
Setiap tahun, cerita lama itu selalu berulang: Idul Fitri datang tidak selalu serentak. Tahun ini pun begitu. Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, teleskop semakin canggih, data astronomi semakin presisi tetap saja kita berbeda.
Pertanyaannya sederhana, tapi jarang dijawab dengan jujur: yang berbeda itu metode, atau cara kita berpikir?
Sebagian orang dengan cepat berkata, “ini sudah jelas secara ilmu.” Sebagian yang lain bertahan dengan keyakinan yang juga mereka anggap benar. Namun di antara semua itu, ada satu hal yang sering hilang, keinginan untuk benar-benar memahami.
Kita ini sering ingin terlihat benar, tapi malas untuk mengerti.
Di titik ini, saya teringat pemikiran Tan Malaka dalam Madilog. Ia tidak sekadar bicara kemerdekaan dari penjajah, tapi kemerdekaan dari cara berpikir yang tumpul. Ia menempatkan logika sebagai senjata, bukan sekadar pelengkap.
Kalau ditarik ke persoalan Idul Fitri, masalahnya bukan lagi sekadar hisab atau rukyat. Keduanya punya dasar. Keduanya punya argumen. Keduanya lahir dari tradisi ilmu yang panjang.
Tapi yang sering terjadi di lapangan jauh lebih sederhana dan mungkin lebih memprihatinkan.
Kita ikut.
Tanpa tahu kenapa.
Tanpa merasa perlu tahu.
Sebagian ikut karena organisasi. Sebagian ikut karena lingkungan. Sebagian lagi ikut karena “yang penting sama dengan yang lain.” Lalu di saat yang sama, kita merasa paling benar.
Di sinilah letak keganjilannya.
Bagaimana mungkin kita merasa benar, sementara kita sendiri tidak benar-benar paham apa yang kita yakini?
Bagi saya, perbedaan Idul Fitri bukan masalah besar. Yang jadi masalah adalah ketika perbedaan itu memperlihatkan betapa kita masih alergi terhadap proses berpikir. Kita lebih nyaman menerima daripada menimbang. Lebih cepat menilai daripada memahami.
Padahal, kalau mau jujur, ilmu falak itu tidak sesederhana “sudah masuk” atau “belum masuk.” Ada kriteria, ada perbedaan pendekatan, ada ruang ijtihad. Artinya, perbedaan itu memang punya tempat dalam tradisi keilmuan.
Namun, sekali lagi, persoalannya bukan di situ.
Persoalannya adalah: apakah kita benar-benar berpikir, atau hanya merasa sudah berpikir?
Mengikuti semangat Tan Malaka, kemerdekaan itu dimulai dari kepala. Dari keberanian untuk mempertanyakan, memahami, dan menyusun kesimpulan dengan sadar.
Kalau tidak, maka perbedaan seperti Idul Fitri ini akan terus berulang, bukan sebagai ruang belajar, tapi sebagai cermin bahwa kita belum sepenuhnya merdeka dalam berpikir.
Dan mungkin, yang perlu kita khawatirkan bukan lagi perbedaan hari raya,
melainkan keseragaman cara kita… yang sama-sama tidak mau berpikir.
Barnas Rasmana