Marah Pada Belanda, Bung Karno Larang Perayaan Sinterklas

Pasca kemerdekaan tahun 1945, kondisi politik di Tanah Air memang belum stabil. Selain rongrongan dari Tentara Sekutu/NICA yang ingin menancapkan kembali kekuasaannya, beberapa gejolak di dalam negeri juga turut membuat limbung perjalanan Republik ini. 

                


Tahun 1957 dapat diartikan sebagai awal dari dekade kedua perjalanan bangsa Indonesia dalam menata kehidupannya. Meski dalam keadaan sulit, hampir semua sektor (Politik, Pendidikan, Ekonomi, Budaya, dll) sedikit mengalami pembenahan. 



Namun lagi-lagi rencana itu menuai hambatan. Gesekan Indonesia - Belanda kembali mencuat. Belanda ingin mengklaim bahwa Iran Barat bagian dari negaranya. Hal ini tentu menyulut emosi Sukarno, sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia. 



Sukarno sempat menggalang dukungan di forum Perserikatan Bangsa Bangsa. Memperjuangkan bahwa Irian Barat merupakan bagian dari NKRI.  



NAMUN INDONESIA GAGAL mendapatkan dukungan di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 29 November 1957 dan membuat  geram Presiden Sukarno. Saking geramnya, Sukarno melarang pesta Sinterklas karena dianggap berasal dari budaya Belanda. Dampak pelarangan itu, di tanah air munculah istilah Sinterklas Hitam.



Akibat itu juga, Sukarno menasionalisasi kan perusahaan-perusahaan Belanda tahun 1957, yang turut diikuti pengusiran semua orang Belanda dari Indonesia. Mereka, Orang-orang Belanda maupun keturunan Indo-Belanda tidak diperbolehkan merayakan pesta Sinterklas.

Piet Hitam dan Diskriminasi Penokohan

Tokoh Sinterklas digambarkan sebagai sosok penyayang anak-anak. Ia muncul berdekatan dengan hari raya Natal dan tahun baru. Kedatangannya selalu dinanti karena kerap memberi hadiah berupa coklat maupun permen. Konon, Sinterklas senang terhadap anak-anak yang bertingkahlaku manis, sedangkan pada anak-anak nakal ia kerap menakut-nakuti akan memasukkannya ke dalam karung.
Menurut sejarawan Hendri F. Isnaeni, perayaan Sinterklas memang ditunggu-tunggu dan dirayakan secara meriah di Indonesia. Ada sebuah kisah ketika itu Sinterklas tiba di pelabuhan Sunda Kelapa, kemudian dijemput walikota Batavia, Sinterklas berkeliling kota dalam arak-arakan yang meriah. 


Penyembuhan secara khusus juga terlihat dari dekorasi Gedung Societeit Harmoni sudah dihias menyambut kedatangannya. Di sana anak-anak Belanda sudah menunggu Sinterklas. 



Hampir setiap kantor dan perusahaan mengadakan perayaan Sinterklas untuk anak-anak pegawai mereka. Biasanya pegawai Belanda memerankan Sinterklas dan pegawai Indonesia menjadi Piet Hitam. Perayaan ini juga dilakukan di sejumlah daerah, kata Hendri.



Piet Hitam sendiri diibaratkan sebagai tokoh pelayan Sinterklas. Dan baru-baru ini, beberapa media juga memberitakan golongan yang menganggap bahwa penokohan Piet Hitam sarat dengan rasisme dan sejarah perbudakan yang pernah dilakukan Belanda di beberapa negara koloninya. 
Kembali pada kisah Sinterklas, Firman salah seorang yang menyaksikan sendiri perayaan Sinterklas ketika ia duduk di sekolah dasar berkisah bahwa “perayaan ini tetap dilakukan pada 1950-an, termasuk oleh orang-orang Indonesia yang kaya. Mereka saling bertukar hadiah, Seperti di Sekolah Dasar Tjikini tempat saya bersekolah di awal tahun 1950-an,” kenangnya dalam Historia.id



Akibat situasi politik yang memanas antara Indonesia dengan Belanda itu, pada Historia.id Frieda menuturkan bahwa ketika itu di seluruh dunia, hanya di Indonesia yang  tidak ada perayaan Sinterklas. “Pada hari itu, di seluruh dunia, hanya bumi pertiwi yang tidak boleh diinjak oleh si janggut putih itu,” ujar Frieda.
Kurang jelas bagaimana reaksi kaum Kristiani terhadap larangan itu. Dan apa yang akan terjadi jika hal yang dilakukan Bung Karno kembali dilakukan oleh pemerintah saat ini. Yang jelas, sikap Bung Karno ketika itu menggambarkan keingininannya menjaga marwah bangsa ini. Ia tidak rela dianggap lemah oleh bangsa lain.
Namun, kata Frieda, perayaan Sinterklas tidak dianggap sebagai perayaan keagamaan. Kesakralannya berbeda dan tidak bisa disamakan dengan perayaan Natal. Ia pun berucap “Seandainya Sukarno melarang pesta Natal, nah barulah orang Kristen patut marah,” kata Frida.

Semenjak kejadian itu, perayaan Sinterklas hilang. Baru “Setelah tahun 1970-an, sosok Sinterklas digantikan dengan Santa Claus model Amerika saat perayaan Natal dengan brewoknya yang putih lebat dan mengenakan jubah Natal merah-putih serta menggoyang-goyangkan lonceng,” kata Firman.
Tetapi di Manado, yang masuk kedalam Indonesia bagian Timur perayaan Sinterklas beserta temannya si Piet Hitam hingga kini masih dirayakan dengan gaya Belanda.

Previous Post Next Post