Ditengah dinamika perjalanan
kehidupan dalam beragama yang cukup kompleks. Para pemuka agama khususnya di
Katolik sendiri yakni Romo yang terbuka, rendah hati dan penuh semangat dalam
pelayanan menjadi oase bagi terciptanya keharmonisan antarumat. Salah satu sosok
dan sekaligus tokoh pemuka agama yang memiliki semangat juang tinggi yakni Romo
Eduardus Didik Cahyono Widyatama, S.J. Ia telah menempuh proses yang panjang
dalam pengabdiannya serta membina jemaaat dan juga aktif membina hubungan
lintas iman khususnya dengan tokoh islam yang ada di Muhammadiyah salah satunya
Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. K.H. Tafsir, M.Ag
Dalam sebuah diskusi yang
hangat bersama Romo Didik, sangat banyak hal yang terungkap dari pengalaman
hidup, pemikiran reflektif dan harapan besar tentang seharusnya bagaimana kita
merawat Indonesia yang dikatakan sebagai negara majemuk ini.
Masa Kecil Romo Didik
Pada era tahun 1980-an Romo
Didik mengenang masa kecilnya yang pada waktu itu sangat tenang dan damai. Ia
bercerita kala itu, ketika masih kecil bermain tanpa disibukkan dengan berbeda
keyakinan. Ketika ada yang sakit ataupun meninggal, semua saling mengunjungi,
tanpa melihat latar belakangnya dari mana terutama dalam beragama.
Memilih Menjadi Romo
Dalam perjalanan hidupnya, ketika hendak memilih ingin menjadi Romo. Ia termotivasi dan gembira ketika diwaktu sekitar usia SMP yang terlibat dalam pelayanan gereja. Pada saat itu ia sangat bergembira bisa bertemu dan berjumpa banyak orang terutama dalam urusan kemanusiaan dan agama. Ia juga menyampaikan menjadi pastore atau Romo bukan pilihan yang mudah bagi setiap orang. Karena tidak boleh menikah dan terputus secara garis keturunan dengan keluarganya. Kemudian ia harus menempuh pendidikan selama kurang lebih 16 tahun untuk menjadi seorang pastore. Namun, ia ternyata sangat bahagia dan gembira ketika bisa memberikan pelayanan yang terbaik kepada jemaatnya.
Pandangan Moderasi Beragama
Menurut Romo Didi
Saat berdiskusi prihal tentang
moderasi beragama, Romo Didi memberikan pandangan yang menarik. Di level atas
pimpinan agama paham terkait apa itu moderasi beragama. Namun yang menjadi
adalah di masyarakat bawah yang sering terjadi resistensi, prasangka dan luka
batin di masa lalu. Ia menyampaikan juga untuk mengatasi masalah ini perlu
adanya pendekatan secara hukum, kultural dan yang tak kalah penting terus
memberikan edukasi kepada masyarakat, meskipun itu menjadi tantangan yang
sulit.
Tidak Alergi Berbuat Baik dan
Bersilaturahmi Kepada Siapapun Termasuk Lintas Agama
Romo Didi menyampaikan
pesannya bahwa ketika berbuat baik, ini harus dilakukan kepada siapapun dan
bisa berkolaborasi dengan pihak manapun. Ini adalah suatu hal yang sangat
mungkin bisa dilakukan dan ini merupakan perbuatan yang sangat mulia. Sosok
Paus Fransiskus adalah salah tokoh yang menginspirasinya. Selalu menyampaikan
misi perdamaian, keadilan serta pelayanan yang baik untuk sesama. Romo Didi
juga selalu rajin mengadakan kunjungan di masjid, tokoh agama lain, bahkan
sering berkunjung pada Muhammadiyah dan NU. Ini menandakan bahwa bersilaturahmi
menjadi penting untuk membangun sebuah hubungan dengan siapapun.
Tidak Memimpikan Jabatan, Jika
Ditunjuk Harus Siap
Dalam tradisi pastore ada hal
menarik dimana mereka tidak boleh untuk bermimpi atau punya jenjang karier
secara jabatan. Karena sangat dilarang bagi mereka yang sudah menjadi pastore.
Romo Didi juga menyampaikan apabila ditunjuk maka perlu diskusikan lagi dan
kalau diizinkan maka harus diterima jabatan tersebut. Artinya semangatnya dalam
menjalankan sebagai seorang pastore bukan sebagai bentuk pencitraan, namun
benar-benar memberikan pelayanan yang menyalurkan kegembiraan.
Kesimpulan
Bersama Romo Didi tentu kita
bisa belajar banyak hal bahwa ketika berdialog ataupun berkunjung bukanlah
sekadar acara formal saja. Namun, ia mengajarkan kita harus kerja dengan hati
yang senang dan gembira. Ia adalah tokoh yang sangat memberikan inspirasi dan
menerangi jalan untuk menuju masyarakat yang harmonis.
Maka mari kita sama-sama menjaga, merawat, dan perkuat nilai-nilai moderasi beragama. Bukan hanya sekadar nilai biasa, akan tetapi sebagai bentuk untuk kebaikan bersama yang sama-sama diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
- Substansi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis.
