “Situs-Situs Megalitik di DAS Sekampung”, yang menyatakan bahwa hampir seluruh situs megalitik yang tersebar di DAS (termasuk sub-DAS) Way Sekampung, selalu dijumpai adanya makam keramat atau maqom (petilasan), kecuali di situs Pugung Raharjo. Lokasi situs yang pernah ditinggalkan pemukimnya dan kemudian dihuni kembali oleh pemukim baru pada era yang berbeda menjadi penjelas mengapa dalam satu situs kerap dijumpai artefak dari berbagai periodesasi (lihat tulisan sebelumnya tentang Situs Pejambon di Pesawaran).
Situs yang Kesejarahannya Tak Dikenali, dan Mitos yang Menyelimuti
Sayangnya, informasi hasil kajian ilmiah para arkeolog seperempat abad yang lalu ini tak banyak diketahui penduduk setempat. Justru narasi yang berkembang di tengah masyarakat Desa Tambah Luhur atau Purbolinggo pada umumnya adalah lokasi situs merupakan lokasi keramat yang sering digunakan untuk aktivitas ritual berbau klenik, seperti mencari pusaka dari alam gaib, mencari “ilmu”, hingga hal-hal berbau negatif seperti mencari peruntungan nomor judi togel. Saking keramatnya, bahkan beberapa tahun yang lalu lokasi situs menjadi nominasi lokasi shooting acara televisi yang cukup fenomenal yang bertema penelusuran mistik dan “uji nyali”. Namun masyarakat setempat menolaknya dan kegiatan tersebut akhirnya dibatalkan. Mitos lain yang berkembang dan dipercaya masyarakat setempat yaitu adanya berbagai makhluk gaib di lokasi situs dari yang berwujud menyeramkan hingga berparas ayu dan rupawan. Tidak hanya itu, diyakini terdapat sosok gaib berwujud ular besar yang mendominasi (menguasai) kawasan situs dan sekitarnya yang kerapkali menampakkan wujudnya kepada warga setempat. Sosok dominan itu yang dipercaya menjaga lokasi situs dan kawasan sekitarnya.Sejarah sendiri sebagai ilmu pengetahuan yang ilmiah tak pernah menegasikan keberadaan tradisi lisan seperti mitos, legenda, folklore dan sejenisnya. Bahkan keberadaannya mendapatkan tempat tersendiri sebagai bentuk historiografi tradisional yang dalam “tataran tertentu” dapat membantu rekonstruksi historiografi modern. Namun, di era kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan modern sekarang ini, sudah seyogianya ruang narasi sejarah ilmiah juga diisi dan dihidupkan. Sejarah sebagai ilmu pengetahuan dan adanya berbagai tradisi lisan, sama-sama akan selalu berkelindan dengan berbagai pelajaran hidup dan nilai-nilai, maka jika keduanya saling sinergi dan dihidupkan akan menciptakan kehidupan masyarakat yang berbudaya dan menekan munculnya berbagai tindakan negatif manusia terhadap sesamanya maupun terhadap lingkungannya. Kearifan lokalitas dan kebijaksanaan ilmu pengetahuan sejatinya dapat berjalan selaras beriringan.
Kondisi Terbarunya Kini
Penulis dan beberapa rekan pegiat sejarah, pada 25 September 2022 lalu mencoba menelusuri keberadaan lokasi situs dan mengobservasi tinggalan artefaktual yang tersisa, bermodalkan informasi yang diperoleh dari publikasi para arkeolog (Triwurjani, 1998; dan Prijono, 2012). Akses menuju lokasi relatif mudah dijangkau bahkan jalan onderlagh telah sampai di depan situs. Lingkungan sekitar situs mayoritas adalah kebun dengan vegetasi kelapa sawit, ladang jagung milik warga, rumpun bambu yang dikelilingi rawa-rawa dan aliran sungai Way Batanghari.Jejak artefaktual yang paling mudah diidentifikasi keberadaannya adalah sisa benteng parit yang berada di depan ladang jagung warga. Sebagaimana petunjuk tertulis, jejak benteng parit yang berupa gundukan tanah masih bisa dilihat dengan jelas, meski kondisinya saat ini telah mengalami pendangkalan, namun morfologi parit masih nampak. Selain benteng parit di sisi timur dan tenggara, di dalam area benteng ditemukan beberapa temuan lepas berupa fragmen tembikar dan keramik, serta sisa-sisa kulit kerang (spesies kerang hijau air tawar). Sebaran fragmen keramik dan tembikar banyak dijumpai di kebun kelapa sawit, dan jumlah paling banyak dijumpai di area perladangan warga karena permukaan tanahnya terkupas oleh proses pembajakan untuk ditanami jagung.
Diantara ruang perladangan warga dan kebun sawit milik warga, terdapat cungkup petilasan yang masih nampak baru, menurut informan setempat yang sedang berladang, bangunan cungkup dibangun sekitar setahun yang lalu, agar memberikan kenyamanan bagi pengunjung yang kerap kali datang berziarah dan berdoa, serta untuk mengurangi kesan belukar tak terawat. Menurut penuturan informan, bentukan makam memanjang tanpa nisan di bawah cungkup adalah petilasan, bukan makam seseorang. Diyakini petilasan ini bernama maqom “Ratu Ibu”. Kisahnya berkenaan dengan salah seorang pangeran dari Kesultanan Banten (informan kemudian menyebut adanya hubungan dengan sebuah penggalan nama “Arifin”) yang diberi perintah Ratu Ibu untuk mencari ilmu, bermeditasi di lokasi yang sudah ditentukan (baca: di situs ini) sampai memperoleh sesuatu yang harus didapatkan sesuai perintah ratu tersebut. Apabila gagal mendapatkannya, maka sang pangeran tak diperkenankan kembali dan akan menyatu dengan tempat dimana ia bermeditasi itu.
Kisah ini cukup menarik perhatian, sebab kisah yang dituturkan itu bersinggungan dengan data sejarah yakni Kesultanan Banten, seorang Ratu Banten, dan pangeran yang memiliki hubungan dengan sepenggal nama “Arifin”. Apakah mungkin terdapat hubungan antara petilasan itu dengan sosok Ratu Syarifa Fatima dari Kesultanan Banten yang terkenal sangat dominan itu?. Bahkan sosok ratu ini dikenal berkomplot dengan VOC untuk membuang putra tirinya yang dianggap ancaman dan menggulingkan tahta suaminya sendiri (Sultan Zainul Arifin) agar politik dapat dikuasai. Tentu hal ini perlu penyelidikan tersendiri lebih lanjut.
Selain cungkup petilasan, satu meter di sebelahnya terdapat makam/kubur yang menurut informan adalah makam seseorang yang ditemukan meninggal di aliran sungai, dan dimakamkan di lokasi itu. Selebihnya tak ada kisah lain yang menyelimutinya, hanya sekedar makam biasa. Informasi lain yang cukup berharga adalah, pengakuan dari informan yang menyatakan bahwa sebelumnya pernah terdapat sebuah plang atau papan nama dari plat besi yang ditanam di depan lokasi situs, persisnya di depan benteng parit dan terdapat penggalan tulisan “cagar budaya”. Namun papan nama yang sudah berkarat dan tak terbaca lagi dengan jelas itu telah hilang sekitar lima tahun yang lalu. Ia meyakinkan bahwa plang itu memang pernah ada, sebab ia yang mengolah ladang jagung yang ada di situs Tambah Luhur tersebut sejak lama, dan mengetahui setiap apa yang berubah dari lokasi itu. Tambahnya, tak banyak masyarakat setempat yang mengetahui keberadaan situs Tambah Luhur sebagai situs peninggalan bersejarah. Pada umumnya masyarakat setempat mengetahui situs itu adalah makam keramat dan wingit yang dijaga oleh berbagai makhluk tak kasat mata. Meski keberadaan mitos ini mampu menjaga situs dari pengrusakan dan eksploitasi lingkungan destruktif, namun sayangnya belum mampu menjaga plang petunjuk cagar budaya itu agar tak hilang dicuri oknum.
Sumber Pembelajaran Sejarah Lokal yang Kontekstual
Keberadaan situs Tambah Luhur di Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur bagi para pegiat sejarah tentu menambah pengetahuan baru, walaupun sesungguhnya situs ini sudah ditemukan sejak 25 tahun yang lalu. Paling tidak, narasi sejarah yang selama ini diyakini bahwa Purbolinggo hanya menjadi situs era kolonisasi dan situs transmigrasi, menjadi makin diperkaya sebab jauh sebelum itu di wilayah yang kini disebut Purbolinggo telah ada pemukim awal di tepi sungai Way Batanghari. Bahkan dengan kemajuan budayanya mampu menciptakan industri tembikar sendiri dengan memanfaatkan kekayaan potensi alam sekitarnya.Keterbatasan dan ketidaktahuan masyarakat mengenai informasi kesejarahan situs Tambah Luhur, menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat akan informasi ilmiah dari tempat ini semakin penting. Jangan sampai kondisi ketidaktahuan ini semakin berlarut sehingga menjadi ancaman bagi keberadaan situs jika suatu saat nanti mitos tak lagi mampu melindungi keberadan situs ini. Akan menjadi lebih ironi jika para peserta didik berbagai sekolah di Kecamatan Purbolinggo tahu, hafal, dan paham berbagai situs tinggalan prasejarah di tempat lain, seperti Situs Sangiran yang telah menjadi Warisan Dunia (World Heritage), atau situs Taman Purbakala Pugung Raharjo yang kini menjadi objek taman purbakala tingkat nasional, tetapi di sisi lain asing dengan narasi sejarah di lokalitasnya sendiri dan tak mengenal situs peninggalan bersejarah yang lebih dekat dengan mereka, ada di sekitar mereka.
Upaya pemanfaatan situs Tambah Luhur dalam pembelajaran sejarah yang kontekstual dengan lingkungan sekitar, dapat menjadi cara untuk menghidupkan nilai ilmiah dari lokasi situs yang selama ini hanya dikenal angker dan wingit. Paling tidak ini menjadi tanggung jawab bagi sekolah-sekolah dari berbagai jenjang di Kecamatan Purbolinggo dan sekitarnya untuk mengenalkannya kepada peserta didiknya. Sekolah merupakan tempat dimana pengetahuan dibelajarkan dan kreativitas bertumbuh, tentu dengan pemahaman ini sekolah akan memiliki banyak cara untuk mengenalkannya kepada peserta didiknya. Hal penting yang harus dipahami dalam belajar tentunya adalah, dari yang lebih mudah menuju yang kompleks, dari yang terdekat di sekitar kemudian lebih meluas. Nilai ke-Indonesiaan dapat dibelajarkan dari bawah, dan dapat dikenalkan dari apapun yang ada di sekitar, maka untuk itu kita semua dapat memulainya dari sekarang.
Baca artikel menarik lainnya dari Kian Amboro
(Berandadesa.com - Sejarah)
(Berandadesa.com - Sejarah)
Penulis:
Kian Amboro – Pegiat Sejarah




