Kota Metro - Himpunan Mahasiswa Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro (Himas UM Metro) dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda ke 94, tahun 2022, menggelar Obrolan Seputar Sejarah (OBRAS), yang dikemas dalam Seminar dan Dialog Kebangsaan, dilaksanakan secara virtual, Jumat (28/10/2022).
Adapaun tema yang diangkat dalam Obras kali ini yaitu “Reaktualisasi Nilai-Nilai Sumpah Pemuda sebagai Landasan Guna Memperkokoh Indentitas Bangsa".
Menghadirkan Johan Setiawan yang juga dosen Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro dan Asyrul Fikri Kaprodi Pendidikan Sejarah Universitas Riau sebagai pemateri dan Rosdina Dilaranti sebagai moderator.
Ketua umum HIMAS Aditya Nurrohman dalam pengantarnya menyampaikan acara ini merupakan acara rutin dari Himas UM Metro yang dalam kesempatan kali ini dikemas dengan Seminar dan Dialog Kebangsaan.
Aditya mengajak momentum hari sumpah pemuda sebagai refleksi diri khususnya semangat generasi muda yang tidak boleh hilang, harus tetap berinovasi dan terus bergerak.
“Peringatan Hari Sumpah Pemuda adalah upaya kita menghadirkan sejarah masa lalu untuk direnungkan, dipelajari, ditemukan kristalisasi pembelajaran kebaikan untuk dijadikan teladan dan inspirasi, walaupun kegiatan hari ini berlangsung secara virtual, akan tetapi hal ini tidak sama sekali mengurangi semangat kita untuk saling diskusi, mereaktualisasi kembali Nilai-Nilai Sumpah Pemuda," ujar Aditya.
Johan Setiawan selaku pemateri pertama menyampaikan banyak hal mengenai sejarah sumpah pemuda. Sumpah pemuda merupakan suatu pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia yang dilakukan oleh para pemuda-pemudi Indonesia dengan menyatakan janji satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.
Istilah sumpah pemuda itu sendiri tidak muncul dalam keputusan Kongres, tetapi diperkenalkan setelahnya. Di mana sumpah pemuda muncul setelah Kongres Pemuda II. Namun, sebelum itu Pemuda I tentunya juga menjadi pendorong adanya sumpah pemuda setelah Kongres pemuda II.
"makna sumpah pemuda ini menjadi dasar bagi pergerakan para pemuda, dengan mengutip 3 isi sumpah pemuda yakni
PERTAMA: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.
KEDOEA: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.
KETIGA: KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA, MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.
"Tiga sumpah pemuda ini, menjadi hal terpenting dalam pergerakan pemuda. Bung Karno pernah berkata: Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang'. Seperti itulah perkataan Bung Karno yang masih terus dikenal hingga saat ini," ungkap Johan
Materi yang kedua disampaikan oleh Asyrul Fikri yang mengupas tentang bagaimana nilai sumpah pemuda digunakan untuk memperkokoh identitas bangsa yang kemudian dikontekstualkan dengan keadaan pemuda saat ini.
Banyak nilai-nilai sumpah pemuda yang bisa diterapkan di era seperti sekarang ini, mulai dari hal kecil hingga hal besar. Artinya sekarang ini peran pemuda dalam mengimplementasikan nilai-nilai sumpah pemuda bukan lagi harus seperti pada zaman sumpah pemuda dirumuskan, yang harus angkat senjata dan lainnya. Tetapi bagaimana pemuda saat ini lebih harus berani mengambil peran besar guna tercapainya perubahan.
"Pemuda sebagai agen perubahan tidak hanya menjadi pemuda yang diam terhadap penindasan, Namun berani mengambil tindakan. Melihat dari pergerakan ini sendiri Pemuda menjadi peran penting untuk sebuah pergerakan. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia. Sebuah kalimat legenda yang sempat dipekikkan oleh bapak bangsa, Bung Karno, tokoh pemuda saat itu yang kalimatnya kini menjadi kenyataan," ujar Asyrul
Peserta OBRAS kali terdiri dari beberapa elemen, diantara mahasiswa dari Pendidikan Sejarah UM Metro, Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Intan Lampung, Universitas Lampung, Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Palembang, Dosen di Lingkungan Progam Studi Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro, dan MGMP sejarah Lampung Timur, Kota Metro dan Provinsi Lampung.
Penulis: Aditya
