Bangunan Penjaga Ingatan, Kalianda Sebuah Kota Bersejarah

Kota Kalianda adalah salah satu kota yang kaya akan keindahan alamnya. Wisata pantai adalah wisata alam yang paling dikenal oleh masyarakat apabila merujuk pada keberadaan Kalianda sebagai kota wisata. Padahal Kota Kalianda masih banyak memiliki potensi-potensi lain yang cukup menarik untuk dieksplorasi, salah satunya adalah aspek sejarah.


Kalianda dalam narasi sejarah Lampung dikenal sebagai salah satu daerah yang cukup tua dan menjadi pusat pemukiman masyarakat Lampung. Sehingga narasi sejarah dari kota ini tentu cukup panjang, mulai dari era kolonialisme hingga heroiknya era perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Beberapa tinggalan sejarah yang menandakan Kota Kalianda sebagai kota bersejarah diantaranya Bangunan Eks Kantor Pos dan Tugu Perjuangan Kota Kalianda.

 

Bangunan Eks Kantor Pos Kalianda


Bangunan ini berlokasi di Lingkungan III Kelurahan Kalianda dan diduga usianya telah mencapai ratusan tahun. Sebagaimana kota-kota kolonial lainnya, keberadaan Kantor Pos dapat menjadi penanda bahwa suatu kota dimasa pemerintahan Hindia Belanda memiliki peran begitu penting. Tentunya sebagai bagian dari jaringan komunikasi pemerintahan kala itu. 



Ada fakta menarik juga dari bagian bangunan kolonial ini, pasalnya pada setiap bagian bawah lembaran gentingnya, dijumpai kalimat berbahasa Belanda “STOOM-PANNEN FABRIEK VAN ECHT 1883”, yang oleh publik ditafsirkan sebagai perkiraan waktu bangunan ini didirikan.


Hal ini juga menjadi bagian dari keyakinan masyarakat Kalianda bahwa bangunan ini menjadi saksi bisu peristiwa di sekitar meletusnya gunung Krakatau pada tahun 1883, sebuah fenomena katastropik purba yang cukup melegenda dan membawa dampak yang sangat besar tidak hanya di lingkup lokal, tetapi juga dunia, sehingga mendorong lahirnya berbagai peristiwa besar.

 

Memasuki era kemerdekaan, bangunan ini tetap menjalankan fungsinya sebagai Kantor Pos yang telah dikelola PT. Pos dan juga PT. Telekomunikasi Indonesia. Masih menjadi memori kolektif masyarakatnya, bahwa kejayaan bangunan ini berjalan pada era 1970-1980an. 


Beberapa pelaku sejarah yang pernah bekerja di Kantor Pos ini diantaranya masih bisa dijumpai dan memberikan keterangan terkait bangunan bersejarah ini. Sangat jelas, bangunan ini merupakan saksi bisu perkembangan Kota Kalianda sejak era kolonial hingga era kemerdekaan. Keberadaannya tentu sangat penting sebagai penjaga ingatan kolektif masyarakat Kalianda.

 

Tugu Perjuangan Kota Kalianda


Berlokasi tepat di depan Taman Makam Pahlawan Kesuma Bangsa, dan tak jauh dari Monumen Pahlawan Nasional Raden Inten II, berdiri kokoh sebuah monumen peringatan yang dilekatkan sebuah memori heroik perjuangan rakyat Kalianda melawan penjajah Belanda. Sejak jauh masa silam, Kalianda dikenal sebagai wilayah yang rakyatnya gigih memperjuangkan kemerdekaan dan menentang penjajahan Belanda.


Sebut saja pahlawan Raden Inten II yang tersohor perjuangannya menentang kolonialisme dan imperialisme, hingga peristiwa heroik pertempuran lima jam di Kalianda dalam rangkaian perlawanan Agresi Militer Belanda II di Kota Kalianda.


Meski telah memproklamasikan diri sebagai negara merdeka dan mendapat pengakuan dunia, Belanda rupa-rupanya tetap bersikukuh datang untuk kembali menguasai Indonesia melalui rangkaian tindakan agresi yang diklaimnya sebagai aksi polisionil atau penertiban. Tentu saja hal ini memancing kemarahan rakyat Indonesia, tak terkecuali rakyat Kalianda.


Pada peristiwa Agresi Militer Belanda II tahun 1948-1949, Kalianda menjadi medan pertempuran hebat yang dikenal dengan Pertempuran Lima Jam Kalianda. Peristiwa itu terjadi pada 21 Maret 1949, di seputaran Jembatan Way Urang tepatnya di lokasi Kampung Karang Agung. Perjuangan dilakukan bersama-sama oleh pihak pasukan pejuang dan lasykar rakyat. Meski pertempuran ini berakhir kekalahan di pihak Republik Indonesia dikarenakan kurangnya personil dan persenjataan, namun peristiwa ini memberikan bukti bahwa perjuangan rakyat Kalianda yang tak pernah gentar menegakkan kemerdekaan di wilayahnya dan melawan kembalinya penjajahan.


Heroisme peristiwa pertempuran ini kini diabadikan dalam relief yang menjadi bagian dari satu kesatuan monumen ini. Pesan perjuangan yang dalam coba disampaikan kepada setiap pengunjung yang datang untuk melihatnya. Juga menjadi pengingat di kala terlupa, bahwa di masa lalu ada ingatan-ingatan tentang perjuangan, ingatan tentang sulitnya berjuang di kala penjajahan. 


Menjadi guru bagi setiap generasi di Kalianda khususnya, maupun masyarakat Lampung pada umumnya bahwa kemerdekaan bangsa yang telah diraih bertebus darah dan nyawa, sudah sepantasnya kini diisi dengan semangat untuk terus bergerak dan menjadi bangsa yang unggul. Sebagai bentuk terima kasih atas hutang darah dan nyawa yang tak akan pernah terbayar.

 

Dimas (Wakil Ketua HIMAS Pendidikan Sejarah UM Metro)

Kolom Komentar

Previous Post Next Post