Coronavirus Desease 19, Makhluk Gentayangan Tak Kasat Mata

Advertisement

Coronavirus Desease 19, Makhluk Gentayangan Tak Kasat Mata

Beranda Desa
Thursday, 19 March 2020

Hantu COVID-19 atau Coronavirus Disease nampaknya bergentayangan tidak mengenal di mana tempat dan strata sosial masyarakat.


Tidak tanggung-tanggung, protokoler istana pun berhasil dibobol setelah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dinyatakan positif Corona beberapa hari terakhir.

Tentu ini membuat geger dan tidak menutup kemungkinan timbul spekulasi di tengah masyarakat awam, "Sekelas lingkar kepresidenan saja bisa terkena Virus Corona, apalagi kita masyarakat biasa"? Yang dari pola hidup dan pola makan saja jauh dari kata empat sehat lima sempurna, dibanding mereka.

Lebih-lebih keparnoan meningkat karena sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang dianggap tepat sebagai penawarnya.

Dilema semakin bertambah saat pemerintah gencar mengeluarkan kebijakan lock down, sekolah-sekolah, pusat perkantoran dan pelayanan publik tidak beroperasi seperti biasanya.

Lingkungan perguruan tinggi juga tak luput dari kegamangan menghadapi virus yang oleh WHO telah dinyatakan sebagai pandemi global.

Di Lampung hampir semua kampus menghentikan perkuliahan secara tatap muka, mahasiswa belajar di rumah, dosen dan staf dianjurkan bekerja dari rumah (Work From Home). Sialnya, sedikit justru lembaga pendidikan tinggi terkait yang terlebihdahulu memberikan penyuluhan atau sosialisasi pencegahan penularan Virus Corona, sebelum melayangkan surat edaran belajar dan bekerja di rumah.

Sederhananya, ketika semua warga kampus di rumahkan apakah menjamin mereka akan mengurung diri selama empat belas hari di rumah saja? Kalaupun iya, apakah dengan berdiam diri di rumah kekhawatiran warga kampus atau masyarakat terkait Virus Corona yang kapan saja bisa merasuki tubuhnya itu akan hilang seketika?

Ada hal penting yang terlewatkan nampaknya dari pemerintah dan lembaga pendidikan. Usaha memutus rantai penyebaran Virus Corona memang harus diambil dengan langkah cepat sebelum mewabah di seantero nusantara. Tapi dengan catatan seberapa banyak warganya sudah dibekali pengetahuan dan informasi yang utuh terkait pencegahan penularan COVID-19.

Karena dengan informasi yang utuh kekhawatiran mungkin akan sedikit mereda, warga masyarakat akan lebih paham cara melindungi dirinya dari terpapar virus tersebut.

Gambaran itu terlihat dari seorang dr. Ade Kurniawan, MH.Kes., Satgas COVID-19 Kota Metro dalam sebuah seminar kesehatan penanggulangan Virus Corona yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Metro, Selasa (17/3), kemarin.

Dengan segudang pengetahuan terkait penyakit yang diakibatkan oleh virus dengan penularannya yang begitu cepat itu, ia masih terlihat enjoy menyikapi wabah ini dibanding kita yang awam.

Bahkan menurutnya, saat ini, di Kota Metro masih banyak wabah penyakit yang tidak kalah mematikan dari Virus Corona.

"Tingkat kematian seseorang yang paling tinggi saat ini masih disebabkan oleh penyakit Jantung, Tuberkulosis dan Demam Berdarah (DBD). Pengidap Tuberkulosis harus diobati selama 6 bulan berturut-turut, yang terpapar Virus Corona hanya 14 hari diisolasi atau dikarantina, DBD menyerang manusia hanya butuh waktu 1 sampai 7 hari, Virus Corona 14 hari baru gejalanya mulai terasa oleh si penderita. Coba bayangkan, menghadapi DBD saja kita santai kan, padahal Rumah Sakit penuh tuh sama penderita DBD, kita menganggap penyakit DBD akan ada dokter yang mengobati. Jadi kenapa kita harus panik menyikapi Virus Corona," ungkapnya

Hanya saja, terkait Virus Corona ini, kata dr. Ade, "kita (masyarakat) harus tahu cara pencegahan dan penanggulangannya, kalau ada gejala demam tinggi, sesak nafas, flu dan selama 14 hari terakhir setelah mengalami gejala, si penderita baru melakukan kunjungan dari negara atau daerah terdampak Virus Corona orang tersebut akan berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan harus diisolasi."

Terkait pencegahan, Satgas COVID-19 Kota Metro itu menyarankan supaya warga kampus atau masyarakat luas mau memperhatikan pola hidup sehat, seperti istirahat yang cukup, rajin mencuci tangan dengan sabun atau sediakan hand sanitizer, dan hindari pusat-pusat keramaian untuk sementara waktu guna memutus rantai penularan virus (Sosial Distancing).

"Virus Corona ini sebenarnya ada sisi positif karena mengajarkan kita untuk kembali kepada hidup sehat," tukasnya.

Itulah mengapa di awal saya menganggap bahwa untuk mengurangi kekhawatiran masyarakat terhadap wabah Virus Corona perlu ada sosialisasi atau edukasi ke tengah masyarakat yang diambil oleh lembaga pendidikan seperti UM Metro dan atau instansi pemerintah lainnya. Tidak cukup dengan selembaran pamflet atau surat edaran yang minim informasi terhadap inti masalah yang seharusnya tergali secara utuh.

Penularan dan Penanganan COVID-19


Penanganan Covid 19 membutuhkan peralatan khusus yang cukup mahal, dari mulai pakaian tenaga medis sampai dengan penyediaan  ruang khusus di rumah sakit.  Keterbatasan fasilitas ini lah yang masih menjadi permasalahan berat penanganan COVID-19 di Indonesia.

Belum lagi untuk membuktikan seseorang positif atau negatif COVID-19 memerlukan bahan dan alat khusus yang sementara ini hanya ada di Jakarta (Balitbang Dep. Kesehatan), sehingga untuk mendapatkan bukti saja perlu waktu lama dan dalam kondisi menunggu hasil konfirmasi tersebut muncul ketidakpastian cukup lama yang dapat menimbulkan efek negatif bagi korban dan menyulitkan kepastian tindakan medis, selain menimbulkan fenomena gunung es Covid 19.

Hal lain adalah Covid 19 ditularkan melalalui sentuhan penderita dengan orang sehat atau melalui media lain yang ditersentuh oleh penderita. Masa inkubasi (masa tunggu gejala sakit) Covid 19 dalam tubuh korban cukup lama sekitar 2-3 minggu sebelum merasakan gejala sakit demam, muntah, sesak nafas dan seterusnya.

Dalam masa inkubasi si korban merasa baik-baik saja dan boleh jadi pergi kemana saja dan berkumpul dengan banyak orang, serta bersentuhan dengan banyak benda, padahal dirinya sudah terinfeksi Covid 19 dan siap menularkan ke yang lain, tapi tidak sadar dan terlihat. Dalam konteks tersebut Covid 19 memang membahayakan layaknya roh gentayangan yang tidak kasat mata tapi nyata akibatnya.


Redaksi