Pemimpin Gerakan DI/TII Di Jawa Barat


KARTOSUWIRYO DAN GERAKAN DI/TII DI JAWA BARAT


Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, berbagai macam persoalan terus menimpa Republik Indonesia. Soal ekonomi, sosial, hubungan luar negeri maupun masalah pertahanan keamanan. Khusus dibidang pertahanan keamanan, muncul berbagai pemberontakan yang menentang Pemerintah Republik Indonesia

Satu dari sekian banyak pemberontakan tersebut adalah pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di Jawa Barat. Kala itu komandannya Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, dengan pasukannya yang bernama Tentara Islam Indonesia.


Biografi S.M. Kartosuwiryo


Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo yang akrab dipanggil Kartosuwiryo, lahir pada tanggal 7 Februari 1905 di Cepu, Jawa Tengah. Kartosuwiryo mulai mendapat pendidikan formal pada tahun 1911. Waktu itu Kartosuwiryo masuk ke sekolah “Ongko Loro" atau Sekolah Rakyat. Sekolah yang diperuntukkan khusus bagi pribumi di desa tempat tinggal orang tuanya di Pamotan, Rembang.

Setelah menempuh sekolah selama empat tahun. Kartosuwiryo melanjutkan pendidikan ke Sekolah Kelas Satu. Awalnya Kartosuwiryo masuk ke Sekolah HIS (Hollansch-Inlandsche School) atau Sekolah Bumiputera berbahasa Belanda di Rembang. 

Selanjutnya tahun 1919, kedua orang tuanya pindah ke Bojonegoro, Kartosuwiryo pun sekolah di ELS (Europese Lagere School) atau Sekolah Dasar Eropa di Bojonegoro. HIS dan ELS merupakan sekolah yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak priyayi atau bangsawan.

Bagi para pribumi sekolah-sekolah ini merupakan sekolah elit. Anak-anak pribumi tidak dapat semuanya bisa sekolah di tempat ini karena banyak persyaratan yang amat ketat. Beruntung nasib Kartosuwiryo, ia diperbolehkan menempuh pendidikan di sekolah-sekolah elit tersebut.

Pada tahun 1923 Kartosuwiryo melanjutkan sekolahnya di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) atau Sekolah Dokter Hindia Belanda di Surabaya. Selama di Surabaya Kartosuwiryo mulai aktif dalam politik. 

Keaktifannya dimulai sejak ia memasuki organisasi Jong Java di Surabaya. Dalam organisasi ini ia dipercaya menjadi ketua Jong Java cabang Surabaya pada tahun 1924. Namun kemudian timbul perselisihan dalam tubuh organisasi Jong Java yang dipelopori oleh anggota-anggota yang lebih mengutamakan cita-cita ke-Islaman.

Selanjutnya mereka mendirikan organisasi baru dengan nama Jong Islamieten Bond pada tahun 1925. Kartosuwiryo akhirnya turut pindah ke organisasi baru itu dan tak berselang lama kembali menjabat sebagai ketua cabang di Surabaya.

Pada tahun 1947 Kartosuwiryo memutuskan untuk kembali ke Malangbong. Waktu itu ia menjabat sebagai sekretaris pertama Masyumi dan sekaligus sebagai Komisaris Masyumi daerah Jawa Barat. Kartosuwiryo kemudian memindahkan kegiatan partainya itu ke Malangbong. Di sini ia mulai mengkoordinasikan pasukan yang telah dibentuk oleh Partai Masyumi, yakni Hizbullah dan Sabilillah untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Latar Belakang Berdirinya DI/TII Jawa Barat


Menguatnya peta politik di Jawa Barat ternyata berbeda haluan dengan situasi politik pemerintah pusat. Pada waktu itu pusat didominasi oleh golongan politik tertentu. Dominasi pusat dalam bidang politik, militer dan ekonomi, itu tidak disukai oleh golongan partai politik yang ada di Jawa Barat, terutama Kartosuwiryo. Hal itu disebabkan karena pemerintah pusat sudah tidak lagi berfungsi, pemerintah pusat lebih berusaha untuk kepentingan golongannya. Keadaan yang semacam itu menimbulkan rasa tidak puas bagi Kartosuwiryo.

Selain itu Kartosuwiryo juga merasa kecewa dan tidak puas atas hasil perjanjian Renville, yang mengharuskan pasukan TNI dan laskar laskar bersenjata lainnya di Jawa Barat hijrah ke daerah Jawa Tengah. Ia menolak dan menetap bertahan di Jawa Barat untuk meneruskan perjuangan melawan Belanda dengan cara gerilya.

Melihat situasi dan kondisi seperti itu, dengan sigap Kartosuwiryo memanfaatkan keadaan. Pada tanggal 10-11 Februari 1948 di Desa Pangwedusan, Cisayong, Tasikmalaya, ia beserta kawan seperjuangannya Raden Oni dan Kamran mengadakan suatu konferensi yang berhasil membentuk TII.

Organisasi militer TII yang dibentuk oleh Kartosuwiryo tersusun dalam bentuk satuan tingkat divisi, resimen, batalyon sampai pada satuan tingkat regu. Namun dalam setiap taktik dan gerakannya, TII tidak pernah bergerak dalam satuan yang besar. Kegiatan mereka paling besar hanya sampai pada satuan tingkat batalyon. Hal ini sejalan dengan siasat gerilya yang telah digariskan oleh mereka.

Inti dari kekuatan TII terdiri dari pasukan Hizbullah dan Sabilillah yang tidak mau masuk menjadi anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia). Selain itu untuk menambah kekuatan tempur TII, pihak DI/TII merekrut pemuda-pemuda desa untuk dijadikan sebagai anggota TII. Sementara modal persenjataan TII diperoleh dari hasil rampasan perang, terutama pada waktu TII melakukan pertempuran-pertempuran melawan Tentara Belanda maupun melawan TNI.

Nasib DI/TII DI Jawa Barat di Tangan S.M. Kartosuwiryo

Pada tahun 1959 keadaan TII semakin terdesak akibat adanya operasi penumpasan yang terus dilancarkan oleh TNI. Hal ini mendorong Kartosuwiryo untuk membentuk suatu komando perang. Pembentukan komando perang tersebut ditujukan kepada TII dengan tujuan untuk memperhebat jalannya perang di seluruh Indonesia. TNI telah melancarkan operasi penumpasan terhadap pemberontakan DI/TII di Jawa Barat. Upaya tersebut mulai dilakukan tanggal 17 Agustus 1950. Namun upaya tersebut belum mendapat hasil yang memuaskan.

Operasi-operasi penumpasan terhadap pemberontakan DI/TII di Jawa Barat terus diintensifkan. Dari itu tercetuslah doktrin perang wilayah. Seluruh rakyat dilibatkan sepenuhnya dalam operasi penumpasan. Sistemnya dikenal dengan operasi Pagar Betis dan dilanjutkan dengan operasi Brata Yudha. 

TII berusaha untuk mengimbangi perlawanan yang dilancarkan pihak TNI, akan tetapi mereka mengalami kegagalan karena rakyat tidak mau membantu. Akibatnya TII melakukan tindakan-tindakan yang membabibuta dan melakukan teror secara massal terhadap rakyat di Jawa Barat. 

Rahasia TII dalam melakukan perang gerilya bertahan cukup lama hingga tahun 1962. Hal itu tentu didukung oleh adanya suatu sistem militer yang baik dalam tubuh TII. Sistem militer merupakan bagian suatu negara dalam usaha mengatur sekumpulan orang-orang yang mempunyai ciri berbeda. 

NII sebagai sebuah negara tentunya telah menciptakan sebuah sistem untuk merekrut, melatih dan mempergunakan militernya itu. Dengan adanya sebuah sistem militer yang terorganisir, serta kegigihan dan keuletan yang dimiliki, akhirnya TII mampu menghadapi setiap usaha penumpasan yang dilakukan pihak TNI.

W. Henri dalam (eprints.uny.ac.id, 2014:3) menyatakan bahwa NII (Negara Islam Indonesia) dibentuk oleh Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1949 di Malangbong, Jawa Barat.
Bermodalkan gagasan Kartosuwiryo berusaha mengubah Konsep Negara Republik Indonesia menjadi sebuah Negara Islam. Hal ini jelas menimbulkan berbagai reaksi, terutama dikalangan pemerintah pusat.


Ideologi DI/TII Jawa Barat di Bawah Kartosuwiryo

Kartosuwiryo memiliki pandangan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, memberikan aturan terhadap segala aspek, pendidikan, pengajaran baik lahir maupun batin. Dari hal yang paling kecil hingga hal yang paling besar, dari mengurus masalah rumah tangga hingga mengendalikan pemerintahan. 

Pemahaman itulah yang mendorong Kartosuwiryo menjadikan Islam sebagai ideologi politik. Menurutnya setiap perjuangan politik harus berpegangan pada akidah politik, yaitu ideologi dan realistis. Kartosuwiryo juga menjelaskan bahwa suatu Negara Islam haruslah negara yang memiliki kemerdekaan dan kedaulatan penuh baik di dalam maupun di luar, secara de facto maupun de jure sehingga kekuasaan negara tersebut adalah kekuasaan Islam yang penuh, tidak tergantung dan terpengaruh oleh pihak manapun juga. 

Kartosuwiryo berpendapat bahwa pemahaman terhadap dasar negara haruslah tertanam dan hidup di dalam dada dan hati rakyat yang sebagian besar memeluk agama Islam. Sementara Pancasila menurutnya tidak demikian. Sejak berdir, republik ini telah berpegang kepada pihak luar, pihak internasional. 

Tegasnya Pancasila tidak berakar ke dalam melainkan keluar, tidak berdiri di atas kekuatan dan tenaga rakyat sendiri, tidak sesuai dengan kehendak rakyat, melainkan kedaulatan dan kemerdekaannya diperoleh dan dipertahankan dengan pegangan kepada pihak internasional dan berdasar atas kasih sayang dan kemurahan pihak lain.

Selain itu Kartosuwiryo memandang bahwa dalam kenyataannya negara Pancasila tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah dengan baik, bahkan tak jarang membuangnya jauh-jauh. Oleh karena itu Kartosuwiryo menegaskan bahwa tidak mungkin hukum-hukum Allah akan berjalan baik dalam negara yang bukan Islam, baik itu negara Komunis, Sosialis maupun negara Pancasila.

Hukum-hukum Allah hanya akan berjalan baik dalam sebuah Negara Islam, dengan demikian Kartosuwiryo menolak Pancasila. Menyikapi pemikiran Kartosuwiryo, dapat diartikan bahwa Islam merupakan agama yang sempurna, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, dari hal yang paling kecil hingga hal yang paling besar, lahir maupun batin. 

Islam tidak hanya mengatur unuk kehidupan akhirat tetapi Ideologi Islam juga mengatur wilayah pemerintahan atau negara. Sehingga hubungan Islam dan negara tidak bisa dilepaskan satu sama lain, karena dalam Islam tidak mengenal pemisahan antara agama dan negara.

Kartosuwiryo bisa saja memiliki tujuan yang mulia dalam misinya menegakan agama Islam dengan cara merubah NKRI menjadi Negara Islam Indonesia. Tapi di satu sisi, kita harus menyadari bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini merupakan negara yang multikultural. Setiap suku, agama, budaya dan etnis tertentu harus mendapatkan hak yang sama sebagai warga negara. Meski Pancasila yang menurut Kartosuwiryo di isi oleh paham yang berasal dari Barat, tidaklah harus terlalu dikhawatirkan karena pada hakikatnya ilmu yang bersumber dari mana pun jika dimanfaatkan secara bijak akan membawa kepada kemaslahatan umat.

Artikel ini bisa didownload di sini

Sumber:
Daliman. 2012. Metode penelitian sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Reno Aprilia Dwijayanto. 2014. Sistem Militer Dalam Tentara Islam Indonesia (Tii) Di Jawa Barat Pada Masa Kartosuwiryo (1948-1962). S1 thesis, UNY. (http://eprints.uny.ac.id/21369/5/5.%20BAB%20III.pdf. Diakses 13 Juni 2017).

W Henri. ‎2014. Pemberontakan Laskar-Laskar Islam http://eprints.uny.ac.id/21369/5/5.%20BAB%20III.pdf. (Diakses 13 Juni 2017).

Kolom Komentar

Previous Post Next Post