Jejak Kolonisasi Di Museum Nasional Ketransmigrasian Pesawaran Lampung

Museum Nasional Ketransmigrasian Lampung

Pesawaran-Berandadesa.com - Pertama kali berkunjung ke Museum Nasional Ketransmigrasian di Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, ketika masih menjadi mahasiswa di jurusan pendidikan sejarah UM Metro. Dan kini setelah beberapa bulan yang lalu saya lulus, kecendrungan untuk mengunjungi tempat-tempat yang berbau sejarah kian menggebu.

Entah mengapa, mungkin inilah yang disebut pria punya selera..he..he... 
Baiklah, sebelum bercerita Ngalor/Ngidul, ijinkan saya ingin terlebih dahulu membahas lokasi dari Museum Nasional Transmigrasi itu sendiri. 

Museum Nasional Ketransmigrasian letaknya berada di Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran-Lampung. Sekitar 30 menit dari Kota Bandar Lampung menggunakan jalur darat.

Pemilihan Desa Bagelen sebagai lokasi dibangunnya Museum Transmigrasi tentunya sarat dengan peristiwa sejarah yang terjadi lebih dari se-abad silam. 

Peristiwa yang dimaksud ialah gelombang perpindahan penduduk dari Jawa ke Gedong Tataan (Lampung), melalui program kolonisasi yang dicanangkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda tahun 1905. Kian Amboro dalam Rilis.id menyebut "Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran merupakan lokasi pertama kolonisasi tahun 1905."

Bagelen adalah salah satu daerah asal masyarakat Jawa di Karesidenan Kedu, Jawa Tengah yang turut dalam program kolonisasi ini. Pemberian nama Desa Bagelen di Gedong Tataan konon supaya masyarakat Jawa merasa betah di daerah kolonisasi ini.

Selain Gedong Tataan, persebaran daerah transmigrasi di Lampung berkembang ke Sukadana dengan pusat kerasedinannya di Kota Metro. Pun sama halnya, desa-desa tempat warga transmigran tinggal diberinama yang identik dengan unsur Jawa (Yosomulyo, Yosodadi, Margototo dll).

Bagi kalangan sejarawan, kabar adanya kolonisasi di Lampung rasanya bukan hal baru. Namun penting kiranya peristiwa sejarah ini kita pahami bersama. Karena mau tidak mau ini menjadi bagian dari keberadaan kita saat ini, terutama masyarakat Jawa di Lampung.

Kondisi Museum Nasional Transmigrasi

Beranjak dari lokasi Museum Nasional Ketransmigrasian, pada paragraf selanjutnya akan kita bahas mengenai keadaan dan kondisi museum nasional ketransmigrasian.

Museum Transmigrasi yang tahun ini berumur 15 tahun bisa dibilang kondisinya cukup baik. Gedungnya megah bertingkat dua, halamannya luas, kebersihan di setiap sudut ruangannya cukup terjaga dan berbagai koleksinya pun tertata rapi. Pepohonan di sekeliling gedung dan nyiur angin memberi kesejukan.

Tampak di muka gedung terdapat ukiran Siger dan Gambar Gajah, itu merupakan ciri khas daerah Lampung. Siger Lekuk Sembilan yang terlukis merupakan gambaran mahkota yang biasa digunakan pengantin perempuan Lampung Pepadun. Dan Gajah salah satu jenis hewan yang identik dengan daerah Lampung (Gajah Lampung). Lokasi konservasinya terdapat di Taman Nasional Way Kambas di Kabupaten Lampung Timur.

Meski dengan segala kemewahannya, ada sedikit rasanya yang menggelitik, gedung megah ini nampaknya masih jauh dari terlihat ramai. Berbanding terbalik dengan mall atau cafe-cafe yang sekarang menjadi bagian gaya hidup kalangan muda.

Padahal benda-benda peninggalan yang ada di museum nasional ketransmigrasian boleh jadi bagian dari saksi keberadaan moyang kita masa silam. Selain itu artefak di meseum ini kiranya bisa dijadikan bahan refleksi betapa berat/sulit kehidupan yang dirasakan para pendahulu kita. Dengan segala kesederhanaan dan penderitaan di bawah tekanan pemerintah kolonial, Lampung yang kita tempati saat ini merupakan bagian dari jerih payahnya.

Akan berdosa rasanya bila kita sebagai yang diwarisinya tidak merawat dan menjaga sepeninggal mereka.

Koleksi Museum Nasional Transmigrasi

Koleksi yang terdapat di Museum Nasional Transmigrasi tentu erat sekali hubungannya dengan proses kegiatan para transmigran kala itu. Bisa dibilang, mayoritas koleksi di museum nasional ketransmigrasian merupakan peralatan pertanian, peralatan rumah tangga, alat pertukangan, perlengkapan seni (gamelan), dan alat penangkap ikan.

Selain itu juga terdapat foto-foto dokumentasi, dan di bagian luar terdapat 11 Anjungan atau replika rumah adat dari Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, DI Yogyakarta, DKI Jakarta dan Suriname.
1. Replika Hewan Sapi/Alat Membajak Lahan Persawahan
Pengunjung akan mendapati replika hewan bertanduk ini saat pertama kali memasuki pintu utama museum. Sebelum adanya traktor/mesin bajak, Sapi dan Kerbau merupakan hewan yang kerap dijadikan alat untuk membajak lahan persawahan.
2. Lesung, digunakan untuk menumbuk Padi dan Beras
Saat ini bisa dipastikan akan sangat sulit menemukan alat penumbuk Padi/Beras seperti yang tergambar. Kita patut takjub melihatnya, demi menunjang kebutuhan hidup, dengan segala keterbatasan mereka mampu mencipta alat yang terbilang canggih di zamannya.
3. Ani-Ani, digunakan sebagai alat memanen Padi
Ani-ani dalam bahasa ibu saya (Sunda) namanya E'tem, alat ini digunakan untuk memanen Padi, terutama Padi Huma.
4. Peralatan Dapur, sebagai penanak nasi dan tempat menyimpan air minum

5. Sepeda Ontel, alat transportasi

6. Perlengkapan Rumah Tangga (Nampan, Gelas, Teko, Lampu Penerang) bahan dari Tembaga

7. Setrikaan dan Lampu Templek berbahan bakar Minyak Tanah

8. Alat Pertukangan (Gergaji)

9. Dokumentasi Pejabat/Menteri Sosial, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tahun 1953-2009

10. Dokumentasi Kedatangan Para Transmigran dari Jawa menggunakan Kapal Api, bersandar di Pelabuhan Panjang

11. Dokumentasi Kondisi Rumah dan Perkampungan Para Transmigran di daerah kolonisasi

12. Mata Uang yang Digunakan sebagai alat jual beli

13. Mata Uang Koin Tahun 1874,1914,1918, senilai 1 Cent

14. Mata Uang Zaman Jepang

Tiket Masuk Ke Museum Nasional Transmigrasi

Museum Transmigrasi buka pada hari Senin-Kamis dari pukul 08.00-14.00, dan hari Jum'at buka pukul 08.30-14.30. Bila pengunjung yang berniat datang pada hari Sabtu dan Minggu disarankan membuat jadwal terlebih dahulu dengan pihak pengelola.

Tiket masuk yang dibebankan kepada pengunjung Museum Transmigrasi cukup berpariatif:
  1. Pelajar : 1000 rupiah
  2. Umum :  2000 rupiah
  3. Paket   : 3500 rupiah (Tiket masuk+bimbingan edukasi sejarah)
  4. Paket   : 5000 rupiah (Tiket masuk+nonton film dokumenter)
  5. Paket   : 7500 rupiah (Tiket masuk+nonton film dokumenter+bimbingan edukasi sejarah)
Semoga di tengah geliatnya Lampung memodernisasi sektor-sektor teknologi informasi/komunikasi, transportasi, dan lain-lain, tidak sampai menggerus budaya dan sejarah bangsanya. Bagaimanapun juga, budaya dan sejarah yang terdapat di Bumi Ruwa Jurai ini merupakan sebuah jati diri dari daerah Lampung itu sendiri. 

Terutama mengenai Sejarah Transmigrasi, tercatat Lampung merupakan daerah pertama sebagai lokasi transmigrasi dan Museum Nasional Transmigrasi Lampung adalah pertama dan satu-satunya museum transmigrasi yang ada di dunia.

(Berandadesa.com - Sejarah)
Penulis: Barnas

Kolom Komentar

Previous Post Next Post