![]() |
| Bung Karno dan Kisah Pertama Kalinya Menunggang Kuda. |
Hari terbentuknya Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) untuk pertama kalinya akan diperingati di Yogjakarta. Kala itu ulang tahun ABRI jatuh pada tanggal 5 Oktober 1946.
Pada momen ini Presiden pertama Repuklik Indonesia, Ir. Sukarno akan hadir sekaligus melakukan inspeksi pasukan dengan menunggangi seekor Kuda. Celakanya, semasa kecil hingga dinobatkan menjadi presiden, Bung Karno belum pernah sama sekali belajar menunggangi Kuda.
Sontak, hal ini membuat kekhwatiran orang-orang terdekatnya. Istrinya pun sempat kebingungan mendengar rencana suami tercintanya. Karena memang benar kala itu Bung Karno belum pernah naik kuda.
Langsung ia pun melontarkan pertanyaan pada Bung Karno, “Jadi bagaimana caranya?”
Bung Karno yang terkenal jenaka itu tentu tak kehilangan akal, ia menyampaikan rencananya.
“Pertama aku hendak menghadapi kenyataan bahwa aku orang yang pelagak. Karena itu aku hendak melakukan apa yang diperbuat oleh orang pelagak. Aku akan belajar naik kuda,” tutur Ibu Wardoyo menirukan Bung Karno dalam Pustaka Antar Kota, 1978.
Meskipun begitu Fatmawati keukeuh tidak yakin dengan rencana Bung Karno. Ia berfikir, apakah mungkin suaminya itu bisa mengendarai kuda dengan waktu belajar hanya satu hari.
Sontak, hal ini membuat kekhwatiran orang-orang terdekatnya. Istrinya pun sempat kebingungan mendengar rencana suami tercintanya. Karena memang benar kala itu Bung Karno belum pernah naik kuda.
Langsung ia pun melontarkan pertanyaan pada Bung Karno, “Jadi bagaimana caranya?”
Bung Karno yang terkenal jenaka itu tentu tak kehilangan akal, ia menyampaikan rencananya.
“Pertama aku hendak menghadapi kenyataan bahwa aku orang yang pelagak. Karena itu aku hendak melakukan apa yang diperbuat oleh orang pelagak. Aku akan belajar naik kuda,” tutur Ibu Wardoyo menirukan Bung Karno dalam Pustaka Antar Kota, 1978.
Meskipun begitu Fatmawati keukeuh tidak yakin dengan rencana Bung Karno. Ia berfikir, apakah mungkin suaminya itu bisa mengendarai kuda dengan waktu belajar hanya satu hari.
Berulang kali ia mempertanyakan kesiapan Bung Karno lewat berbagai pertanyaan.
“Kan pawainya besok,” kata Ibu Fatmawati. “Ya, aku akan belajar dalam satu hari,” jawab Bung Karno. Terjadi dialog imaginer diantara keduanya.
“Kan pawainya besok,” kata Ibu Fatmawati. “Ya, aku akan belajar dalam satu hari,” jawab Bung Karno. Terjadi dialog imaginer diantara keduanya.
Sadar atas kekurangannya, lantas Presidenpun berlatih menaiki kuda dengan ditemani protokolernya.
Setelah latihan, ia menyampaikan permintaan pada ajudan supaya Kuda untuknya di Hari Ulang Tahun ABRI itu yang paling lunak, usianya yang sudah tua, paling jinak dan sudah hampir mati.
Kurang jelas apa maksud Bung Karno memilih Kuda yang seperti itu. Mungkinkah supaya mudah dikendalikan?
Namun, seorang perwira kavaleri yang bersamanya ketika itu membantah.
Perwira itu menyampaikan pendapat bahwa pilihan Bung Karno tidak pantas. Menurutnya Kuda yang disediakan harus yang muda dan merupakan Kuda yang terbaik.
“Tidak, pak. Tidak pantas untuk Bapak. Kuda yang disediakan harus muda dan garang. Dia harus memperlihatkan semangat tempur yang menyala-nyala dan Kuda yang terbaik dari seluruh kelompok,” tegas sang perwira langsung di hadapan Bung Karno.
Celakanya, Kuda yang disediakan untuk Bung Karno rupaya belum pernah mengikuti upacara dengan ragam irama musik khas angkatan bersenjata.
Para protokoler terpaksa harus melatih terlebih dahulu agar kuda tersebut tidak kaget dan binal ketika mendengar musik dan terompet.
Tapi keesokan harinya, ketika tiba hari yang sangat penting itu, Bung Karno dan kuda yang sama-sama baru belajar. Bung Karno belajar naik kuda dan sang kuda untuk pertamakalinya pentas diupacara itu, terlihat akrab dan melaksanakan tugas dengan baik. Akhirnya peringatan Hari Angkatan Perang itu pun berjalan tertib, jauh diluar dugaan sang istri, ibu Fatmawati.
Kisah ini Beranda Desa himpun dari penuturan Ibu Wardoyo, sebagai satu-satunya saudara kandung Presiden Sukarno pada surat kabar Pustaka Antar Kota edisi 1978.
Hal menarik dari cerita di atas adalah sosok seorang Perwira yang berani membantah permintaan Bung Karno. Mungkin kita pernah mendengar kalau pribadi Sukarno selalu kukuh mempertahankan pendapatnya, membantah permintaannya barangkali akan membuat Bung Karno marah.
Namun itulah profesionalitas, seorang ajudan atau perwira tersebut tentunya sudah memperhitungkan hal terbaik untuk Bung Karno. Dan meski menjadi panglima tertinggi ABRI, rupanya Bung Karno, pada momen ini tetap menjalankan prosedur protokoler dan berbesar hati menerima pendapat ajudannya.
Penulis: Barnas Rasmana, seseorang yang tumbuh besar di desa.
