TBM Rumah Perubahan Ajak Pelajar Menulis Folklor



BERANDADESA.COM, LAMPUNG TIMUR - Sebuah cerita yang selama ini hanya hidup dari mulut ke mulut bisa saja hilang ketika orang yang menyimpannya tak lagi mampu menceritakan. Karena itu, membaca, menulis, dan mendokumentasikan pengetahuan budaya menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan sebuah masyarakat.

Gagasan tersebut mengemuka dalam kegiatan literasi yang diselenggarakan TBM Rumah Perubahan SNC Labuhan Ratu Lampung Timur, yang mempertemukan para pelajar dengan pegiat literasi dan akademisi untuk mengenal lebih dekat literasi budaya serta penulisan folklor. Balai Kecamatan setempat, Minggu (30/8/2026).

Dalam sambutannya, Eliyawati, M.Pd., Ketua TBM RP SNC Lampung Timur mengajak peserta untuk tidak minder dengan keadaan diri maupun lingkungan masing-masing. Ia mengingatkan bahwa kondisi seseorang yang terlihat lebih baik belum tentu menunjukkan keadaan yang sebenarnya.

Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang selama mau belajar, membaca, dan terus mencoba.

Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan pentingnya buku dan tulisan. Baginya, seseorang mungkin tidak lahir sebagai anak raja atau berasal dari keluarga yang memiliki kekuasaan, tetapi tetap dapat meninggalkan jejak melalui karya.

“Kalau kau bukan anak raja, maka menulislah,” demikian ungkapan yang disampaikan dalam sambutannya untuk menggambarkan pentingnya tulisan sebagai cara seseorang meninggalkan gagasan dan pengetahuan.

Ia juga menceritakan pengalaman ketika masih kuliah, saat dirinya memiliki teman yang sama-sama memiliki ketertarikan terhadap buku dan menulis. Kebiasaan saling memberikan buku dan membaca tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan yang mendorongnya untuk menghasilkan karya.

Menurutnya, proses tersebut seperti menyusun kepingan puzzle. Apa yang dilakukan seseorang hari ini mungkin tampak sederhana, tetapi pada masa mendatang dapat menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Menulis untuk Mewariskan Budaya

Pesan tersebut kemudian diarahkan pada pentingnya generasi muda mendokumentasikan pengetahuan budaya yang ada di lingkungan mereka.

Ia mencontohkan berbagai pengetahuan lokal, adat, cerita masyarakat, serta kebiasaan yang selama ini diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan tersebut, menurutnya, jangan sampai berhenti pada generasi tertentu.

Salah satu yang dapat dilakukan adalah mengubah pengalaman dan pengetahuan tersebut menjadi tulisan.

Hal senada kemudian diperdalam oleh Dr. Kian Amboro, M.Pd., yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut.

Kian memberikan perhatian khusus terhadap literasi budaya. Menurutnya, literasi budaya penting karena Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat luas. Berbagai kelompok masyarakat memiliki bahasa, tradisi, kebiasaan, ekspresi, filosofi, dan pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari identitas mereka.

Karena itu, ia mengapresiasi kegiatan yang mengangkat tema literasi budaya dan secara khusus mengajak pelajar untuk menulis folklor.

Dr. Kian Amboro, M.Pd., narasumber kegiatan, saat menyampaikan materi tentang folklor dan pentingnya merawat ingatan budaya.

Folklor Bukan Hanya Cerita Rakyat

Dalam pemaparannya, Kian mengajak peserta terlebih dahulu membongkar pemahaman umum mengenai folklor.

Selama ini, folklor kerap dipahami sebatas cerita rakyat, legenda, atau kisah-kisah masa lalu. Padahal, menurut Kian, cakupannya jauh lebih luas.

“Folklor itu tidak hanya cerita rakyat. Tradisi, bahasa, ungkapan, ekspresi, filosofi, bahkan kebiasaan yang masih hidup di masyarakat juga merupakan bagian dari folklor,” jelasnya.

Ia mencontohkan berbagai ungkapan dan larangan yang masih dikenal masyarakat, termasuk pamali. Meskipun berasal dari tradisi masa lalu, keberadaannya masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Karena itu, folklor tidak selalu identik dengan sesuatu yang kuno atau sudah ditinggalkan.

“Folklor juga merupakan sesuatu yang hari ini masih hidup,” katanya.

Menurut Kian, kehidupan folklor justru memperlihatkan hubungan antara budaya dan komunitas yang mempertahankannya. Selama terdapat masyarakat yang mengakui, menggunakan, memahami, dan mewariskan suatu kebiasaan atau pengetahuan sebagai bagian dari identitas mereka, maka di situ terdapat ruang untuk melihat folklor.

Dari Cerita Menjadi Tulisan

Kian kemudian membawa peserta pada persoalan yang lebih praktis: bagaimana mengubah folklor menjadi sebuah tulisan.

Menurutnya, menulis folklor berbeda dengan menulis fiksi yang sepenuhnya dibangun dari imajinasi penulis.

Ada sumber, pengalaman, konteks, dan pengetahuan masyarakat yang harus diperhatikan.

Ketika seorang pelajar bertanya kepada orang tua, kakek-nenek, tokoh masyarakat, atau seseorang yang dianggap mengetahui sebuah tradisi, sebenarnya ia sudah melakukan proses riset dalam skala sederhana.

“Ketika kita mencoba mencari sumber dan mewawancarai orang yang lebih tahu tentang warisan budaya, itu sebenarnya sudah merupakan riset dalam skala kecil,” jelas Kian.

Karena itu, menulis folklor membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan tanggung jawab.

Meski demikian, Kian menegaskan bahwa kreativitas tetap memiliki ruang. Penulis dapat mengembangkan cerita dan melakukan interpretasi selama tidak menghilangkan pijakan utama dari warisan budaya yang sedang ditulis.

Folklor Bisa Tumbuh di Era Digital

Kian juga mengajak peserta meninggalkan anggapan bahwa folklor selalu berkaitan dengan sesuatu yang “jadul”.

Menurutnya, perkembangan masyarakat justru melahirkan folklor kontemporer.

Sebuah komunitas dapat memiliki istilah, kebiasaan, prinsip, atau pengetahuan tertentu yang hanya dipahami oleh anggotanya. Ketika pengetahuan tersebut menjadi bagian dari identitas komunitas dan diwariskan di antara mereka, fenomena itu dapat menjadi bagian dari folklor kontemporer.

Dengan demikian, folklor tidak berhenti pada batik, tradisi lama, cerita rakyat, atau berbagai peninggalan masa lalu.

“Budaya itu hidup. Karena itu, folklor tidak harus selalu sesuatu yang kuno,” ujarnya.

Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda memiliki ruang besar untuk mendokumentasikan budaya yang mereka temui sehari-hari.

Penulis sebagai Mediator Budaya

Bagi Kian, penulis memiliki posisi penting sebagai mediator antara warisan budaya dan generasi berikutnya.

Tulisan memungkinkan pengalaman dan pengetahuan yang sebelumnya hanya diwariskan secara lisan untuk didokumentasikan, dibaca kembali, dan diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.

Namun, menjaga budaya bukan berarti mempertahankannya tanpa perubahan.

Kian menilai generasi baru juga memiliki hak untuk menafsirkan kembali warisan budaya sesuai konteks zamannya.

Ia mencontohkan pamali yang dapat dipertanyakan kembali relevansinya. Nilai yang masih sesuai dapat dipertahankan, sementara bagian yang sudah tidak relevan dapat dikaji secara kritis.

Menurutnya, proses tersebut justru merupakan bagian dari cara budaya bertahan.

“Warisan budaya perlu diinterpretasikan kembali oleh generasi berikutnya agar tetap hidup,” katanya.

Peserta Didorong Menghasilkan Tulisan

Kegiatan tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi.

Peserta juga diarahkan untuk menghasilkan tulisan berdasarkan tema dan pengalaman budaya yang mereka temui.

Perwakilan TBM RP Labuhan Ratu Lampung Timur menyampaikan bahwa peserta nantinya akan mendapatkan tugas menulis yang dikumpulkan kepada penyelenggara. Tulisan tersebut akan dipilih dan dicetak sebagai bagian dari dokumentasi kegiatan serta upaya memperkenalkan karya peserta.

Langkah tersebut diharapkan menjadi pengalaman awal bagi para pelajar untuk mengenal proses menulis, menggali informasi, melakukan wawancara, serta mengolah pengetahuan lokal menjadi sebuah karya.

Para peserta juga diajak untuk tidak takut bertanya dan berdiskusi selama kegiatan berlangsung.

Bagi penyelenggara, keberanian bertanya dan mencoba menulis jauh lebih penting daripada menghasilkan tulisan yang langsung sempurna. Sebab, kemampuan menulis tumbuh melalui proses.

Dari membaca, bertanya, mendengar cerita, mencatat, mencoba, lalu menulis.

Dan dari proses sederhana itu, sebuah cerita lokal yang semula hanya diketahui oleh segelintir orang dapat memiliki kesempatan untuk dibaca oleh generasi yang lebih jauh.

Pada akhirnya, kegiatan literasi tersebut tidak hanya mengajarkan bagaimana menulis folklor.

Lebih dari itu, peserta diajak memahami bahwa menulis adalah salah satu cara menjaga ingatan masyarakat agar pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak berhenti sebagai cerita yang perlahan dilupakan.



Berandadesa.com: Budaya-Daerah
Barnas Rasmana

Kolom Komentar

Previous Post Next Post