Denger-denger selentingan beberapa bulan ke depan Indonesia mau jadi tuan rumah piala dunia U20. Total 24 negara peserta dari berbagai benua direncanakan akan menyambangi negeri ini.
Isu ini memang sudah semestinya menjadi perhatian bangsa Indonesia. Belum adanya sikap yang jelas dari pemegang otoritas menjadi penanda, negara butuh dukungan dari masyarakatnya.
Kita patut mengapresiasi langkah yang sudah diambil salah satu organisasi sosial keagamaan yang dalam pernyataannya memberi sumbang saran atas polemik ini. Mengingatkan jika UUD 1945 menolak adanya penjajahan dalam bentuk apapun dan di belahan bumi mana pun. Termasuk si pelakunya penjajahan. Selain itu, kalangan ormas ini menitikberatkan bahwa Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Sehingga dianggap sah-sah saja jika menolak kehadiran timnas Israel.
Lembaran sejarah mau tidak mau harus kembali dibuka, mencari rujukan bagaimana sikap politik para pendiri bangsa kita.
Tahun 1957/58 barangkali bisa dijadikan pijakan. Ketika Presiden Sukarno menolak Timnas Indonesia bertanding melawan timnas Israel pada kualifikasi kedua piala dunia 1958 yang mengakibatkan gagalnya timnas Indonesia masuk piala dunia 1958.
Yang menjadi ramai dibicarakan dan menuai pro kontra adalah keikutsertaan Timnas sepakbola Israel U20 digelaran pesta olahraga tersebut.
Ada pihak yang tidak mempermasalahkan kedatangan timnas Israel dan ada pihak lain yang menolak secara tegas. Belakangan penolakan datang dari pemerintah daerah, organisasi sosial keagamaan, anggota partai politik dan lain-lain.
Isu ini memang sudah semestinya menjadi perhatian bangsa Indonesia. Belum adanya sikap yang jelas dari pemegang otoritas menjadi penanda, negara butuh dukungan dari masyarakatnya.
Kita patut mengapresiasi langkah yang sudah diambil salah satu organisasi sosial keagamaan yang dalam pernyataannya memberi sumbang saran atas polemik ini. Mengingatkan jika UUD 1945 menolak adanya penjajahan dalam bentuk apapun dan di belahan bumi mana pun. Termasuk si pelakunya penjajahan. Selain itu, kalangan ormas ini menitikberatkan bahwa Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Sehingga dianggap sah-sah saja jika menolak kehadiran timnas Israel.
Sebenarnya bila kita telaah secara seksama, penolakan dari masyarakat Indonesia terhadap kedatangan timnas Israel di Piala Dunia U20 bukan karena faktor agama ataupun ras, melainkan karena tindakan Israel terhadap bangsa Palestina yang dianggap melanggar prinsip kemerdekaan, persamaan hak dan persaudaraan hidup antar bangsa dan negara. Lebih-lebih tidak sejalan dengan prinsip dasar yang dianut negara kesatuan Republik Indonesia.
Seberapa konsisten kita menjaga amanat konstitusi ini? "maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan" alenia pertama UUD 1945.
Seberapa konsisten kita menjaga amanat konstitusi ini? "maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan" alenia pertama UUD 1945.
Lembaran sejarah mau tidak mau harus kembali dibuka, mencari rujukan bagaimana sikap politik para pendiri bangsa kita.
Tahun 1957/58 barangkali bisa dijadikan pijakan. Ketika Presiden Sukarno menolak Timnas Indonesia bertanding melawan timnas Israel pada kualifikasi kedua piala dunia 1958 yang mengakibatkan gagalnya timnas Indonesia masuk piala dunia 1958.
Meski terlihat merugikan timnas Indonesia, langkah yang diambil pemerintah Sukarno sudah mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia yang secara tegas menolak penjajahan dengan model apapun yang masih terjadi di atas dunia ini. Sekaligus sebagai peringatan kepada Israel bahwa bangsa Palestina berhak merdeka.
Sejarah seolah menitipkan pesan "Lebih baik gagal masuk pildun daripada melukai hati dan perasaan rakyat Palestina".
Tentu event piala dunia U20 ini sangat penting bagi Indonesia. Namun tidaklah kalah penting suara-suara penolakan yang keluar dari orang-orang penting di negeri ini untuk didengar oleh pemerintah pemegang otoritas. Dan dijadikan referensi untuk menentukan kebijakan atas polemik ini.
Penulis:
Barnas
