Fasilitator Tak Hanya Sekedar Diranah Perkaderan

Noval Sahnitri (Kader IPM Lampung)
Fasilitator Tak Hanya Sekedar Di Ranah Perkaderan

Mendengar kata Fasilitator tentu bukan hal asing dikalangan umum khususnya di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Dalam perkaderan fasilitator menjadi salah satu kunci utama. Adapun seperti panitia dan peserta itu merupakan unsur pendukung yang tentunya tidak boleh ketinggalan.

Kenapa kemudian penulis menyampaikan Fasilitator menjadi kunci utama?

Karena rancangan perkaderan dari pra, pelatihan dan pasca itu semua yang merancang dan mengkonsep adalah Fasilitator.

Sedikit berbeda ya kalau di Muhammadiyah dan Ortom menggunakan istilah kata Instruktur akan tetapi, pada intinya Fasilitator dan Instruktur secara garis besar sama-sama untuk mengelola Perkaderan.

Nah kali ini penulis akan menyampaikan 3 point penting terkait fasilitator :

Fasilitator Sebagai Roda Penggerak Keilmuan
Sekarang kita masuk ke point pertama, sebenarnya pada poin ini suatu keharusan yang harus dimiliki semua kader IPM. Tapi Kalau berbicara Fasilitator tentu keilmuan harus lebih dikedepankan dalam jati diri fasilitator. 

Fasilitator harus belajar banyak hal terutama keilmuan-keilmuan yang berkaitan perkaderan akan tetapi perlu juga memperhatikan keilmuan yang lainnya. Sudah semestinya fasilitator di IPM mempelajari buku panduan yaitu Sistem Perkaderan IPM yang biasa kita sebut dengan SPI Kuning atau Berkemajuan.

Nah, pertanyaannya sudahkah anda sebagai fasilitator di IPM sampai hari ini membedah buku tersebut ataupun membacanya hingga tuntas?

Saya kira rekan-rekan semua sudah ada yang melakukan tetapi belum secara kontinu. Kemudian juga Fasilitator tak sekedar hanya menghadirkan keilmuan kepada dirinya sendiri akan tetapi harus bisa menjadi roda penggerak keilmuan kepada para peserta. 

Dalam segala lini dan khususnya arena perkaderan fasilitator harus menghadirkan ruang-ruang keilmuan bagi peserta yang nantinya ruang tersebut menjadi wadah kompetisi berdiskusi, tentunya fasilitator harus menjadi komponen utamanya.

Perlu digaris bawahi dalam kompetisi berdiskusi tentu sudah mulai perlahan-lahan mempelajari dan membaca keilmuan-keilmuan yang bermanfaat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 11).

Fasilitator Sebagai Fasilitas Kebutuhan Peserta
Terkait dengan kata fasilitas ternyata kalo kita buka lebih general, maknanya tak hanya sekedar menyiapkan perlengkapan ataupun alat-alat yang berupa barang. Makna fasilitas di atas yang penulis maksud adalah fasilitas kebutuhan peserta. 

Ternyata menjadi fasilitator harus bisa menghadirkan dirinya untuk menjadi fasilitas kebutuhan peserta. Peserta tidak hanya sekedar membutuhkan ATK ataupun makan dan minum. Namun pada hakekatnya peserta membutuhkan bagaimana dirinya nanti bisa mengerti dan mengikuti arena perkaderan secara komprehensif.

So, fasilitator harus terus meriset kebutuhan peserta setiap saat dan dibuat draft ataupun semacam diagram kebutuhan peserta.

Bagaimana cara riset kebutuhannya?

Maka rekan-rekan fasilitator harus belajar metode analisis seperti Ansos, AI, SOAR atau boleh juga belajar terkait ilmu psikologi observasi dan ilmu yang berkaitan lainnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”(
QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110).

Fasilitator Sebagai Islam Rahmatan Lil’alamin

Oke, sekarang kita masuk poin terakhir yaitu Islam Rahmatan Lil’alamin

Kalo diperhatikan kata-kata tersebut agak sakral ya gaes. Dalam website muhammadiyah.or.id dalam tulisan yang berjudul “Muhammadiyah Menerjemahkan Makna Rahmatan Lil Alamin Lewat Amal Usaha”

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir tidak ingin Muhammadiyah mewacanakan nilai-nilai Islam dalam retorika semata.

“Kenapa Muhammadiyah punya pandangan bahwa ajaran Islam itu harus meliputi dalam kehidupan? Karena rahmatan lil alamin itu itu kan merupakan area di mana Islam hadir menjadi sumber kebaikan yang itu tidak di mana-mana, tetapi di alam semesta ini, bukan di alam gaib, bukan di langit tetapi di alam semesta,” kata Haedar.

“Dan Muhammadiyah sebagai organisasi dan pergerakan Islam tidak ingin bahwa risalah Islam itu berhenti pada ajaran semata-mata tetapi ajaran ini harus mewujud di dalam kehidupan,” tambahnya sembari mengingatkan bahwa Allah memberikan tugas pada manusia untuk menjadi khalifah (pengelola).

Maka penulis menyampaikan bahwa Fasilitator harus menjadi sebagai Islam Rahmatan Lil’alamin yang berarti Islam Rahmat bagi seluruh semesta alam.

Sesuai dengan judul yang penulis angkat yakni fasilitator tak hanya sekedar di ranah perkaderan.

Kenapa penulis mengangkat judul ini?
Ternyata seringkali kita menemukan setiap perkaderan fasilitator hanya berfungsi pada ranah perkaderan saja. Setelah perkaderan berakhir, fasilitator seakan-akan tak punya tugas lagi terhadap peserta.

Ada hal yang perlu yang digaris bawahi, fasilitator tentu harus terus berproses untuk menjadi Islam rahmat bagi seluruh kehidupan alam semesta.

Maka tak hanya sekedar pada ranah perkaderan saja, akan tetapi fasilitator bisa menghadirkan dirinya untuk bermanfaat bagi segala lini kehidupan yaitu seluruh alam semesta baik dalam bermasyarakat maupun melestarikan alam.

Nah ini menjadi evaluasi kita bersama-sama khususnya rekan-rekan IPM untuk memajukan perkaderan menuju lebih baik.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)

Closing statement
dari penulis adalah semua yang ditorehkan hanya segilintir pemikiran yang kiranya bisa bermanfaat untuk rekan-rekan IPM dalam ranah perkaderan. Adapun kiranya tidak sepakat ya No Problem.

Pada intinya mari kita terus berfikir bagaimana kita bisa melangsungkan dan memajukan perkaderan untuk terus berdinamis sesuai dengan tagline muhammadiyah yaitu Unggul dan Berkemajuan.

Penulis : 
Noval Sahnitri (Kader IPM Lampung)

Baca artikel lainnya dari Noval Sahnitri hanya di berandadesa.com -  Opini Noval Sahnitri Kader Persyarikatan Harus Progresif

Kolom Komentar

Previous Post Next Post