Bagi warga Kota Metro dan sekitarnya mungkin kini sering mendengar nama dokterswoning. Nama ini mulai sering muncul di berbagai media massa dan media sosial sejak akhir tahun 2020 lalu dalam sebuah kampanye penyelamatan dan perlindungan bangunan bersejarah di Kota Metro. Dokterswoning kini menjadi nama resmi sebuah bangunan yang telah ditetapkan statusnya sebagai cagar budaya pada Juni 2021 oleh Pemerintah Kota Metro, dan kini sedang dipersiapkan menjadi Rumah Informasi Sejarah (RIS) Kota Metro oleh komunitas pegiat sejarah bersama-sama dengan masyarakat.
Dalam narasi sejarah yang tercatat, disebutkan bahwa dokterswoning merupakan frasa dalam Bahasa Belanda yang berarti Rumah Dokter. Sesuai namanya bangunan rumah tinggal ini memang sejak awal diperuntukkan bagi kediaman dokter pemerintah ketika itu yang diberi tugas memberikan pelayanan kesehatan bagi kolonis di Kolonisasi Sukadana yang beribukota di Metro.
Surat kabar Deli courant yang terbit pada 13 April 1939, mengabarkan tentang pengangkatan seorang dokter kolonisasi yang akan ditugaskan di Metro. Berkaitan dengan itu, maka dibangunkan sebuah rumah dinas untuk dokter tersebut di Metro yang mulai dikerjakan pada medio 1939 dan selesai pada Februari 1940. Inilah rumah dokter atau dokterswoning yang dimaksud, dan dokter pertama yang menempati bangunan ini adalah Mas Soemarno Hadiwinoto. Sesuai dengan kekhasan namanya, mudah diidentifikasi bahwa dokter bumiputera ini berasal dari Jawa, terlebih gelar Mas yang disandangnya.
Sejak pertama kali melaksanakan tugasnya di Metro, dokter Soemarno ternyata tidak hanya terpaku pada aktivitas kewajibannya memberikan pelayanan kesehatan bagi para kolonis. Latar belakangnya sebagai dokter bumiputera berpendidikan yang membuat wawasannya bertambah luas, juga mendorongnya untuk berkiprah dan mengambil peran lebih daripada seorang dokter.
Peran dokter semacam ini mungkin tidak asing lagi ketika itu, sejak Era Pergerakan Nasional awal abad ke-XX, dapat dilihat bagaimana kiprah para dokter Jawa lulusan STOVIA yang mulai mengambil perhatian terhadap perjuangan politik untuk memperjuangkan kehidupan rakyat Indonesia yang terjajah agar lebih baik, bahkan bercita-cita untuk merdeka. Semangat ini pula yang ada dalam diri dokter Soemarno, dari beberapa sumber yang ditemukan, banyak membicarakan bahwa dokter ini tidak hanya fokus bertugas memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga selalu bergerak dan banyak mengambil peran.
Beberapa fakta sejarah yang dapat dihimpun mengenai sosok dokter ini diantaranya:
Dokter Bumiputera Lulusan N.I.A.S.
dokter Mas Soemarno Hadiwinoto merupakan lulusan dari sekolah pendidikan dokter bumiputera di Surabaya, yaitu Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS). Mungkin sekolah kedokteran bumiputera ini tidak terlalu familiar seperti STOVIA yang didirikan di Batavia, tetapi keduanya sama-sama menyelenggarakan pendidikan kedokteran dasar dan lulusannya diberi gelar Dokter Djawa. Keberadaan NIAS ini kini jejaknya masih dapat dijumpai, karena menjadi cikal bakal berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya.
Harian De Indisch courant yang terbit pada 4 Maret 1939 memberitakan bahwa Mas Soemarno Hadiwinoto telah lulus dan dipromosikan menjadi dokter bersama dengan rekannya R. Ateng Kertanahardja. Kemudian pada 16-17 Maret 1939, harian Bataviaasch nieuwsblaad dan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië memberitakan kembali tentang dokter Soemarno yang secara resmi diangkat menjadi dokter pemerintah dan telah memperoleh tempat tugasnya di Metro, Distrik Lampung.
Adviseur Berdirinya Perkumpulan Muhammadiyah di Metro
Bertugas sebagai seorang dokter yang harus memberikan pelayanan kesehatan kepada banyak kolonis yang tersebar di wilayah yang luas, tak menghalangi kiprah dokter Soemarno dalam bidang lainnya. Majalah Pandji Islam terbitan tahun 1940 koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), menjelaskan bahwa perkembangan organisasi Muhammadiyah di tanah kolonisasi mulai menguat pada tahun-tahun itu, dokter Soemarno turut berperan sebagai adviseur Muhammadiyah ketika itu dan Asisten Wedana Metro juga turut tergabung menjadi anggota Muhammadiyah. Pada tahun itu juga disebutkan telah dibentuk sebuah Komite Pendirian Sekolah Muhammadiyah di Metro. Sekolah pertama Muhammadiyah (Hollands Inlandsche School Muhammadiyah) di Metro yang kemudian mulai dibuka pada tahun 1941 dan diresmikan oleh Muhammadiyah Cabang Telukbetung, dengan jumlah siswa pertamanya 50 orang anak. Bidang-bidang pendidikan dan sosial (salah satunya pelayanan kesehatan) memang telah lama menjadi ciri khas dari amal usaha-amal usaha yang didirikan oleh perkumpulan Muhammadiyah di berbagai tempat. Maka tak heran, perkumpulan ini juga banyak digerakkan oleh anggota-anggota yang berlatar belakang kependidikan dan kesehatan.
Ketua Cabang KNID Lampung untuk Metro
Memasuki Era Kemerdekaan pada tahun 1945, banyak
terjadi perubahan-perubahan dalam sistem pemerintahan. Kabar proklamasi kemerdekaan
dari Jakarta yang dibawa langsung oleh Mr. Abbas sebagai wakil dari Lampung
menjadi tonggak semangat baru dalam alam kebebasan bernegara. Sebagai tindak
lanjutnya, pada tanggal 11 September 1945 dibentuk Komite Nasional Indonesia
Daerah atau semacam lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang dibentuk untuk
menjalankan fungsi DPRD sampai menunggu pemilihan umum (Pemilu) diselenggarakan.
Struktur KNID Lampung ketika itu terdiri dari Dewan Pimpinan, Badan Pekerja, Anggota merangkap Kepala Bagian, dan Cabang-cabang KNID Lampung dari berbagai daerah di Lampung. Dokter Soemarno ketika itu menjabat sebagai Ketua Cabang KNID Lampung untuk Metro. Seluruh personil KNID Lampung tersebut mewakili segenap aliran, kelompok, dan partai-partai yang berpusat di Tandjungkarang.
Penggagas dibangunnya Monumen Peringatan Perjuangan Kemerdekaan di Alun-alun Metro
Bagi warga Kota Metro dan sekitarnya, terutama yang pernah melalui era tahun 1950-an hingga medio 1980-an, mungkin sebagian masih memiliki memori atau ingatan tentang sebuah struktur monumen di alun-alun Metro yang salah satu sisinya menyerupai bahtera/kapal, terdapat tiang bendera di sudutnya, dan terukir relief kepulauan Nusantara di sisi lainnya. Itulah monumen Peringatan Perjuangan Kemerdekaan yang pendiriannya digagas oleh dokter Soemarno Hadiwinoto pada tahun 1946.
Ide tersebut kemudian direalisasikan pembangunannya pada tahun 1947 atas prakarsa Raden Soekarso sebagai Kepala Djawatan Pekerjaan Umum (PU) Metro dengan tenaga dan dana pembangunan hasil gotong royong dari berbagai pihak. Sayangnya keberadaan monumen tersebut kini tidak dapat lagi dijumpai, karena terpaksa dibongkar sebagai implikasi pembangunan Kota Metro berdasarkan Rencana Induk Kota tahun 1985-2004 yang kemudian ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1988.
Cukup mencengangkan ternyata, sosok yang kisahnya asing di telinga ini, ternyata cukup panjang untuk diceritakan dalam tulisan lebih dari seribu kata, di tengah kesulitan dan keterbatasan sumber data. Setelah ditelusuri ternyata dokter kolonisasi ini punya banyak peran di Metro ketika itu. Namun sayangnya kini namanya sudah tak dikenali lagi oleh warga Kota Metro sendiri. Mulai tenggelam seiring berjalannya waktu, seperti jejak keberadaannya yang kini mulai hilang.
Monumen Peringatan Perjuangan Kemerdekaan yang pernah berdiri di alun-alun kota kini tak ada lagi, informasi tentang perannya sebagai Ketua Cabang KNID Lampung untuk Metro pun tak terlacak. Tak diketahui apakah tercatat menjadi bagian dari tokoh sejarah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di Metro atau tidak.
Jejak keberadaannya yang masih dapat ditemui kini adalah organisasi Muhammadiyah di Kota Metro. Sebuah organisasi Islam besar di Metro yang dalam catatan sejarah tak dapat dibantah, lahir atas bantuan seorang dokter kolonisasi. Ada jejak sentuhan tangannya dalam pembentukan awal mula organisasi ini di Metro. Kini, organisasi Islam yang cukup populer di Kota Metro dengan kemajuan berbagai amal usahanya ini, rupanya tak lantas membuat nama seorang dokter yang sewaktu proses kelahiran turut membidaninya, menjadi ikut terangkat dan populer. Semoga tak pernah terbesit niatan untuk melupakan dan menghilangkannya dari ingatan.
Upaya untuk tetap menjaga ingatan tentang sang dokter dan
peranannya, sekarang mulai menggeliat dengan kembali menghidupkan Dokterswoning.
Rumah dinas tempat dimana sang dokter pernah bertugas pertama kali dan
mengamalkan ilmunya. Merawat dan menyelamatkan nyawa saudara sesamanya, kini keberadaannya
masih ada dan berdiri kokoh. Seolah sedang berjuang untuk tetap ada, tak
runtuh, dan bertahan di tengah kemajuan modernnya perkotaan. Seperti sadar,
bahwa ada ingatan tentang sosok penting yang harus ia jaga karena sangat lekat
dengannya, ada pesan yang harus ia selalu sampaikan kepada setiap generasi,
bahwa ada kisah tentang seorang dokter kolonisasi. Dan ada hal penting yang
harus selalu disadari, bahwa masa lalu akan selalu menjadi penyebab adanya hari
ini.
Kian Amboro.
Sumber pustaka:
Anhar Gonggong dkk. 1993. Sejarah Perlawanan Terhadap
Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Lampung. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Dewan Harian Angkatan 45. 1994. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan
di Lampung Jilid II. CV. Mataram
TACB Kota Metro. 2020. Dokterswoning: Sejarah Rumah Dokter Kota Metro. AURA Publishing.
Terbitan:
Madjalah Pandji Islam. Januari 1940.
DE N.I.A.S.. "De Indische courant".
Soerabaia, 04-03-1939.
Volksgezondheid. "Bataviaasch nieuwsblad".
Batavia, 16-03-1939.
D. V. G.. "Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indië". Batavia, 17-03-1939.
ELKE RESIDENTIE EEN VEEARTS. "Deli courant".
Medan, 13-04-1939
