My Kronik Hunting History Baturaja


AKHIRNYA datang hari di mana akan terjadi cerita menarik selanjutnya dari pengalaman kali ini. Bukan hanya sekedar perjalanan untuk sebuah kesenangan semata akan tetapi inilah salah satu bentuk healing kami sebagai pecinta sejarah. Semua itu dilakukan sebagai langkah awal untuk terbukanya sebuah pintu yang masih sulit dibuka.

Sebuah perjalanan dilakukan oleh sekelompok pegiat sejarah untuk melakukan ekspedisi sejarah yang disebut dengan Hunting History. Sesuai dengan namanya konsep hunting history ini hanya berlandaskan rasa penasaran akan informasi sejarah yang masih minim dan belum banyak orang yang mengetahuinya. Tetapi sebelum melakukan hunting history, kami sebagai pelaku melakukan riset dan mencari informasi mengenai objek yang akan ditelusuri dengan harapan akan mendapatkan clue disetiap perjalanan.

Day 1, Go To Baturaja
Sabtu, 24 Juni 2023. Sekelompok pegiat sejarah dari salah satu kota kecil bernama Metro, melakukan hunting history menuju kota Baturaja. Baturaja sendiri merupakan daerah yang berada di Sumatera Selatan dan menjadi ibukota dari Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), daerah ini menyimpan banyak sekali cerita sejarah didalamnya.

Dengan menunggangi kuda besi sebagai transportasi para pegiat sejarah memulai perjalanannya, berangkat pukul 09.00 WIB dari stasiun tegineneng dengan jarak sekitar 200km kuda besi yang ditunggangi akhirnya tiba dilokasi sekitar pukul 14.30 WIB. Setelah ditempuh dengan waktu sekitar 5 jam setengah perjalanan dengan suasana perjalanan yang sangat mengesankan akhirnya tibalah pegiat sejarah di Kota Lama Baturaja. Kenapa Kota Lama? Karena lokasi stasiun kuda besi ini merupakan komplek daerah lama dari Kota Baturaja. Setelah itu pegiat sejarah masih harus melanjutkan perjalanan untuk mencapai penginapan yang berada di pusat kota dengan berjalan sejauh 3 km.

Day 2, Situs Megalitikum
Sebelumnya hunting history kali ini dilakukan berdasarkan rasa penasaran dari salah satu materi seminar yang dilakukan tempo hari di Museum Lampung dengan isi materi masa prasejarah yang didalam pembahasan menjelaskan salah satu situs megalitikum fenomenal yang ditemukan di Baturaja tempatnya di Desa Padang Bindu, Kec. Semidang Aji, Kab. OKU, Proovinsi Sumatera Selatan. Situs tersebut dijelaskan terdapat banyak sekali penemuan berupa fosil manusia-manusia prasejarah pada masa Megalitikum. Dari situlah rasa penasaran untuk langsung menulusuri objek ini dimulai.

Minggu, 25 Juni 2023. Dari penginapan dengan menyesuaikan rute perjalanan yang sudah dibuat sebelumnya pegiat sejarah memulai perjalannya, dengan menyewa sebuah mobil rombongan pegiat sejarah mulai bergerak menuju lokasi situs Goa Harimau yang berada di desa Padang Bindu. Sepanjang perjalanan pegiat sejarah disuguhi oleh pemandangan alami khas Sumatera dengan aliran sungai Ogan komering sebagai kompas perjalanan. Aliran sungai ini yang mengantarkan pegiat sejarah sampai ke lokasi situs ditandai dengan masuknya kedaerah wisata Goa Putri. Lokasi ini ternyata memang memiliki kondisi alam yang berupa perbukitan dan memiliki beberapa objek goa di sekitarnya.

1. Goa Putri
Goa Putri merupakan sebuah goa yang sudah cukup terkenal sebagai tempat wisata dengan membalut objek dengan cerita legenda setempat. Konon katanya lokasi Goa Putri ini merupakan kediaman dari seorang putri yang bernama Putri Dayang Merindu, kemudian terdapat aliran sungai didalam goa tersebut yang bernama sungai Semuhun. Didalamnya terdapat beberapa tempat yang diperkirakan sebagai tempat-tempat khusus, seperti ruang tengah, ruang kamar, ruang belakang, tempat pemandian (sungai Semuhun), Harimau penjaga, lumbung padi (tempat penyimpanan makanan) dan singgasana Raja. Pada akhirnya goa yang menjadi kediaman putri tersebut dikutuk oleh seorang pengembara "Si Pahit Lidah" yang tidak menyukai sifat sombong sang Putri.

Gambar 2. Papan Informasi Goa Puteri

Setelah dari Goa Putri kami melanjutkan perjalanan untuk menuju lokasi Goa Harimau, benar saja lokasinya masih kurang diketahui karena harus melewati jalanan setapak tanah. Tidak berselang lama akhirnya kami tiba dirumah satpam Goa Harimau, setelah bertemu oleh satpam Goa Harimau yang bernama pak Melki, kami lanjut ke lokasi objek yang masuk kearah hutan sekitar 500m-1km dari rumah pak Melki. Perjalanan menuju Goa Harimau memang membutuhkan efforts lebih, karena medan yang tempuh berupa hutan dengan jalanan tanah dan beberapa titik jalan berupa lumpur, belum lagi harus melewati sungai kecil sebelum mencapai lokasi Goa Harimau.

2. Goa Harimau
Goa Harimau sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh TACB provinsi Jambi. Setelah tiba di Goa Harimau pemandu menjelaskan sedikit tata tertib saat berada di goa, sebagai berikut:
  1. Dilarang melakukan vandalisme (kerusakan) karena objek sudah menjadi cagar budaya
  2. Menjaga perilaku, sikap dan etika
  3. Kawasan penggalian tidak boleh didekati (hanya bisa melihat dari jarak yang sudah ditentukan)
  4. Mengambil dokumentasi seperlunya dan digunakan dengan positif (pembelajaran, pendidikan dll).
Pemandu melanjutkan penjelasannya dari selama perjalanan tadi dan menekankan untuk menjaga sikap dan perilaku, karena para dasarnya goa ini merupakan tempat peradaban manusia prasejarah yang dimana ditemukan sisa-sisa fosil dan benda-benda yang artinya goa tersebut dijadikan sebagai pemakaman juga.

Selanjutnya kami yang menanyakan beberapa pertanyaan seputar Goa Harimau kepada pemandu, mulai dari kapan goa ini diketahui?, siapa yang memulai penelitian di goa ini?, dan temuan apa yang sudah didapatkan sejauh ini?. Pemandu menjelaskan bahwa goa ini ditemukan oleh sekelompok orang arkeologi (Arkeologi Nasional) pada tahun 2008, awalnya bermula dari salah satu tim arkeologi yang menentukan sebuah batu lama disungai yang diduga merupakan sebuah fosil batu. Kemudian dilakukan tindak lanjut untuk mencari lokasi dugaan tempat peradaban masa prasejarah, akhirnya setelah menyusuri daerah sekitar OKU ditemukan sebuah goa, yang saat ini dikenal dengan sebutan Goa Harimau. 

Sebuah penemuan situs Megalitikum fenomenal yang ada di Sumatera, selanjutnya setahun kemudian 2009 goa tersebut dilakukan penilitian intens oleh para arkeolog. Kemudian disampaikan lagi bahwa sudah terdapat 82 temuan yang berasal dari Goa Harimau tersebut dengan temuan berupa fosil-fosil, pendapuran, lukisan-lukisan dinding dll. Bahkan penemuan situs ini cukup membuat gempar para arkeolog mancanegara bahkan pihak arkeologi Indonesia sudah menjalin kerjasama bersama 7 negara, Australia dan Jepang merupakan negara yang cukup intens dengan perkembangan dari Goa Harimau tersebut.

Setelah menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan, pemandu mencoba menyampaikan sedikit keresahannya selama menjadi satpam Goa Harimau.

Gambar 4. Foto dari dalam mulut Goa Harimau

Sebagai seorang satpam yang menjadi gerbang untuk masuk ke kawasan Goa Harimau sangat senang apabila ada kunjungan baik dari dalam daerah maupun dari luar daerah, karena pada dasarnya Goa Harimau sebagai objek cagar budaya masih sangat minum diketahui oleh banyak orang. Hal tersebut dikarenakan akses jalan yang masih cukup sulit, kemudian plang atau petunjuk arah yang belum ada dan tepat, ditambah lokasi Goa Harimau yang berada di kawasan wisata Goa Putri yang sudah cukup populer sebagai tempat wisata, berbanding terbalik dengan keberadaan Goa Harimau yang memerlukan efforts lebih untuk bisa mendatanginya.

Harapannya pihak pemerintah bisa memperhatikan potensi dari objek Goa Harimau ini terlebih lagi sudah menjadi cagar budaya, mulai dari hal yang paling sederhana membuat petunjuk arah dan akses yang lebih jelas agar para pengunjung yang penasaran akan Goa Harimau bisa dengan mudah menuju lokasi. Dan untuk selebihnya mungkin bisa dari dinas pariwisata dan seharusnya sudah tau apa yang harus dikerjakan terlebih lagi dengan sebuah cagar budaya sebagai aset daerah bahkan aset negara.

Perspektif penulis
Dari perjalanan Hunting History Baturaja ini penulis mendapatkan banyak sekali pengalaman, khusus mengenai situs Goa Harimau yang menjadi bukti peradaban dari manusia prasejarah di pulau Sumatera. Berangkat dari materi seminar kajian koleksi "prasejarah" Di UPTD Museum Provinsi Lampung, dimana didalam materi yang disampaikan menyinggung salah satu temuan fenomenal berupa goa yang menjadi peradaban manusia prasejarah masa Megalitikum, situs tersebut bernama Goa Harimau. Situs tersebut menemukan sebuah jejak peninggalan manusia prasejarah di pulau Sumatera dengan jenis manusia yang sudah semakin modern, berikut jenis rasa fosil manusia yang ditemukan di goa harimau:
  1. Ras Australomelanesid (15.000-5.000 tahun)
  2. Ras Monggolid (4.000-3.500 tahun)
  3. Mix Ras Australomelanesid Mongoloid (2.000 tahun)
Dari ketiga temuan jenis Ras yang ditemukan, penemuan Mix Ras Australomelanesid Mongoloid yang sangat mengemparkan para arkeolog untuk terus melakukan penelitian, karena dari penemuan di Goa Harimau ini membuktikan bahwa peradaban manusia prasejarah sejarah yang ada di pulau Sumatera ini sangat spesifik dan terdapat jejak peninggalannya. 

Semua hal tersebut didukung oleh hasil tes tanah yang ada di Goa Harimau, berdasarkan hasil tes tersebut tanah Goa Harimau sudah ada sejak 15.000 tahun yang lalu, dimana sudah ada sebuah peradaban dan kehidupan selama itu. Kemudian ditelusuri kembali selama penelitian dan ekskavasi ternyata penemuan fosil-fosil dan barang lainnya terdapat dibeberapa lapisan tanah, hal itu mengindikasikan bahwa sudah terjadi beberapa kali periode peradaban di goa tersebut. Hal tersebut kemudian diperkirakan karena adanya luapan dari sungai yang berada di sekitar goa yang menyebabkan setiap lapisan akan bertambah tinggi apabila ada sebuah bencana banjir, total sudah ada 4 lapisan tanah yang ada di goa harimau dan sudah terjadi peradaban selama 4 periode pula. 

Selanjutnya ditemukan alat pendukung kehidupan sehari-hari manusia prasejarah berupa alat berburu, dan meramu (kapak perimbas, alat serpih, mata panah dan masih banyak lagi lainnya), alat-alat tersebut semakin berkembang dengan berjalannya waktu dengan adanya temuan lanjutan berupa kapak corong, spatula besi, pernak-pernik (gelang, manik-manik dan lain-lain). 

Bukti lainnya adalah dengan ditemukannya lukisan cadas yang terdapat didinding goa, bahkan ditemukan pula alat untuk membuat lukisan tersebut berupa pigmen pewarna/biji besi (Hematit). Sungguh luar biasa penemuan yang ada di desa Padang Bindu, Kec Semidang Aji, kab OKU, provinsi Sumatera Selatan ini. Sebelumnya penulis hanya bisa melalui slide materi yang disampaikan pemateri di seminar, akan tetapi setelah mendatangi dan melihat secara langsung situs goa harimau tersebut hanya ada perasaan sangat takjub akan luar biasanya peninggalan prasejarah.

Kesan dan pesan
Kesan, semakin menambah rasa penasaran akan sejarah di setiap periodenya, dan ingin mencoba memperdalam pengetahuan serta relasi tentang sejarah. Goa harimau ini menampilkan sebuah cerita yang mengesankan di masa prasejarah.

Pesan, tidak ada seseorang pun yang tidak memiliki sejarah. Maka dari itu mari kita semua menumbuhkan rasa sadar akan pentingnya sejarah, menjaga dan melestarikan objek dan situs-situs yang ada disekitar kita agar bisa menjadi bermanfaat untuk banyak pihak. Berawal dari penemuan goa harimau situs prasejarah yang ada di pulau Sumatera, semoga kedepannya literasi tentang sejarah masa prasejarah dapat menggunakan literasi di sekitar (lokal) sehingga kedepannya dapat diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran baik formal mau non-formal. Agar konten dan isi materi dari sejarah yang dibangun dapat dipelajari dan diresapi oleh semua kalangan, karena mereka merasa memiliki sejarah tersebut dan bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya.

Penulis: Shofiyurrahman
Baca artikel lainnya di Google News 

Kolom Komentar

Previous Post Next Post