Lampung Timur, 20 September 2025 – Museum Desa Rejoagung, Kecamatan Batanghari, Lampung Timur, menjadi ruang hidup bagi sejarah dan budaya lokal dengan terselenggaranya kegiatan “Temu Pelaku-Saksi Sejarah Desa Rejoagung & Bincang Lampung Timur Era Revolusi Fisik”. Agenda ini merupakan rangkaian dari Museum Week & Cultural Exhibition: Pekan Museum Desa Rejoagung, yang digelar melalui dukungan program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Bengkulu dan Lampung.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (20/9) pukul
08.00–12.00 WIB ini menghadirkan narasumber penting, antara lain Djimin,
pelaku sekaligus saksi sejarah Desa Rejoagung; dan Utara Setia
Nugraha, S.Pd., pegiat sejarah lokal. Diskusi dipandu oleh Aditya
Nurrohman selaku moderator.
Utara Setia Nugraha, S.Pd., sebagai
pegiat sejarah lokal, dalam pemaparannya:pegiat sejarah lokal, menjelaskan
makna Revolusi Fisik serta relevansinya dengan peristiwa sejarah di sekitar
Lampung Timur. Ia menyebut bahwa revolusi fisik adalah masa perjuangan rakyat
Indonesia pada tahun 1945–1949 untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah
diproklamasikan. Perjuangan itu dilakukan melalui pertempuran bersenjata maupun
perlawanan rakyat terhadap upaya Belanda dan sekutu yang ingin kembali
menguasai Indonesia.
“Revolusi fisik bukan hanya cerita di Jawa atau Sumatra
bagian utara, tetapi juga terjadi di tanah Lampung. Di sini rakyat ikut
mengangkat senjata, mengorbankan jiwa dan raga, demi mempertahankan kemerdekaan,”
tegasnya.
Ia kemudian mengaitkan konsep revolusi fisik dengan
konteks lokal di sekitar Metro dan Lampung Timur. Metro pada masa itu menjadi
titik strategis perlawanan karena merupakan pusat pemerintahan kolonisasi
Sukadana. Utara juga menyinggung peristiwa pertempuran besar di Trimurjo
(Bedeng 12A) dan Bedeng 37C yang menjadi simbol perlawanan rakyat Lampung.
Dalam pertempuran itu, pejuang rakyat bersama tentara Indonesia berjuang
bahu-membahu menghadang pasukan Belanda, meskipun harus dibayar dengan banyak
korban. Monumen Tempuran di Bedeng 12A dan Monumen Mardirahayu di Gantimulyo
hingga kini menjadi penanda memori kolektif atas keberanian para pejuang.
“Kita sering lupa bahwa desa-desa di sekitar kita adalah
saksi perjuangan revolusi fisik. Ada darah, air mata, dan pengorbanan yang
membekas di tanah ini. Karena itu, mengenal sejarah lokal bukan hanya soal
romantisme masa lalu, tetapi juga kewajiban moral agar generasi muda tidak
tercerabut dari akarnya,” jelas Utara.
Dengan penuh semangat, ia menutup paparannya dengan
ajakan kepada generasi muda untuk menjadikan sejarah lokal sebagai bagian dari
identitas diri.
Selanjutnya Dalam kesaksiannya, Djimin
menceritakan langsung bagaimana masyarakat Rejoagung pada masa revolusi fisik
ikut terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ia mengisahkan
bagaimana warga desa mendukung para pejuang dengan logistik, perlindungan,
hingga ikut dalam barisan perlawanan rakyat.
“Dulu, kami hidup dalam keadaan serba sulit, tetapi
semangat untuk mempertahankan kemerdekaan lebih besar daripada rasa takut.
Anak-anak muda, orang tua, bahkan para ibu, semua ikut berperan. Kami menjaga
desa agar tidak jatuh ke tangan musuh, dan apa yang kami lakukan waktu itu
bukan hanya untuk Lampung, tetapi untuk Indonesia,” kenangnya
penuh emosi.
Djimin juga menekankan pentingnya generasi muda untuk
mengetahui kisah perjuangan di desanya. “Sejarah itu jangan dilupakan. Kalau
kalian ingin bangsa ini kuat, ingatlah bagaimana orang-orang dulu berjuang
dengan penuh pengorbanan. Jangan hanya baca buku, dengarkan juga cerita dari
kami yang mengalami langsung,” tambahnya.
Menutup kesaksiannya, Djimin berpesan agar generasi muda
tidak melupakan sejarah perjuangan yang telah dilalui oleh para pendahulu.
“Kami yang tua hanya bisa bercerita, tapi kalianlah yang
muda harus melanjutkan. Jangan pernah lupakan darah dan air mata yang sudah
tertumpah di tanah ini demi kemerdekaan. Rawatlah sejarah, cintai tanah air,
dan teruskan perjuangan dengan cara kalian hari ini,” tuturnya penuh haru.
Selain itu, hadir pula Setyo Widodo, pegiat sejarah lokal, Dalam penyampaiannya, ia menekankan pentingnya melihat peristiwa revolusi fisik tidak hanya dari sudut pandang pertempuran, tetapi juga dari aspek sosial, budaya, dan peran masyarakat sipil.
“Kalau kita bicara revolusi fisik, jangan hanya
bayangkan senjata dan medan tempur. Ada peran ibu-ibu yang menyiapkan logistik,
ada anak-anak muda yang menjadi kurir informasi, ada tokoh masyarakat yang
menjaga semangat rakyat. Semua itu adalah bagian dari perjuangan, meski tidak
tercatat secara resmi dalam buku sejarah,” jelasnya.
Setyo juga menambahkan bahwa ingatan sejarah seperti
yang disampaikan oleh Djimin harus diperkaya dengan penelitian akademis
sebagaimana diulas oleh Utara. Menurutnya, kolaborasi antara saksi sejarah,
akademisi, dan pegiat lokal adalah kunci untuk menghadirkan narasi sejarah yang
utuh. “Dengan begitu, sejarah lokal bukan lagi cerita pinggiran, melainkan
bagian integral dari sejarah bangsa,” tambahnya.
Ia menutup pemaparannya dengan pesan agar masyarakat
Rejoagung terus menjaga museum desa sebagai ruang belajar bersama.
“Museum ini harus jadi pusat hidup, bukan sekadar
bangunan penyimpan benda lama. Dari sini kita bisa belajar, berdiskusi, dan
menanamkan kebanggaan pada anak-anak kita bahwa desa kita punya jejak penting
dalam perjalanan bangsa,” pungkasnya.
Acara ini diikuti oleh warga Desa Rejoagung, pegiat
sejarah, akademisi, mahasiswa, serta siswa SMA Muhammadiyah Al Ghifari
Batanghari dan SMA Negeri 1 Batanghari. Antusiasme peserta terlihat dari
banyaknya pertanyaan dan interaksi dengan para narasumber. Kehadiran generasi
muda ini memberi harapan bahwa sejarah lokal tidak akan hilang, melainkan terus
hidup melalui narasi yang mereka bawa.
Dengan adanya kegiatan ini, Museum Desa Rejoagung tidak
hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai ruang dialog lintas
generasi, tempat sejarah dihidupkan kembali melalui suara saksi dan
analisis akademis. Pekan Museum pun semakin menegaskan perannya sebagai sarana
pendidikan publik yang menyatukan masa lalu dengan masa kini untuk masa depan
yang lebih berakar pada identitas budaya.
Aditya