Apakah Pondok Pesantren Masih Aman?

Oleh : Kens Geo Danuarta 

Pondok Pesantren merupakan sebuah tempat pendidikan yang sudah tersebar ribuan di seluruh Nusantara dengan masing-masing gaya pendidikannya. Cover dari tempat ini adalah sebuah instansi pendidikan yang menawarkan program dimana para peserta didik menempati area Pondok Pesantren selama 24 jam dan hanya diperkenankan untuk kembali ke rumah saat keadaan libur. Namun apakah tempat ini benar-benar aman?

Dikutip dari Kompas bahwa sepanjang tahun 2024 setidaknya ada 114 atau lebih kasus kriminal yang terjadi di Pondok Pesantren. Angka yang cukup mengejutkan bagi sebuah instansi pendidikan yang di balut dengan berjuta kebaikan agama ini. Kembali kita pertanyakan. Apakah Pondok Pesantren masih aman?

Mayoritas kasus yang terjadi adalah kekerasan seksual. Sangat miris jika membayangkan seseorang dengan sarung dan baju koko rapi beserta peci hitam yang berjalan dengan berwibawa, bahasanya elok didengar oleh masyarakat, namun pada kenyataannya merupakan ‘predator seks’. Itulah keadaan mayoritas masyarakat Indonesia hari ini, pandangan mereka seolah tertutup dengan sorban yang melilit dikepala. Hingga akhirnya menganggap mereka merupakan orang yang tidak akan melakukan kesalahan. Padahal realita menunjukan, mereka hanya manusia biasa sama seperti manusia pada umumnya. Sepatutnya selain hanya melihat bahasa dan pakaiannya, kita juga harus mengintip bagaimana mereka mengajar? Bagaimana mereka memberi pemahaman? Karena itulah yang akan memberikan tameng kepada para santri. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa Pondok Pesantren adalah tempat paling nyaman, untuk melakukan pelecehan. Sebab para santri diintai sepanjang hari oleh para predator seks yang mendapat jabatan sebagai ‘Pimpinan Pondok Pesantren’

Sistem pendidik Pondok Pesantren dan penanaman pola pikir para kyai kepada santri hari ini menjadi hal yang perlu kita tilik lagi. Beberapa kasus memuat bahwa kekerasan seksual di Pondok Pesantren diawali dengan rayuan dan pemberian imbalan dan beberapa bahkan memberikan alasan bahwa apa yang dia minta berupa kepuasan melalui hubungan seksual adalah bagian dari taatnya dia kepada seorang guru. Meskipun banyak dari mereka akhirnya berani untuk speak up tapi pernyataan ini perlu untuk diteliti lebih dalam.

Ada sebuah model penanaman pola pikir oleh kyai kepada santri yang perlu untuk diperbarui, sering kali di beberapa pesantren sang kyai dianggap sebagai orang dengan martabat yang sangat tinggi dan lebih jauh lagi yang selalu ditanamkan di dalam pola pikir santri baik secara langsung oleh sang kyai atau dari para senior yang ada dipondok adalah: guru itu tidak pernah salah. Pola pikir  yang lebih rusak lagi adalah bahwa murid didoktrin untuk tidak meluruskan sesuatu yang dalam pandangan dia itu adalah sesuatu yang salah dengan dalih guru lebih mengetahui. Dengan tertanamnya pola pikir ini pada jiwa santri menyebabkan apa yang dilakukan sang guru itu selalu benar bahkan sesuatu yang tampak salah akan menjadi benar ketika dilakukan oleh sang guru. Ini yang agaknya menjadi bibit, santri mudah disuruh untuk melakukan apa pun dengan dalih taat kepada guru.

Bukan sebuah kesalahan bagi kita untuk menghormati guru, yang menjadi persoalan adalah dengan cara apa kita menghormati guru? Meluruskan ketika ada sesuatu yang kurang tepat dengan cara yang benar itu pun tidak keluar dari lingkaran menghargai dan menghormati guru. Tidak tahu ini adalah kurikulum atau hanya kebiasaan yang diwariskan turun temurun. Dalam banyak Pondok Pesantren juga ditemui bahwa para santri memang terkurung secara pemikiran, dibatasi oleh apa yang disampaikan oleh guru yang ada di pesantren diluar dari itu dianggap bukan sebagai ilmu. Apa yang disampaikan itu yang benar dan yang tidak tersampaikan dianggap salah.

Lalu apakah ada hubunganya semua ini dengan kekerasan seksual di Pesantren? Tentu saja, keberhasilan menanamkan pola pikir seperti ini menyebabkan santri akan mengikuti apa yang kyai katakan bahkan untuk melepas pakaian sekalipun mereka akan melakukannya karena budaya mereka mengajarkan bahwa menentang perintah kyai dan guru adalah bagian dari merusak ilmu, meskipun dengan perasaan penuh dengan pertanyaan mereka akan tetap mengiyakan apa yang mereka anggap sebagai perintah itu.

Maka memilih pondok pesantren buka hanya sekedar karena besar namanya saja, tetapi bagaimana pengurus menanamkan pemikiran kepada para santrinya.

  • Substansi tulisan sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Kolom Komentar

Previous Post Next Post