Inklusif dan Adaptif, Begini Masa Depan Pendidikan Sejarah Menurut Kian Amboro

Metro, 18 Mei 2025 — Seminar kesejarahan dalam rangka Puncak Pekan Sejarah VI Universitas Muhammadiyah Metro menjadi ruang refleksi dan diskusi mendalam tentang arah dan masa depan pendidikan sejarah di Indonesia. Mengusung tema “Inklusivitas Pendidikan Sejarah Era Digital”, seminar ini menghadirkan Kian Amboro, M.Pd., seorang Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lampung Timur, yang menyoroti secara kritis berbagai tantangan dan peluang dalam dunia pendidikan sejarah saat ini.

Dalam pemaparannya, Kian menyampaikan bahwa pendidikan sejarah di era modern perlu bergerak melampaui pendekatan konservatif yang hanya menekankan hafalan dan pembacaan teks naratif. Menurutnya, inklusivitas pendidikan sejarah berarti membuka partisipasi seluas-luasnya bagi masyarakat dalam mengakses, memahami, bahkan memproduksi narasi sejarah—baik di ruang akademik maupun ruang publik digital.

“Kini sejarah tidak hanya dibicarakan di ruang kelas. Di media sosial, YouTube, podcast, TikTok, hingga penerbitan independen, kita melihat banyak konten sejarah dibuat dan diakses jutaan orang. Dan yang menarik, sebagian besar produsen konten itu bukan lulusan pendidikan sejarah,” ujarnya.

Fenomena ini, menurut Kian, menjadi "alarm" penting bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), khususnya Program Studi Pendidikan Sejarah, agar segera beradaptasi dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Ia menekankan bahwa jika tidak segera membuka diri terhadap pendekatan baru, maka lulusan pendidikan sejarah akan kalah cepat dari para pelaku non-akademik yang lebih luwes dalam mengolah sejarah menjadi sesuatu yang menarik, informatif, dan menghibur.

“Kita tidak bisa lagi menempatkan sejarah hanya sebagai mata pelajaran. Sejarah harus dipahami sebagai keterampilan berpikir, meneliti, mengomunikasikan, dan menginspirasi. Lulusan pendidikan sejarah tidak harus jadi guru. Mereka bisa jadi peneliti pemula, pengelola arsip, produser konten sejarah digital, bahkan pelaku industri wisata sejarah,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kian menyampaikan bahwa ke depan, sejarah akan semakin bersinggungan dengan berbagai sektor seperti pariwisata, industri kreatif, media digital, hingga kebijakan publik. Oleh karena itu, mahasiswa pendidikan sejarah harus dibekali dengan keterampilan praktis yang relevan, seperti penulisan populer, pemandu museum, pemanduan wisata sejarah, serta digital storytelling.

Ia juga mendorong kampus untuk membangun jejaring dengan komunitas sejarah, museum, situs budaya, dan platform media agar mahasiswa tidak hanya dibentuk menjadi pendidik formal, tetapi juga pelaku sejarah yang aktif di masyarakat.

“Sejarah adalah industri yang belum banyak digarap dengan serius. Kita punya kekayaan narasi, artefak, tokoh, dan memori kolektif. Tapi kita belum sepenuhnya berhasil mengolahnya menjadi kekuatan ekonomi dan budaya. Ini pekerjaan besar bagi generasi muda, termasuk saya dan juga kalian para mahasiswa sejarah,” tegasnya.

Selain itu, tantangan pendidikan sejarah ke depan juga mencakup bagaimana menghadirkan sejarah yang relevan dengan konteks kekinian, tidak sekadar masa lalu yang membosankan. Kian mengingatkan bahwa sejarah yang gagal terhubung dengan realitas hari ini hanya akan jadi hafalan mati.

“Mahasiswa sejarah harus mampu menjawab: Mengapa peristiwa ini penting untuk kita pahami sekarang? Apa dampaknya terhadap masyarakat hari ini? Bagaimana kita bisa belajar dari masa lalu untuk mengambil keputusan di masa depan?” katanya lagi.

Seminar ini menutup rangkaian kegiatan Pekan Sejarah VI yang sejak awal telah melibatkan pelajar dan mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia dalam lomba-lomba kreatif dan ilmiah. Kehadiran peserta dan audiens dalam seminar membuktikan bahwa minat terhadap isu-isu kesejarahan tetap tinggi, selama dikemas secara kontekstual dan dekat dengan kebutuhan zaman.

Pekan Sejarah VI tidak hanya menjadi ruang kompetisi dan kreativitas, tetapi juga menjadi forum intelektual yang menghidupkan kembali semangat berpikir kritis dan kolaboratif dalam pendidikan sejarah Indonesia.

Aditya Rohman

Kolom Komentar

Previous Post Next Post