Merawat Kebersamaan: Refleksi Lintas Agama Dengan Romo Didit

 

Oleh Noval Sahnitri, 
Ketua Bidang KDI PW IPM Lampung dan Peserta PKPTMU PP IPM Tahun 2025

Ditengah dinamika perjalanan kehidupan dalam beragama yang cukup kompleks. Para pemuka agama khususnya di Katolik sendiri yakni Romo yang terbuka, rendah hati dan penuh semangat dalam pelayanan menjadi oase bagi terciptanya keharmonisan antarumat. Salah satu sosok dan sekaligus tokoh pemuka agama yang memiliki semangat juang tinggi yakni Romo Eduardus Didik Cahyono Widyatama, S.J. Ia telah menempuh proses yang panjang dalam pengabdiannya serta membina jemaaat dan juga aktif membina hubungan lintas iman khususnya dengan tokoh islam yang ada di Muhammadiyah salah satunya Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. K.H. Tafsir, M.Ag

Dalam sebuah diskusi yang hangat bersama Romo Didik, sangat banyak hal yang terungkap dari pengalaman hidup, pemikiran reflektif dan harapan besar tentang seharusnya bagaimana kita merawat Indonesia yang dikatakan sebagai negara majemuk ini.

Masa Kecil Romo Didik

Pada era tahun 1980-an Romo Didik mengenang masa kecilnya yang pada waktu itu sangat tenang dan damai. Ia bercerita kala itu, ketika masih kecil bermain tanpa disibukkan dengan berbeda keyakinan. Ketika ada yang sakit ataupun meninggal, semua saling mengunjungi, tanpa melihat latar belakangnya dari mana terutama dalam beragama.

Memilih Menjadi Romo

Dalam perjalanan hidupnya, ketika hendak memilih ingin menjadi Romo. Ia termotivasi  dan gembira ketika diwaktu sekitar usia SMP yang terlibat dalam pelayanan gereja. Pada saat itu ia sangat bergembira bisa bertemu dan berjumpa banyak orang terutama dalam urusan kemanusiaan dan agama. Ia juga menyampaikan menjadi pastore atau Romo bukan pilihan yang mudah bagi setiap orang. Karena tidak boleh menikah dan terputus secara garis keturunan dengan keluarganya. Kemudian ia harus menempuh pendidikan selama kurang lebih 16 tahun untuk menjadi seorang pastore. Namun, ia ternyata sangat bahagia dan gembira ketika bisa memberikan pelayanan yang terbaik kepada jemaatnya.

Pandangan Moderasi Beragama Menurut Romo Didi

Saat berdiskusi prihal tentang moderasi beragama, Romo Didi memberikan pandangan yang menarik. Di level atas pimpinan agama paham terkait apa itu moderasi beragama. Namun yang menjadi adalah di masyarakat bawah yang sering terjadi resistensi, prasangka dan luka batin di masa lalu. Ia menyampaikan juga untuk mengatasi masalah ini perlu adanya pendekatan secara hukum, kultural dan yang tak kalah penting terus memberikan edukasi kepada masyarakat, meskipun itu menjadi tantangan yang sulit.

Tidak Alergi Berbuat Baik dan Bersilaturahmi Kepada Siapapun Termasuk Lintas Agama

Romo Didi menyampaikan pesannya bahwa ketika berbuat baik, ini harus dilakukan kepada siapapun dan bisa berkolaborasi dengan pihak manapun. Ini adalah suatu hal yang sangat mungkin bisa dilakukan dan ini merupakan perbuatan yang sangat mulia. Sosok Paus Fransiskus adalah salah tokoh yang menginspirasinya. Selalu menyampaikan misi perdamaian, keadilan serta pelayanan yang baik untuk sesama. Romo Didi juga selalu rajin mengadakan kunjungan di masjid, tokoh agama lain, bahkan sering berkunjung pada Muhammadiyah dan NU. Ini menandakan bahwa bersilaturahmi menjadi penting untuk membangun sebuah hubungan dengan siapapun.

Tidak Memimpikan Jabatan, Jika Ditunjuk Harus Siap

Dalam tradisi pastore ada hal menarik dimana mereka tidak boleh untuk bermimpi atau punya jenjang karier secara jabatan. Karena sangat dilarang bagi mereka yang sudah menjadi pastore. Romo Didi juga menyampaikan apabila ditunjuk maka perlu diskusikan lagi dan kalau diizinkan maka harus diterima jabatan tersebut. Artinya semangatnya dalam menjalankan sebagai seorang pastore bukan sebagai bentuk pencitraan, namun benar-benar memberikan pelayanan yang menyalurkan kegembiraan.

Kesimpulan

Bersama Romo Didi tentu kita bisa belajar banyak hal bahwa ketika berdialog ataupun berkunjung bukanlah sekadar acara formal saja. Namun, ia mengajarkan kita harus kerja dengan hati yang senang dan gembira. Ia adalah tokoh yang sangat memberikan inspirasi dan menerangi jalan untuk menuju masyarakat yang harmonis.

Maka mari kita sama-sama menjaga, merawat, dan perkuat nilai-nilai moderasi beragama. Bukan hanya sekadar nilai biasa, akan tetapi sebagai bentuk untuk kebaikan bersama yang sama-sama diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

  • Substansi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Kolom Komentar

Previous Post Next Post