Mengulas Isra Mi'raj dan Peristiwa Supersemar

berandadesa.com - Dalam kalender masehi tanggal 11 Maret 2021 memang tertera sebagai hari libur Isra Mi'raj.




Yakni peristiwa bersejarah yang oleh banyak ulama disebut sebagai mukjizat yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW ketika melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Al Aqsa di Palestina (isra) dan kemudian dilanjutkan dari Masjid Al Aqso ke Sidratul Muntaha (langit tertinggi) Mi'raj dalam waktu satu malam.


Aceng Zakaria dalam Al Tadabbur: Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir, bahwa sebelum melakukan Mi'raj, Rasulullah ditemui oleh  Malaikat Jibril dan kemudian Malaikat Jibril membedah dada Rasulullah untuk dicuci oleh air Zamzam. 


Selain itu, Malaikat Jibril juga membawakan bejana emas yang memiliki hikmah dan iman lalu dituangkan ke dada beliau Nabi SAW. Setelah itu barulah Malaikat Jibril menutup kembali dada Nabi SAW dan membawanya naik ke langit. 


Lebih jauh tentang faktor yang melatarbelakangi peristiwa Isra Mi'raj adalah ketika itu Nabi Muhammad SAW sedang ditimpa kesedihan yang mendalam. kesedihan yang dialami oleh Rasulullah adalah karena ditinggal oleh dua orang yang sangat beliau sanyangi, yaitu Khadijah, istri yang setia menemani dan menghiburnya dikala orang lain mencemooh Nabi SAW. 


Lalu Nabi SAW juga ditinggal oleh pamannya yang bernama Abu Thalib. Abu Thalib adalah paman Rasulullah yang senantiasa menjaga segala aktivitas Rasul dari ancaman kaum Quraisy.


Sehingga peristiwa Isra Mi'raj bisa diartikan sebagai cara Allah SWT menghormati dan mengobati kesedihan Nabi Muhammad SAW setelah istri dan paman beliau meninggal dunia. 


Mengenai peristiwa Isra Mi'raj ini, Allah SWT meriwayatkannya dalam Quran surat Al Isra ayat 1 yang artinya "Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al- Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui."


Dalam Quran Surat A- Najm ayat 13-18 Allah SWT berfirman yang artinya "Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, Muhammad melihat Jibril ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputi penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu, dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. Sidratul Muntaha adalah tempat yang paling tinggi, di atas langit ke-7, yang telah dikunjungi Nabi ketika Mi'raj."


Saat Mi'raj ke Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Allah SWT dan Nabi SAW dan ummatnya diperintahkan oleh Allah SWT untuk melaksanakan kewajiban Sholat 50 kali sehari semalam.  


Sekembalinya dari Sidratul Muntaha Nabi SAW turun kelangit di mana Nabi Musa As berada, atas saran Nabi Musa itulah Nabi SAW memohon kepada Allah agar diberikan keringan dalam melaksanakan kewajiban sholat. Allah SWT mengabulkan permintaan Nabi SAW dan sholat wajib diringankan menjadi 5 kali sehari semalam.


Peringatan Supersemar (Surat Perintah 11 Maret 1966)


Dan ternyata, di hari yang sama, bangsa kita bukan hanya memperingati peristiwa Isra Mi'raj tetapi juga ada peristiwa sejarah yang tidak kalah penting untuk dibahas, yakni peristiwa Supersemar (Surat Perintah 11 Maret 1966).


Meski dua peristiwa bersejarah ini terjadi di tempat dan waktu yang berbeda, masing-masing memiliki keterkaitan dengan bangsa Indonesia hingga saat ini.


Pertama adanya kenyataan bahwa Indonesia adalah negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia, sehingga Isra Mi'raj oleh umat Islam di Indonesia terus diperingati setiap tahunnya untuk dijadikan sebagai motivasi, penyemangat dan mengambil pelajaran dari kisah yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW.   


Kemudian kedua tentang peristiwa Supersemar (Surat Perintah 11 Maret 1966), yang barang tentu tidak akan bisa dihilangkan dari khasanah perjalan bangsa Indonesia. Peristiwa Supersemar menjadi tonggak peralihan kekuasaan dari Presiden Sukarno ke Presiden Suharto.


Supersemar adalah surat perintah dari Presiden Sukarno yang diserahkan kepada Letnan Jenderan Suharto yang ketika itu menjabat sebagai Pangkopkamtib (Panglima Komando operasi keamanan dan ketertiban) untuk mengambil tindakan dalam mengamankan negara.


Mungkin kita bertanya, mengapa perlu diambil tindakan untuk mengamankan negara? memang situasi negara kala itu masih dalam keadaan berkecamuk usai terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) yang pelakunya ditudingkan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). 


Entah apa yang sebenarnya tertulis dalam Surat Perintah 11 Maret tersebut hingga akhirnya berujung kepada pergantian kekuasaan kepresidenan, dari Sukarno kepada Suharto.


Adapun arsip yang disimpan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sedikitnya ada 4 versi.


Namun keempat versi tentang Supersemar itu diakui oleh mantan Kepala ANRI M. Asichin saat menjadi pembicara dalam Workshop Pengujian Autentikasi Arsip di Jakarta pada 21 Mei 2013 adalah palsu semua.


“Dari bantuan pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor) Mabes Polri, semuanya dinyatakan belum ada yang orisinal, belum ada yang autentik. Jadi, dari segi historis, perlu dicari terus di mana Supersemar yang asli itu berada,” demikian ungkap M. Asichin kala itu seperti dikutip tirto.id dalam www.menpan.go.id.


Masih dikutip dari tirto.id, keempat versi itu berasal dari tiga instansi, yakni 1 versi dari Pusat Penerangan (Puspen) TNI AD, 1 versi dari Akademi Kebangsaan, dan 2 versi dari Sekretariat Negara (Setneg). Yang menjadi pegangan selama Orde Baru adalah versi pertama dari Puspen TNI AD.


Terkait Supersemar versi Puspen TNI AD yang selama ini dijadikan pegangan Suharto, M. Asichin menegaskan itu juga tidak asli.


"Supersemar versi TNI AD itu sudah dibuat dengan teknologi mesin komputer. Padahal, tahun 1966 belum digunakan mesin komputer, masih menggunakan mesin ketik manual. Berarti dokumen itu palsu, dibuat setelah tahun 1970-an,” kata M. Asichin.


Dengan demikian, kita bisa menarik kesimpulan bahwa peristiwa Supersemar (Surat Perintah 11 Maret 1966) hingga kini masih menjadi pekerjaan besar bagi para sejarawan untuk menemukan keaslian surat tersebut sehingga kebenaran dari persitiwa Supersemar dapat diungkapkan secara terang benerang ke hadapan masyarakat Indonesia.


Penulis: Barnas Rasmana

Kolom Komentar

Previous Post Next Post