Suatu hari Bung Hatta
pernah berdialog dengan Solichin Salam, seorang penulis biografi tokoh-tokoh
besar di Indonesia. Solichin pun mengaku bahwa kesempatan ini sangat berharga
dan sebuah kehormatan bagi dirinya dapat berdialog dengan tokoh nasional yang berbobot sekelas
Bung Hatta.
Jangankan sampai ngobrol berlama-lama, sekedar bertemu dan bersalaman saja, bisa dibayangkan betapa bangganya bertemu tokoh sekelas Bung Hatta.
Jangankan sampai ngobrol berlama-lama, sekedar bertemu dan bersalaman saja, bisa dibayangkan betapa bangganya bertemu tokoh sekelas Bung Hatta.
Meskipun
beliau telah lama meninggalkan kita, namun ajaran-ajaran Bung Hatta akan terus hidup menghiasi
perjalanan bangsa ini, sampai kapanpun.
Solichin
Salam menuturkan bahwa sejak tahun 1963-1979 ia sering berdialog dengan Bung
Hatta. “Dialog ini berlangsung sejak tahun 1963 s/d 1979, bertempat dikediaman
beliau jalan Dipenogoro 57, Jakarta,” terangnya seperti dilansir Kompas, 1980.
Pembicaraan
yang terjadi antara keduanya banyak membahas tentang politik dan sejarah. Tentu
Solichin datang kepada orang yang tepat, kita tahu bahwa Bung Hatta adalah seorang
negarawan yang terlibat langsung dalam pembentukan sejarah bangsanya.
Sebelum
berdialog masalah pembentukan negara Islam, pada tahun 1963 Bung Hatta
menyinggung soal jasa terbesar Presiden Sukarno pada bangsa ini.
Menurut beliau “Kalau saudara ingin tahu, jasa Bung Karno yang paling besar terhadap Republik Indonesia ini, ialah Pancasila,” jelasnya pada Solichin.
Menurut beliau “Kalau saudara ingin tahu, jasa Bung Karno yang paling besar terhadap Republik Indonesia ini, ialah Pancasila,” jelasnya pada Solichin.
Ketika
Solichin menegaskan kembali pada Bung Hatta dengan pertanyaan “siapa sebetulnya
yang menemukan Pancasila pada waktu itu, Bung Karno atau Mr. Muhammad Yamin”?
Atas pertanyaan itu Bung Hatta menjawab “Setahu saya, Pancasila itu dari Bung Karno, bukan dari Yamin. Kalau itu berasal dari Yamin, tentunya saya tahu bahwa Bung Karno itu mengulang dari ucapan Yamin.”
Atas pertanyaan itu Bung Hatta menjawab “Setahu saya, Pancasila itu dari Bung Karno, bukan dari Yamin. Kalau itu berasal dari Yamin, tentunya saya tahu bahwa Bung Karno itu mengulang dari ucapan Yamin.”
Tanggapan Bung Hatta Tentang Pembentukan Negara Islam
Menanggapi
masalah negara Islam, Bung Hatta bercerita pada Solichin bahwa dirinya pernah
memangil Prawoto Mangkusasmito selaku tokoh Masyumi dan Wakil Ketua
Konstituante.
“Saya katakan kepada Prawoto, buat apa memperjuangkan negara Islam. bukankah dari hasil pemilihan umum sudah diketahui, bahwa tidak mungkin cita-cita negara Islam diperjuangkan dalam Konstituante.” cerita Bung Hatta pada Solichin.
“Saya katakan kepada Prawoto, buat apa memperjuangkan negara Islam. bukankah dari hasil pemilihan umum sudah diketahui, bahwa tidak mungkin cita-cita negara Islam diperjuangkan dalam Konstituante.” cerita Bung Hatta pada Solichin.
Mendengar
pernyataan Bung Hatta mengenai hal itu, pada kesempatan lain Solichin
mencoba melakukan cross check pada
Prawoto Mangkusasmito.
Maka Prawoto Mangkusasmito secara jujur mengakui dan membenarkan pernyataan Bung Hatta tersebut.
Maka Prawoto Mangkusasmito secara jujur mengakui dan membenarkan pernyataan Bung Hatta tersebut.
“Memang
benar pada waktu itu saya dipanggil Bung Hatta, dan beliau mengatakan demikian
kepada saya. Dan saya jawab kepada Bung Hatta seperti diceritakan kepada
saudara. Pada waktu itu memang saya tidak berfikir sejauh itu.” Jawab Prawoto
Mangkusasmito pada Solichin di kediamannya Jl. Kertosono 4, Jakarta, Kompas 1980.
Cukup
beralasan memang jika Bung Hatta kurang setuju terhadap pembentukan negara
Islam. Beliau kita tahu merupakan seorang demokrat yang tentunya mengedepankan
asas-asas demokrasi. Bung Hatta tunduk pada hasil keputusan bersama yang memilih
bangsa ini berlandaskan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagaimana
dalam mencita-citakan bentuk negara Indonesia sebelum merdeka. Bung Hatta
sebetulnya menginginkan bahwa Indonesia ini berbentuk negara federal.
“Saya lebih cenderung kepada bentuk negara federal, karena melihat contoh negara-negara besar, seperti Amerika Serikat atau Soviet Rusia, semuanya adalah berbentuk federal,” tuturnya
Meskipun demikian, Bung Hatta tidak memaksakan keinginannya tentang bentuk negara yang federasi. Ia memilih tunduk pada keputusan tentang Negara Kesatuan untuk Republik Indonesia ini.
“Saya lebih cenderung kepada bentuk negara federal, karena melihat contoh negara-negara besar, seperti Amerika Serikat atau Soviet Rusia, semuanya adalah berbentuk federal,” tuturnya
Meskipun demikian, Bung Hatta tidak memaksakan keinginannya tentang bentuk negara yang federasi. Ia memilih tunduk pada keputusan tentang Negara Kesatuan untuk Republik Indonesia ini.
Dan tentang negara Islam, beliau menginsyafi bahwa negeri ini bukan hanya milik sebagian mayoritas muslim, tetapi ada sebagian lagi yang berhak diakui keberadaannya diluar keyakinan muslim itu sendiri.
