Situs Gunung Padang dan Cerita Masyarakat Lokal Cianjur Jawa Barat

Beranda Traveler - Situs Megalitikum Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat merupakan situs purbakala yang disebut-sebut sebagai lokasi lahirnya peradaban manusia pertama di dunia.

Namun demikian, bercerita tentang sejarah terkadang memiliki kesulitan dan keunikan tersendiri. Kesulitannya karena si penulis dituntut berbicara tentang data dan fakta. Sialnya, data yang diperlukan si penulis atau peneliti terkadang tidak dengan mudah dapat ditemukan, lebih-lebih dibuktikan dan mendapat kesepakatan secara universal.

Foto: Wisatawan di sekitar areal parkir Situs Gunung Padang

Peneliti sejarah harus berjibaku di dalam ruang dan waktu untuk bisa mengungkap peristiwa sejarah yang pernah terjadi di masa lampau. Memusatkan perhatiannya kepada dokumen usang dan bongkahan benda-benda berusia ratusan bahkan ribuan tahun silam.

Situs Megalitikum Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat misalnya, selain fakta sejarahnya yang masih jadi kontroversi, karena gugusannya menyerupai Piramida, juga dari segi usia, situs tersebut dianggap telah berusia lebih lama dari Piramida Giza di Mesir.

Jika temuan ini benar, maka para peneliti berkesimpulan bahwa sejarah peradaban manusia tertua yang pernah ada berasal dari Indonesia. Tepatnya di areal Situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.

Untuk mengungkap itu semua tentu memerlukan waktu dan keseriusan tersendiri dari para peneliti. Meski ada salah seorang peneliti telah membantah bahwa Situs Gunung Padang bukan merupakan piramida dan usianya tidak lebib tua dari Piramida Giza di Mesir.

Terlepas dari itu, Beranda Desa pada Senin (23/12/2019) berkesempatan menginjakan kaki di Situs Megalitikum Gunung Padang dengan misi ingin menyaksikan secara langsung kemegahan mahakarya yang pernah dibuat oleh para pendahulu kita.

Setelah tiba di areal parkir dan mengisi daftar kunjungan di loket yang disediakan pihak pengelola, kita akan langsung dihadapkan dengan ratusan anak tangga menjulang ke atas puncak gunung, satu track yang harus kita lewati menuju Situs Megalitikum Gunung Padang.

Gambaran umum Situs Megalitikum Gunung Padang


Foto: Teras Lima Situs Gunung Padang, lokasi keberadaan Singgasana Raja

Setelah berhasil mendaki curamnya tangga menuju Situs Megalitikum Gunung Padang kita akan disuguhi oleh pemandangan menakjubkan.

Bongkahan bebatuan yang sekilas terlihat berserakan itu ternyata dipercaya oleh masyarakat setempat memiliki fungsi dan kegunaannya masing-masing.

Seorang pemandu yang kami jumpai di lokasi Situs menyebut Situs Megalitikum Gunung Padang Terdiri dari Lima Teras.

Teras Lima Situs Gunung Padang

Teras paling atas atau teras ke lima adalah lokasi dimana terdapat bongkahan batu yang tersusun dan dipercaya sebagai singgasana raja.

Lokasinya seperti bongkahan batu yang disusun menjadi sebuah areal berbentuk persegi empat dengan dilengkapi batu tegak berdiri, seolah-olah sebagai pagar pembatas atau pengaman.

Di lokasi ini kita diperbolehkan masuk ke areal Singgasana Raja dengan catatan melepas alas kaki, namun saya sendiri memilih untuk berada di luar pagar pembatas.

Alasan melapas alas kaki karena hingga saat ini terdapat areal di Situs Megalitikum Gunung Padang masih digunakan sebagai tempat ritual oleh beberapa kalangan penganut kepercayaan.

Jejak ritual yang masih sangat bisa kita temui di areal Situs Gunung Padang adalah adanya beberapa batang Dufa yang dibakar kemudian ditancapkan dekat dengan bongkahan batu yang dipercayai memiliki kesucian untuk dijadikan tempat ritual.

Bila kita ingat kembali, kebiasaan seperti ini pernah ada sejak masa prasejarah, di mana tradisi masyarakatnya masih menganut kepercayaan animisme. Mempercayai bahwa setiap benda di Bumi (tempat keramat, Batu, Pohon) harus dijaga dan dihormati.

Teras Empat Situs Gunung Padang

Sangat mudah membedakan batas antara ke lima teras di Situs Megalitikum Gunung Padang.

Foto: Seorang wisatawan sedang menunjuk Batu Gendong di Teras Empat Situs Gunung Padang

Pembatas antara satu teras dengan teras lain adalah berupa undakan kontur tanah. Selain itu, terdapat batu tegak berdiri menyerupai pintu gerbang atau pintu masuk yang menghantarkan pengunjung dari satu teras ke teras lainnya.

Pada Teras Empat ini kita akan menemukan bongkahan batu yang disebut dengan "Batu Gendong", menurut mitosnya bila kita mampu mengangkat Batu tersebut maka dipercaya akan mendapat berkah.

Teras Tiga Situs Gunung Padang

Berbeda dengan Teras Empat yang terlihat paling sedikit memiliki bongkahan batu, pada Teras Tiga ini justru kita akan melihat begitu banyak bongkahan batu yang terhampar di permukaan tanah.

Dari sekian banyak bongkahan batu, ada batu yang oleh masyarakat setempat disebut "Batu Tapak Kujang" dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan (Batu Bekas Telapak Kaki Kijang), karena dipermukaan batunya terdapat goresan menyerupai Telapak Kaki Kijang. Tetapi hasil observasi BPCB Banten, goresan tersebut merupakan fenomena batu yang sama dengan Batu yang ditemukan di Teras Dua, berupa goresan kulit batu berbentuk Telapak Macan.

Teras Dua Situs Gunung Padang

Teras Dua Situs Megalitikum Gunung Padang bisa dikatakan menjadi tempat tervaforit untuk menyaksikan pemandangan yang menakjubkan dari keseluruhan situs maupun melihat indahnya pemandangan alam sekitar berupa potret pegunungan khas Jawa Barat.

Foto: Seorang wisatawan sedang berada di Teras Dua Situs Gunung Padang

Pada areal teras ini terdapat dua pohon besar yang dedaunannya rimbun, sehingga terasa sangat sejuk. Bahkan saking sejuknya, dua teman saya sejak tiba hingga pulang hanya berdiam diri di bawah pohon besar ini.

Teras Dua sama halnya dengan teras yang lain, di isi oleh hamparan bebatuan andesit. Posisi Batunya sebagian melintang dan ada juga yang tegak berdiri.

Selain itu, di Teras Dua Situs Megalitikum Gunung Padang juga terdapat bongkahan batu yang memiliki jejak seperti jejak kaki harimau. Masyarakat menyebutnya "Batu Macan".

Kemudian tepat di bawah pohon besar yang saya sebutkan juga terdapat areal bongkahan batu yang hingga saat ini masih digunakan sebagai tempat ritual dan meditasi beberapa orang penganut kepercayaan. Sehingga, kita dianjurkan melepas alas kaki jika ingin masuk ke areal tersebut.

Teras Satu Situs Gunung Padang

Teras Satu Situs Megalitikum Gunung Padang merupakan areal pertama yang akan kita dapati setelah melewati tangga curam seperti disebutkan di awal.

Areal ini nampak yang paling luas dari keempat teras situs lainnya, karena memang bila kita membayangkan sebuah Piramida maka akan tergambar sebuah konstruksi bangunan semakin ke atas/puncak maka akan semakin mengecil.

Pada Teras Tiga Situs Megalitikum Gunung Pada ini kita akan mendapati Batu yang disebut "Batu Gamelan", sesuai namanya, batu ini bila ditabuh bisa menghasilkan suara dan berirama. Konon digunakan sebagai pengiring prosesi ritual.


Potensi Wisata

Beberapa media menyebut Situs Megalitikum Gunung Padang resmi dijadikan destinasi wisata sejarah. 

Seperti dikutip Beranda Desa dari laman Beritasatu.com, pada 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menetapkan Situs Gunung Padang sebagai situs cagar budaya dan memiliki peringkat nasional. 

Sebagai aset budaya bangsa, diharapkan situs ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan, serta bagi kesejahteraan rakyat, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang 11/2010 tentang cagar budaya.

Foto: Warung souvenir warga Gunung Padang

Meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Situs Megalitikum Gunung Padang dirasa dapat meningkatkan pendapatan warga sekitar.

Sebagian dari mereka (warga setempat) telah membuka kios-kios sederhana yang menjajakan berbagai pernak-pernik khas Gunung Padang atau Jawa Barat, seperti Iket (penutup kepala khas Sunda), Kujang (Senjata Tradisional Jawa Barat) Pakaian Adat Sunda, makanan dan minuman tradisional dari olehan hasil bumi warga setempat.

Selain wisata sejarah, kami juga merasa daerah sekitar situs Megalitikum Gunung Padang cocok untuk dijadikan wisata alam. Sebab selama perjalanan memasuki situs, mata kita akan terpesona menyaksikan indahnya pemandangan gunung. 

Kemudian di sisi kanan dan kiri jalan yang kita lewati terdapat hamparan perkebunan Tea, sesekali kita juga akan melewati perkampungan warga lengkap dengan lahan persawahan yang diolah secara tradisional.


Kolom Komentar

Previous Post Next Post