Ungkapan Ku di Hari Ibu


Pernah, aku melihat senja. Di penghujung Hujan dan badai.


Saat itu mataku tertuju pada bayangan, yang berdiri didekatku.


Aku dapat melihatnya dengan jelas, tapi tak pernah ku gapainya.


Saat tertutup sinar, tekatku untuk tetap ingin melihatnya.


Yaah, benar. Hanya bayangan, yang ternyata terus mengikuti. Itulah kasih sayang ibu. Dimanapun engkau akan melihatnya, walaupun mekanisme otak tak pernah menginginkanya.


Karena Madrasah pertamamu, karena tempat berlindungmu dan karena Ibulah lahir dan runtuhnya sebuah peradaban. 


Seperti Aisyah, Fatimah, Khadijah, Mariam, Kartini, Cut Nyak Dien yang kisahnya mungkin tak lagi terdengar, apa lagi menjadi primadona untuk generasi masa kini. Ibumu adalah salah satu sosok yang pernah mewakilinya, karena ia bisa berperan, layaknya Aisyah, Fatimah, Khadijah, Mariam, Kartini ataupun Cut Nyak Dien untuk dirimu. Mungkin perannya tak terlalu nampak untuk bangsa. Tapi tanpa sosoknya, mungkin bangsamu akan rata dengan kebodohan.


Ketika ia tua, kita akan melihatnya terbata-bata dalam berucap, merangkak dalam melangkah dan nafas yang tak lagi sama. Tapi itu jika kamu menyaksikan usia tuanya, jika tidak kamu akan tetap melihat senyum dan bayangan kasih sayangnya dengan setetes air mata dan saat melangitkan Doa untuknya.


Teman terbaik dalam bercerita, teman terbaik untuk mendengar. Dialah yang mengajarimu berbicara, dan dialah orang pertama yang akan mengalah saat kamu mengutarakan arah dunia.


Berbincang denganya adalah cara menghabiskan waktu terbaik, tentang surga, cinta dan sebuah telaga.


Pandu Pinuju

Kolom Komentar

Previous Post Next Post