Lampung Timur, 21 September 2025 –
Rangkaian kegiatan Museum Week & Cultural Exhibition: Pekan Museum Desa
Rejoagung terus berlanjut dengan menghadirkan agenda Diskusi Sejarah
Lokal bertema “Kolonisasi Sukadana”. Acara ini berlangsung di Museum
Desa Rejoagung, Kecamatan Batanghari, Lampung Timur, pada Minggu, 21 September
2025, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.
Diskusi menghadirkan dua narasumber, yakni Kian
Amboro, M.Pd. (Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro) dan
Pandu Pinuju W, M.Pd. (Pegiat Trimoredjo Heritage), dengan Barnas
Rasmana, S.Pd. bertindak sebagai moderator.
Sebagai penyelenggara kegiatan, Adi Setiawan selaku
penerima hibah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) dari Kementerian Kebudayaan
melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VII Bengkulu dan Lampung
menyampaikan bahwa diskusi ini bertujuan untuk menggali kembali memori kolektif
masyarakat Lampung, khususnya terkait peristiwa kolonisasi yang membentuk wajah
sosial budaya wilayah Sukadana dan sekitarnya.
Dalam paparannya, Kian Amboro, M.Pd. menegaskan bahwa
Kolonisasi Sukadana merupakan salah satu bab penting dalam sejarah sosial
Lampung, khususnya pada masa kolonial Belanda. Ia menjelaskan bahwa kolonisasi
ini bukan sekadar proses pemindahan penduduk, melainkan juga bentuk peradaban
sosial dan politik.
“Kolonisasi yang dilakukan Belanda di Sukadana pada awal
abad ke-20 membawa konsekuensi luas. Dari satu sisi, ia membuka lahan pertanian
baru dan mempercepat pertumbuhan ekonomi kolonial. Namun di sisi lain, ia juga
mengubah struktur masyarakat, pola pemukiman, dan bahkan identitas kultural
masyarakat yang sebelumnya homogen menjadi lebih majemuk,” jelas Kian.
Kian juga menyoroti bagaimana kolonisasi menciptakan
dampak jangka panjang pada tata ruang desa dan dinamika sosial di Lampung
Timur. Pola pemukiman berbasis bedeng atau blok yang kita temui di beberapa
desa merupakan warisan dari masa kolonisasi tersebut. Lebih jauh, pertemuan
antarbudaya akibat arus migrasi membuat Lampung menjadi ruang interaksi
multikultural.
“Kolonisasi tidak hanya meninggalkan bekas pada tanah,
tapi juga pada cara kita berinteraksi, berkomunikasi, hingga memahami diri
sebagai bagian dari masyarakat Lampung. Karena itu, penting bagi kita untuk
melihat kolonisasi tidak hanya sebagai kebijakan kolonial, tetapi juga sebagai
faktor pembentuk identitas daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Pandu Pinuju W, M.Pd., pegiat sejarah
lokal Trimoredjo Heritage, melengkapi paparan Kian Amboro dengan menyoroti
jejak kolonisasi yang masih bisa ditemukan hingga kini di wilayah sekitar,
termasuk di Desa Rejoagung. Menurutnya, desa ini adalah contoh nyata bagaimana
warisan kolonisasi membentuk pola ruang dan kehidupan sosial masyarakat.
“Kalau kita perhatikan, tata letak pemukiman di
Rejoagung masih menunjukkan pola kolonisasi, yaitu rumah-rumah yang berjajar
rapi dengan blok-blok tertentu. Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil
dari rekayasa sosial kolonial yang dulu pernah diterapkan di Sukadana,” jelas
Pandu.
Ia menambahkan bahwa selain tata ruang, kisah kolonisasi
juga hidup dalam memori kolektif masyarakat Rejoagung. Banyak cerita lisan yang
diwariskan dari generasi ke generasi mengenai kedatangan para pendatang, proses
pembukaan lahan, hingga perjumpaan antarbudaya yang membentuk identitas
masyarakat setempat.
Lebih jauh, Pandu menegaskan bahwa Rejoagung juga
menyimpan babak penting dalam sejarah pasca-kemerdekaan. Desa ini menjadi salah
satu titik peristiwa revolusi fisik di Lampung Timur, ketika rakyat bersama
laskar dan tentara berjuang mempertahankan kemerdekaan dari upaya agresi
Belanda.
“Rejoagung tidak hanya saksi kolonisasi, tetapi juga
saksi perjuangan revolusi fisik. Tanah ini pernah menjadi medan perlawanan,
tempat darah dan semangat kemerdekaan ditumpahkan. Maka, museum desa yang
berdiri di sini bukan sekadar ruang pamer, melainkan monumen hidup yang
merangkum perjalanan sejarah panjang masyarakatnya,” pungkas Pandu.
Diskusi berjalan interaktif, dengan peserta yang terdiri
dari guru sejarah, mahasiswa, pegiat budaya, serta masyarakat Desa Rejoagung.
Para peserta aktif bertanya seputar relevansi sejarah kolonisasi dengan konteks
sosial budaya saat ini, serta bagaimana museum desa dapat menjadi ruang belajar
bersama.
Diskusi ini tidak hanya menghadirkan narasumber, tetapi
juga melibatkan partisipasi aktif dari berbagai kalangan. Hadir sebagai peserta
antara lain mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro,
mahasiswa Tadris IPS UIN Jurai Siwo Lampung, para akademisi dan pegiat sejarah,
guru-guru sejarah, serta masyarakat umum dari Desa Rejoagung dan sekitarnya.
Kehadiran lintas unsur ini memperkaya jalannya diskusi.
Mahasiswa memberikan perspektif segar dan penuh rasa ingin tahu, guru sejarah
menekankan pentingnya materi ini untuk dimasukkan ke dalam pembelajaran di
kelas, sementara akademisi dan pegiat sejarah turut memberikan analisis
mendalam terkait relevansi kolonisasi dengan dinamika sosial saat ini. Tidak
kalah penting, masyarakat desa ikut menyumbangkan cerita lisan yang mereka
warisi, sehingga diskusi benar-benar menghadirkan perpaduan antara pengetahuan
akademis, pengalaman pengajar, dan memori kolektif warga lokal.
Melalui kegiatan ini, Pekan Museum Desa Rejoagung sekali
lagi menegaskan perannya sebagai ruang partisipatif yang menghadirkan sejarah
lokal ke tengah masyarakat. Sejarah kolonisasi Sukadana tidak hanya menjadi
bahan kajian akademis, tetapi juga sumber inspirasi untuk memahami perjalanan
identitas masyarakat Lampung.
Aditya
